Dalam percaturan politik, setiap pelaku punya cara untuk tidak membikin jarak dengan rakyat. Strategi itu diproduksi berulang-ulang sehingga mau tidak mau melekat dalam benak masyarakat. Salah satunya terejawantah dalam komponen interpersonal.

Interpersonal berkaitan dengan hubungan antarpribadi. Penutur dan petutur dalam pola komunikasi ini tampak akrab, melalui sebuah peranti, sekalipun berbeda status sosial.

Menurut Halliday (1978), komponen interpersonal merujuk pada kekuatan makna penutur sebagai ”penyelundup yang ikut campur”. Menciptakan situasi dan kondisi informal merupakan salah satu cara ”memangkas” jarak itu.

Sapaan Kekerabatan

Soekarno, Mohammad Hatta, Soetomo, dan Sutan Sjahrir adalah sederet nama yang menggunakan sapaan kekerabatan bung sehingga kita kenal dengan sebutan Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, dan Bung Sjahrir. Lema bung dimaknai sebagai kata sapaan akrab kepada seorang laki-laki, bisa pula diartikan abang.

Atribut itu telah melekat dan mendarah daging sehingga sampai sekarang kita lebih terbiasa dan enak untuk menyebut, sebatas contoh, Bung Karno dan Bung Hatta.

Sayang seribu sayang, seperti kata Syafii Maarif, yang biasa menyandang sapaan ”buya”, kata bung kian menghilang dari belantika kosakata panggilan para elite nasional. Soeharto, kemudian Habibie, lebih akrab dipanggil ”pak”: Pak Harto dan Pak Habibie. Apakah atribut ”pak” ini seegaliter ”bung”? Bung adalah abang, sedangkan pak (kependekan bapak) merupakan orang tua, ayah.

Itu seirama dengan mbak dan bu. Megawati Soekarnoputri menggunakan mbak sehingga dulu lebih sering dipanggil Mbak Mega. Putri semata wayangnya, Puan Maharani, rasanya juga jarang dipanggil Bu Puan, melainkan Mbak Puan. Berbeda halnya dengan Tri Rismaharini dan Khofifah Indar Parawansa, elite politik perempuan lain, yang lazim kita panggil Bu Risma dan Bu Khofifah.

Namun, khusus Megawati, sapaan Mbak Mega tampaknya sudah tertulis dalam sejarah. Saya cuplikkan yang tercantum di Wikipedia:

Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri atau umumnya lebih dikenal sebagai Megawati Soekarnoputri atau biasa disapa dengan panggilan ”Mbak Mega” (lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947; umur 73 tahun) adalah Presiden Indonesia yang kelima yang menjabat sejak 23 Juli 2001 sampai 20 Oktober 2004.

Sapaan-sapaan guna menciptakan jarak yang ideal antara tokoh (bukan hanya tokoh politik, melainkan juga tokoh bidang lainnya) dan konstituen dapat pula tergambar dalam atribut kekerabatan gus, cak, bang, mas, pakde, dan belakangan kang. Mereka menggali-gali sebutan yang cocok untuk dirinya. Bisa untuk melahirkan ”nilai jual”, bisa pula supaya lebih gampang diingat oleh pengikutnya.

Dua tokoh beda generasi, Abdurrahman Wahid dan Saifullah Yusuf, menggunakan titel ”gus” sehingga akrab dipanggil Gus Dur dan Gus Ipul. Gus Dur bahkan lebih dipilih untuk dijadikan wadah pengikut presiden keempat Indonesia itu lewat nama Gusdurian, bukan Wahidian, meskipun juga ada The Wahid Institute.

Nama akrabnya pula yang dipilih untuk dijadikan judul buku yang terbit awal tahun 2020 ini: Menjerat Gus Dur. Saifullah Yusuf pun ”membebek” pamannya itu untuk menyandang gelar ”gus” sehingga akrab di telinga nama Gus Ipul. Keduanya memang berasal dari kalangan santri.

Mantan mitra Gus Ipul di Jawa Timur, Soekarwo, lebih memilih panggilan yang rasanya waktu itu kurang populis. Ia memilih pakde, jadi Pakde Karwo. Jadilah Pakde Karwo dan Gus Ipul berhasil merebut hati masyarakat Jawa Timur selama dua periode.

Pakde yang berasal dari bahasa Jawa terasa lebih akrab ketimbang, misalnya, paman dalam bahasa Indonesia. Kita mengenal pakde (bapak gede), bude (ibu gede), paklik (bapak cilik), dan bulik (ibu cilik). Kini, Pakde Karwo –juga Gus Ipul– pun sudah menjadi nama yang akrab di telinga masyarakat Indonesia.

Bang, mas, dan cak ada dalam diri Bang Yos (mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso), Mas Amien (mantan ketua MPR dan pahlawan revolusi Amien Rais), dan Cak Nur (Nurcholish Madjid, cendekiawan muslim Indonesia) maupun Cak Nun (Emha Ainun Nadjib, budayawan Indonesia). Ketua Umum PKB juga melabeli diri sebagai Cak Imin.

Belakangan, sapaan menggunakan atribut kekerabatan itu bertambah satu lagi, yaitu kang. Ridwan Kamil berhasil merebut narasi ini sehingga dengan mantap ”menjual diri” sebagai Kang Emil.

Kang dalam konteks itu merupakan kependekan dari akang dalam bahasa Sunda. Sementara itu, di suku Jawa narasi atribut kang belum menyodok meskipun bahasa ini mengenal kakang, juga bermakna kakak laki-laki.

Sapaan Nama Alias

Cara elite merebut hati konstituen sebetulnya tidak melulu lewat sapaan kekerabatan. Ada sapaan lain yang juga tak kalah ”menjual”.

SBY-JK, tampaknya, menjadi generasi pemula yang membikin nama alias untuk Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Joko Widodo, terutama kala bertarung dalam pilgub DKI Jakarta, juga menjadikan nama alias Jokowi untuk merebut narasi dan hati rakyat.

Agus Harimurti Yudhoyono menapaktilasi ayahnya, SBY, untuk menyederhanakan namanya menjadi AHY. Penyederhanaan itu memang diperlukan bukan hanya karena nama aslinya ”kurang menjual”, melainkan juga pelafalannya lebih mudah.

Itu pula yang dilakukan Ketua MPR Bambang Soesatyo yang memasyarakatkan namanya menjadi Bamsoet dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan yang mengakronimkan diri sebagai Zulhas. Nama-nama yang barangkali lebih menjual daripada Bambang, Soesatyo, Zulkifli, atau Hasan.

Kita tunggu modus elite-elite lainnya untuk dekat dan merebut hati rakyat. Apakah akan latah mengikuti para pendahulu mereka atau membiarkan saja dan lebih nyaman dengan nama asalnya. Tanpa sapaan kekerabatan ataupun nama alias.