Berbicara mengenai sarjana, kita tentu sudah tak asing lagi dengan yang namanya wisuda atau lebih tepatnya legitimasi seorang mahasiswa menjadi sarjana. Hal itu merupakan hari yang amat penting dan ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa, mengingat para cendikiawan akademis lahir dan bertumpu pada tanah air tercinta.

Perkuliahan yang melelahkan, keringat yang bercucuran, dan pengorbanan hidup terbayar dalam satu hari, namun satu hari itu menjadi tanggung jawab untuk seumur hidup bagi para sarjana.

Bayangan masa depan anak-anak bangsa, sistem pemerintahan, maupun kepemimpinan negara ada di tangan mereka. Tak dapat dipungkiri, simbolistik seorang mahasiswa dengan perubahan signifikan menjadi sarjana adalah agent of change, agent of control, agent of social, dan agent of religious. Keliru jika semua itu terlepas setelah kelulusan kuliah.

Menjadi sarjana bukan hal mudah, mengingat begitu kompleksnya hiruk-pikuk kehidupan, terutama kehidupan dan nasib Negara Indonesia. Tantangan global semakin melangit, semakin menumpuk, dan semakin cerdas.

Tapi sarjana tentu harus lebih cerdas menanggulangi semua tantangan tersebut. Adanya tantangan bukan untuk dihindari apalagi lari terbirit-birit ketika baru mendengarnya saja, siapa lagi yang menyelesaikan kalau bukan para sarjana?

Kisruh pergulatan budaya masyarakat global dan kejahatan sosial bullying telah mematikan mental seseorang, lebih banyak menggunakan kekuatan untuk menyelesaikan masalah daripada memakai otak, lebih banyak mengolok-olok daripada produktif, terlalu takut terjun ke lapangan untuk menghadang sistem yang keliru dan menyesatkan bangsa.

Perkembangan zaman memang tak terhindarkan, apalagi jika berurusan dengan kultur dan budaya. Tak perlu heran lagi, sudah barang tentu semakin aneh. Menurut pakar ekonomi dari National University of Singapore Profesor Aris Ananta, generasi muda saat ini manja dan terlalu bergantung pada orangtua dalam mencukupi kebutuhan hidupnya.

Dengan kata lain, jaminan kelangsungan hidup ini membuat sebagian besar dari mereka tidak ada masalah ketika tidak bekerja. Akibatnya, pengangguran terdidik merajalela di mana-mana.

Masyarakat sendiri sebenarnya memiliki dosa terkait pengangguran terdidik ini. sebab, masyarakat terlalu menghargai jenis pekerjaan tertentu, semisal pegawai negeri atau pegawai swasta. Masyarakat mendefinisikan pekerjaan sebagai seseorang yang berangkat pagi-pagi, memakai setelan rapi, sepatu mengkilat, kemudian pulang pada sore hari.

Dari sini degradasi mental mulai memuncak. Menjadi pengangguran dan tak melakukan apa-apa adalah hal terbaik. Hal ini akan dijelaskan lebih rinci mengingat memperbincangkan persoalan sarjana merupakan suatu vitalitas.

Pemerintah seharusnya ketakutan melihat para sarjana dengan tingkat pendidikan dan intelektual yang mandul. Sistem pendidikan sudah bagus, mahasiswa sudah banyak, lahan sudah besar, fasilitas nomer satu, akreditasi terfavorit, lalu kenapa masih ada pengangguran di tingkat sarjana? Sistemnya yang salah atau mahasiswanya yang salah?

Tak masuk akal jika menyalahkan seorang mahasiswa. Tak etis sekali mengklaim mahasiswa sebagai pihak yang disalahkan. Dan tak bijak sekali jika kita menyalahkan sistem.

Mahasiswa ada bukan untuk dijadikan budak sistemik. Tak boleh seorang dosen memaksakan seorang mahasiswa memilih ekspektasinya. Biarkan mereka berekspresi sebebas mungkin. Apalagi bagi orangtua, bukankah mereka ladang bagi seorang anak menanami dan menyuburkan supaya bisa dipanen di masa depan?

Tak bijak jika menyalahkan sistem. Kita tahu bahwa masa ospek adalah kian pertama seorang mahasiswa dikenalkan dengan Tridharma Perguruaan Tinggi yang isinya, pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, pengabdian kepada masyarakat.

Secara garis besar, seorang sarjana tak hanya mengimani dan mengabdi pada Tridharma tersebut. Namun, secara lebih riskan, seorang sarjana harus menghayati dan menghidupkan Tridharma tersebut.

Dalam kaitanya seperti topi toga saat wisuda, tak semua orang tahu akan filosofi topi toga. Orang hanya tahu itu merupakan simbol kelulusan seorang mahasiswa menjadi sarjana. Orang tak banyak tahu kenapa tali topi toga yang semula di sebelah kiri kemudian dipindahkan oleh Bapak Rektor ke sebelah kanan.

Hal ini memaknai filosofis tertentu seorang mahasiswa dalam mencari pekerjaan, menyelesaikan masalah, menjawab tantangan global. Tak hanya mengandalkan otak kiri yang fokus pada logika-matematis, tapi harus mengikut-sertakan otak bagian kanan sebagai pemicu kreativitas-imajinatif.

Barangkali ini yang tak diajarkan ketika di bangku sekolah. Maka dari sinilah kita berangkat. Filosofis topi toga itulah simbolik, tak hanya embel-embel, tak hanya mengandalkan teori, tapi mengimplementasikan secara kreatif agar setiap orang mempunyai pergerakan baru yang lebih inovatif.

Menjadi sarjana tak mudah dengan hanya lurus saja ke bagian yang menjadi tujuan akhir. Perlu jalan berbelok, tanjakan dan turunan, terjal dan pasti berbahaya.

Semua ini bukan untuk menakut-nakuti apalagi sampai bertujuan menjerumuskan mental seorang sarjana. Kemewahan dan kemanjaan yang dihadirkan arus global membuat kita lama terlelap dalam kasur empuknya, sehingga lupa akan tugas sebenarnya seorang sarjana.

Mata kita buta oleh rezim-rezim elite global. Kita percaya saja apa kata mereka. Mereka mengatakan harus jadi astronot, kita jadi astronot. Mereka memerintahkan kuliah untuk bekerja, kita kuliah untuk bekerja. Lalu untuk apa kita bayar mahal-mahal kalau ekspresi kita masih dibatasi? Dari situlah permualaan masalah.

Kembali pada definisi seorang mahasiswa sebagai agen perubahan, agen sosial, dll, hal itu lewat setiap saat di depan kita sehingga masuk di benak kita. Tapi kenapa kita masih saja dijadikan budak oleh tantangan global? Jangan pernah mau kita dibohongi. Jika mereka pintar, kita lebih pintar lagi. Kita merupakan agen perubahan sosial.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah nasib yang ada pada diri mereka sendiri” (QS Ar-Ra’du:11).

Sudah 72 Tahun Indonesia merdeka, melahirkan banyak cendekiawan. Terpaan masalah dan tantangan sudah menjadi kawan setia. Tentu tak sedikit pula prestasi yang telah dicapai. Kelahiran para sarjana di bidang intelektual sangat banyak. Mereka adalah kader yang dibina oleh para cendikiawan bangsa.