65620_53895.jpg
paradigmabangsa.com
Budaya · 4 menit baca

Santri, Sami’na wa Atho’na, dan Hoaks

22 Oktober 2015 telah ditetapkan sebagai hari santri nasional. Dengan segala perjuangan dan alasan mengapa ditetapkan hari itu sebagai hari santri nasional. Sejak pra-kemerdekaan, santri telah berkorban banyak bagi bangsa. Selain karena mayoritas, juga tentu tidak melupakan bagi minoritas yang sama-sama memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.           

Santri umumnya disebut sebagai pelajar yang sedang/pernah menimba ilmu di pondok pesantren. Ada juga yang menyebutkan bahwa siapa pun yang berakhlak seperti santri yang sesungguhnya, maka ia juga disebut sebagai santri. Namun, di sini kita tidak akan membahas lebih mengenai definisi santri, beragam definisi yang intinya semua merujuk terhadap orang yang baik.

Sejak dahulu, santri, selain dikenal sebagai ketaatan dengan kiainya, juga dikenal akhlaknya dalam masyarakat umum yang sangat mengayomi. Ajaran sami’na wa atho’na yang berarti kami mendengar dan kami menaatinya kuat sekali digenggam, selagi tidak bertentangan dengan ajaran syariat Islam, perintah orangtua wajib ditaati, apa pun itu. Istilah tersebut sebenarnya diperuntukkan bagi seluruh pelajar, akan tetapi lebih populer dalam kalangan pondok pesantren.

Tidak heran juga bila banyak anak yang berandalan kecilnya, tidak pernah nurut orangtua, begitu dimasukkan ke dalam dunia pesantren, kelak keluar berubah 180 derajat menjadi berakhlak mulia, walaupun terkadang sebejat-bejatnya santri apabila sudah berurusan dengan orangtua sudah tidak bisa berkutik lagi. Maka dari itu disebutkan bahwa pesantren bukanlah tempatnya orang baik semua, walau terlihat santrinya terkesan berengsek-berengsek, tetapi pesantren justru tempatnya orang ingin menjadi baik.

Hari ini tren pesantren dengan perkembangan dunia pendidikan dan teknologi terkesan islami sekali dan rendah bagi masyarakat modern. Siapa yang masuk pesantren biasanya dikesankan karena anak itu bodoh tidak mampu masuk sekolah negeri/swasta yang berkualitas, apalagi masih banyak pesantren yang masih terlalu mengedepankan pendidikan pesantrennya dan pendidikan formal hanya sebatas ijazah, yang penting lulus.  

Padahal tidak begitu faktanya. Ada juga yang memang karena keluarga besarnya mondok semua, maka ia memilih untuk mondok juga seperti keluarganya agar mendapat pengalaman yang tidak didapatkan oleh sekolah umum dan hidup prihatin. Walaupun juga ada demikian karena tidak ada pilihan lain selain mondok.

Dengan berkembangnya zaman hari ini yang begitu pesat, pesantren harus dapat menyesuaikan zaman dengan tidak hanya mengedepankan pendidikan diniyah (agama) saja. Namun pendidikan formal harus dapat bersaing secara global agar santri tidak menjadi terkesan katro ketika keluar dari pesantren, tidak mampu bersaing dengan ranah dalam negeri. Karena untuk apa ilmu agamanya yang telah dipelajarinya namun tidak meneruskan pendidikannya untuk menjadi ahli agama atau menguasai ilmu lain agar dapat bersaing.

Syukurnya hari ini sudah banyak pesantren yang modern bertaraf internasional mulai dibentuk, demi menciptakan santri yang dapat bersaing secara global. Akan tetapi, hal tersebut juga tentu kembali kepada santrinya sendiri, apakah mereka mau atau tidak? Apakah akan terus membiarkan hidupnya terbawa arus kebiasaan anak pondokan lama? Apakah mereka sadar dan terbuka bahwa banyak tantangan besar yang harus dihadapi dengan segala keterbatasan pesantren dibanding sekolah umum?

