Menjadi seorang mahasiswa adalah sebuah impian dari sebagian pemuda Indonesia. Menikmati lanjutan pendidikan tentu adalah hal yang sangat menyenangkan bagi mereka yang memang memiliki bakat di bidang tersebut.

Sebagian pemuda ada yang lebih memilih untuk langsung terjun ke dunia pekerjaan, karena merasa kuliah itu buang-buang waktu dan uang. Sementara substansinya hampir sama, yaitu setelah tamat harus melamar atau mencari pekerjaan lagi. 

Sebagian memiliki mimpi untuk melanjut kuliah dan merasakan jadi seorang mahasiswa. Akan tetapi, terkendala dalam biaya pendidikan yang mahal. 

Tentu bukan suatu rahasia lagi bahwa biaya untuk kuliah memang mahal. Apalagi sekarang Perguruan Tinggi Negeri sama Perguruan Tinggi Swasta sama saja. Sama-sama menerapkan pendidikan mahal.

Melanjut kuliah dan menjadi seorang sarjana memang bukanlah suatu jaminan pasti untuk mendapat sebuah pekerjaan. Apalagi sekarang ini, menjadi seorang sarjana bukanlah hal yang sulit, asalkan kita memiliki uang. Begitulah pandangan masyarakat yang sudah paham akan hal tersebut.

Indonesia juga belum memiliki kampus atau universitas yang dapat menjamin mahasiswanya ketika sudah lulus kuliah dapat langsung di terima bekerja di sebuah instansi atau perusahaan. Kecuali sekolah kedinasan. 

Ditambah lagi angka pengangguran dari lulusan kampus dalam hal ini sarjana, terus mengalami peningkatan. Fakta ini semakin membuat gelar Sarjana kurang memiliki marwah di dalam masayarakat

Tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan universitas dengan rentang pendidikan S1 hingga S3 yang mencapai 737.000 orang. Angka yang cukup mengkhawatirkan bukan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2019, jumlah pengangguran lulusan universitas mencapai 5,67 persen dari total angkatan kerja sekitar 13 juta orang. 

Meski persentasenya turun dibandingkan Agustus 2018 yang 5,89 persen, angkanya di atas rata-rata pengangguran nasional yang sebesar 5,28 persen. Kenyataan ini tentu sangat menyakitkan bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Bisa kita bayangkan berapa banyak biaya yang dihabiskan oleh seorang mahasiswa mulai dari masuk kuliah sampai wisuda, tapi setelah lulus tetap jadi seorang yang pengangguran. 

Penyebab terjadinya sarjana pengangguran ini bisa disebabkan oleh banyak faktor. Berkurangnya lapangan pekerjaan, tidak sesuainya kompetensi yang dimiliki dengan kebutuhan dunia kerja dan kurangnya kreativitas lulusan sarjana Indonesia bisa jadi penyebab utamanya.

Apa Itu Kreativitas?

Secara garis besar kreativitas adalah merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru untuk memberi ide dalam memecahkan masalah atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan yang baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya. 

Kreativitas menyangkut cara berpikir yang didalamnya mengandung inovasi-inovasi ataupun ide-ide bersifat solusi yang implementatif sebagai hasil dari proses baik yang belajar mapun tidak belajar.

Kreativitas dapat dimiliki oleh siapa saja. Baik itu seorang mahasiswa, maupun seorang yang bukan mahasiswa. Kretivitas dilahirkan dari sebuah pemikiran. Kemudian di eksekusi oleh sebuah tindakan dan akhirnya menghasilkan sebuah solusi.

Kurangannya kreativitas dapat menyebabkan kedangkalan berpikir dan stagnan. Seperti negara Cina yang masyarakatnya memiliki tingkat kreativitas yang tinggi, terbukti dapat membuat Cina menjadi sebuah negara yang maju seperti sekarang ini. Walapun sedang dilanda masalah.

Kurangnya kreativitas inilah yang sedang menjamur ke mahasiswa-mahasiswa Indonesia. Menggerogoti pemikiran akdemisi-akademisi muda bangsa ini. 

Dampak dari kurangnya kreativitas ini memaksa lulusan universitas hanya bisa sebagai job seeker. Permasalahannya pun berlanjut. Minimnya lapangan pekerjaan, sementara pencari kerja sudah over kapasitas maka seleksi alam pun terjadi yang memaksa harus ada yang dikorbankan (pengangguran). 

Sebagai seorang mahasiswa sudah seharusnya kita sadar dengan kondisi yang tidak menguntungkan ini. Indonesia membutuhkan agen-agen perubah yang benar-benar bisa membwa perubahan di tengah-tengah masyarakat.

Pemikiran tanpa tindakan hanyalah omong-kosong dan tindakan tanpa pemikiran adalah kecerobohan. Indonesia membutuhkan mahasiswa-mahasiswa yang memiliki pemikiran kreatif dan pembawa solusi.

Layaknya 'Parit' dalam dunia Pertanian yang menjadi wadah aliran air untuk memenuhi kebutuhan tanaman, sehingga tanaman tersebut bisa tumbuh dan berproduksi. 

Seperti itulah kriteria mahasiswa yang di butuhkan Indonesia sekarang ini. Mahasiswa yang menjadi wadah aliran inovasi, ide, dan perubahan yang berguna ke masyarakat luas. Sehingga masyarakat dapat merasakan perubahan tersebut secara langsung.

Bukan hanya mahasiswa yang demo sambil berorasi dengan yel-yel 'Hidup rakyat Indonesia' tapi habis itu duduk dikantin, sambil main game. Atau mahasiswa yang sibuk mengkritik kebijakan pemerintah, tetapi untuk bersalaman dengan masyarakat marginal saja mereka enggan.

Sudah saatnya merubah mindset bahwa masayarakat itu perlu di bela dengan turun langsung ke kehidupan mereka, merasakan makanan yang mereka makan, dan memberikan mereka solusi dan ide yang mahasiswa punya. 

Bukan hanya mengumpulkan massa, lalu demo, yang akhirnya justru mengganggu dan merugikan Indonesia, terutama rakyat yang dibela tersebut.

Dengan demikian, akan lahir sarjana-sarjana 'parit' yang membawa perubahan, inovasi, dan ide-ide cemerlang untuk diterapkan di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Akan lahir job creator muda yang membuka lapangan pekerjaan. Sehingga kesejahteraan dan kemajuan Indonesia bisa di wujudkan. Bukan lagi hanya sebuah angan-angan.

Jadilah sarjana 'parit'. Sarjana yang benar-benar berguna bagi masyarakat.