A Copy Of My Mind, film yang disutradarai Joko Anwar, menceritakan hubungan cinta dua orang biasa, dua orang yang tidak berasal dari kalangan elit, Sari (Tara Basro) dan Alek (Chico Jericho). Sari adalah pegawai salon spesialis perawatan wajah sedangkan Alek adalah seorang penerjemah DVD bajakan yang hasil terjemahannya sangat buruk. Sari yang mempunyai hobi menonton DVD suatu saat  tertangkap basah oleh Alek mencuri video porno. Mereka lalu menjalin hubungan.

Sari yang pindah kerja ke salon kelas atas, suatu hari ditugaskan merawat wajah seorang tahanan perempuan yang mampu mendapatkan ruangan mewah di dalam rumah tahanan. Di sinilah alur cerita mulai menegangkan karena Sari, dan nanti akhirnya Alek, terjerat masalah terkait barang bukti kasus korupsi. Bagaimana akhir nasib Sari dan Alek? Tunggu saja rilisnya bulan Februari 2016.

Beruntung sekali bagi anda yang mendapat kesempatan menonton versi utuh film ini, karena ada beberapa adegan yang hanya dapat dinikmati oleh kepala-kepala berpikiran terbuka. Kepala yang tidak melihat tubuh perempuan cuma sebagai obyek seks.

Chemistry Tara Basro dan Chico Jericho tampak mengalir dan sinematografinya pun memang bagus. Masuk akal bila Tara Basro memenangkan Piala Citra pada Festival Film Indonesia 2015 untuk kategori aktris terbaik dan A Copy Of My Mind masuk nominasi pengarah sinematografi terbaik. Sementara Joko Anwar sendiri memenangkan penghargaan sutradara terbaik.

Sutradara Kala (2007) itu memotret, atau mungkin memang menyindir realita sosial dalam keseharian Indonesia di film itu. Adegan seorang pegawai salon mendatangi toko elektronik lalu menikmati uji coba gratis menonton televisi ukuran home theatre seharga puluhan juta rupiah seakan mendeskripsikan kesenjangan sosial di Indonesia yang parah.

Menurut Laporan Bank Dunia awal Desember ini, Indonesia  mengalami pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam 15 tahun terakhir. Pertumbuhan tersebut mampu mengurangi kemiskinan dan memperbesar kelas menengah. Tapi, manfaat itu masih hanya dirasakan 20% penduduk terkaya sedangkan 80%, atau lebih dari 205 juta orang, rentan merasa tertinggal.

Scene pertokoan yang menjual DVD bajakan serta keseharian Alek bekerja menerjemahkan film bajakan memang menggambarkan maraknya pembajakan karya seni di sini. Permasalahan klasik dan belum terselesaikan yang merenggut hasrat para pekerja seni memproduksi karya seni, khususnya film dan musik.

Adegan tahanan perempuan penghuni ruangan mewah dan adegan rekaman video anggota parlemen sedang melakukan negosiasi “apel” dengan seorang pengusaha tentu sangat familiar dalam berita-berita di koran dan TV beberapa tahun belakangan ini.

Para followers Joko Anwar di twitter tentu mengetahui bahwa sang sutradara memang memiliki kesadaran akan isu-isu sosial dan politik yang cukup tinggi. Penonton dapat menikmati bagaimana kepekaan sutradara serial televisi Halfworlds (2015) itu terhadap isu-isu tersebut yang diterjemahkannya ke dalam film.

Tentu saja film ini berkisah tentang hubungan cinta Sari dan Alek bukan film politik namun jika kita memperhatikan beberapa adegan A Copy Of My Mind akan sangat terasa kesan Joko Anwar yang menampilkan Indonesia hari-hari ini apa adanya dan mengingatkan kita, secara implisit, pada masalah-masalah negeri ini tanpa ada kritik politik yang disampaikan dengan terbuka. Sehingga film ini tetap dapat dinikmati sebagai sebuah film bukan sebuah talk show politik.

Kalaupun ada yang kurang dari film ini, terlihat pada adegan-adegan penutup cerita yang agak kurang jelas. Tapi dengan catatan berhasil masuk festival film internasional bergengsi seperti Venice International Film Festival, Toronto International Film Festival, dan Busan Internasional Film Festival serta meraih 2 Piala Citra dan sisanya 5 nominasi Festival Film Indonesia untuk  Penata Musik Terbaik (Rooftop Sound), Penata Suara Terbaik (Khikmawan Santosa), Pengarah Sinematografi Terbaik (Ical Tanjung), Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Paul Agusta), dan Film Terbaik tentu A Copy Of My Mind layak ditonton.

Beberapa waktu lalu saat saya membaca liputan CNN tentang Nollywood, sebutan untuk industri perfilman Nigeria. Nollywood telah mempekerjakan 1 juta orang, menghasilkan 600 juta dollar setiap tahun dan memproduksi 500 film per minggu (terbanyak kedua setelah Bollywood). Membaca berita tersebut, rasanya ingin sekali industri perfilman Indonesia setidaknya menyamai Nollywood jika memang bermimpi menyamai Hollywood masih terlalu muluk.

Maka, setelah selesai menonton film ini seminggu lalu saya menyampaikan doa ke Joko Anwar, “semoga filmnya laku di pasar karena kalau dari segi kualitas, yang dikonfirmasi oleh deretan nominasi penghargaan lokal dan apresiasi internasional, film ini sudah bisa dikatakan paripurna.”