Tidak sama sekali berniat untuk menyalahkan sesuatu yang ada, atau bahkan menghina subjek yang memiliki kuasa dalam hal ini. Sami’na wa atho’na ada sebagai bentuk ketaatan santri terhadap guru. Akan tetapi, perkembangan teknologi yang mengubah permainan politik negara istilah ini sangat dimanfaatkan.

Dengan segala keterbatasan informasi dan diskusi santri yang dengan orang itu-itu saja membuat istilah ini malah menjadi malapetaka dalam satu sisi. Sejak dahulu kita tahu bahwa tidak semua ahli agama satu pendapat satu sama lain, mereka mempunyai alasan dan dalil tersendiri yang membuat mereka memilih jalan tersebut. Kita sebagai orang awam dapat memilih mana yang sekiranya benar dengan segala pendekatan kebenaran untuk kamu jadikan acuan.

Sami’na wa atho’na bisa saja tanpa disadari santri karena santri yang selalu manut kepada gurunya. Ketika gurunya berkata A, maka santri harus A dengan segala penjelasan guru tanpa santri harus berpikir dan mencari jawaban lain atau pendapat dari berbagai ahli. Bisa saja demo yang berjilid-jilid untuk menjatuhkan seorang yang mengajak jutaan santri dengan mengandalkan istilah tersebut, seluruh santri asal manut saja dan ikut-ikut saja, toh itu gurunya yang telah mengajarkan dirinya kebenaran baginya. 

Jadi, buat apa repot-repot berpikir lagi dan mencari tahu. Padahal sejatinya bisa saja mereka tidak tahu bagaimana dan mengapa hal itu terjadi.

Demikian rupa terjadi pada hal yang sedang marak-maraknya akhir ini seperti hoaks. Hoaks pun akan berakibat fatal terhadap masyarakat umum serta santri. 

Dalam teori propaganda, hoaks yang disebutkan secara terus-menerus kepada publik akan menjadi kebenaran. Ketika hoaks terus dipublikasikan, lalu klarifikasi lagi dan berulang, manusia akan merasa malas untuk berpikir apalagi mencari tahu yang sesungguhnya. Sehingga hal ini akan sangat berdampak bagi santri yang sudah terbatas informasinya, mereka akan lebih memilih menanyakan terhadap gurunya yang siapa tahu juga termakan hoaksnya.

Hal ini benar-benar istilah Sami’na wa Atho’na sudah fatal disalahgunakan bagi kuasanya, karena sejatinya Sami’na wa Atho’na seharusnya digunakan untuk kebaikan bukan untuk semacam dipolitisasi. Betapa mulia istilah tersebut menjadi tantangan berat dalam menghadapi musim politik yang panas ini.

Sebagai santri, kita perlu untuk menjadi kritis terhadap diri kita sendiri sedikit demi sedikit. Cobalah untuk menerobos pembatas demi mencari tahu suatu hal secara langsung dari berbagai sudut pandang. Bacalah buku dan lihatlah dunia luar, bagaimana hal tersebut dapat terjadi. Jangan sampai kemuliaan santrimu digunakan hanya sebatas politis.

Masyarakat Indonesia sudah terlalu banyak memercayai suatu hal tanpa mengetahui suatu hal secara langsung. Kita tidak berani memotong kuku pada malam hari karena katanya pamali. Kita memercayainya dan tidak melakukannya, padahal ada teknologi lampu hari ini yang sebenarnya pamali tersebut sudah ditepis dan kita dapat memotong kuku tanpa takut berdarah karena tidak ada pencahayaan yang cukup.

Percaya ada karena ketidaktahuan. Media memberimu informasi yang dapat kamu ketahui dengan memercayainya saja tanpa secara langsung ada di lokasi tersebut. Cobalah untuk melihat segala hal dari berbagai sudut pandang dengan rasional. Jadilah masyarakat dan santri yang beridealis, tidak mudah terpengaruh oleh hoaks yang semata-mata hanyalah trik untuk mempengaruhi manusia agar malas berpikir, demi mewujudkan manusia yang berkualitas demi Indonesia yang lebih baik.

Selamat hari santri nasional 2018, santri.