Minggu ketiga bulan November 2019, santri pondok pesantren waria Al-Fattah dan Keluarga Besar Waria Yogyakarta (KEBAYA) melakukan kegiatan silaturahmi kepada tokoh feminis di kota Yogyakarta.

Silaturahmi dilaksanakan karena kami memiliki pandangan bahwa perjumpaan memiliki tujuan suci yang dapat menghilangkan persangkaan dan menjalin persahabatan lebih lekat dan rekat. 

Kini, ketika interaksi manusia di zaman digital sudah tergantikan oleh media sosial di tangan, maka gadget telah mampu mengubah pola interaksi antarmanusia dan efeknya menghilangkan perjumpaan dan pertemuan karena obrolan telah diwakilkan oleh WhatsApp, Facebook, dan Instagram. Padahal ngobrol dengan pertemuan fisik adalah olahraga jiwa yang menyehatkan.

Karenanya, kawan-kawan waria melaksanakan silaturahmi ke kediaman Ibu Agustina Prasetyo Murniati atau yang akrab dengan nama panggilan ibu Nunuk. 

Ibu Nunuk adalah aktivis perempuan senior, konselor feminis Indonesia, mantan Komisioner Komnas Perempuan, dosen Emiretus Universitas Sanata Dharma, dewan pembina perserikatan Solidaritas Perempuan Kinasih dan pendiri Padepokan Perempuan GAIA.

Dalam kegiatan silaturahmi itu, terlebih dahulu kami menyampaikan maksud dan tujuan silaturahmi. Kemudian para senior waria, seperti Bunda Rully dan Mami Vinolia, menyampaikan kata pengantar, lalu perkenalan satu per satu para kawan-kawan waria yang datang dan sambutan dari tuan rumah, yaitu ibu Nunuk.

Bunda Rully menyampaikan bahwa waria di Yogyakarta memiliki satu komunitas, yaitu Keluarga Besar Waria Yogyakarta (KEBAYA), yang berdiri pada tahun 2006, kemudian almarhum ibu Maryani mendirikan pondok pesantren waria Al-Fattah pada tahun 2009 sebagai ruang kegiatan keagamaan bagi komunitas muslim waria.

Setelah ibu Maryani meninggal dunia, lokasi pondok pesantren waria yang mulanya berada di Dongkelan menempati kediaman ibu Maryani kemudian pindah lokasi ke kediaman ibu Sinta Ratri di Kotagede. Dalam perkembangannya kini, pesantren waria tidak dikhususkan untuk santri waria yang muslim saja, melainkan untuk waria non-muslim juga.

Bahkan pesantren waria juga memberikan pelayanan keagamaan kepada para kelompok Gay dan Lesbian yang memiliki niat untuk bersama-sama belajar Islam di pesantren waria.

Adapun pengajar di pesantren waria, untuk santri waria yang muslim, tenaga pengajar datang ke pesantren secara sukarela di setiap akhir pekan. Sedangkan tenaga pengajar untuk santri non-muslim, saat ini, pesantren waria melakukan kerja sama dengan Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta untuk memberikan pelayanan keagamaan atau bimbingan rohani kepada waria kristiani di pesantren waria.

Bunda Rully juga menyampaikan bahwa pondok pesantren waria Al-Fattah mengadakan kerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogya dengan mengadakan kegiatan Pelatihan Paralegal bagi kawan-kawan waria agar memiliki pengetahuan di bidang hukum.

Juga bekerja sama dengan Fisipol UGM dan melakukan kegiatan Pelatihan Resolusi Konflik untuk kawan-kawan waria agar memiliki skill memecahkan persoalan dan konflik jika di suatu hari nanti terjadi.

Dari kegiatan tersebut, Pondok pesantren waria Al-Fattah mendirikan Waria Cirisis Centre (WCC) dengan pendanaan secara personal dari kawan-kawan waria secara solidaritas. WCC tersebut didirikan sebagai ruang atau rumah aman atau rumah singgah bagi kawan-kawan waria yang mengalami persoalan pribadi, terusir dari rumah keluarga, dan waria yang tersangkut kasus hukum.

Mami Vinolia menyampaikan bahwa yayasan KEBAYA sudah memiliki akte notaris dari Kemenkumham dan memberikan pelayanan dan pendampingan kepada kawan-kawan waria pengidap HIV AIDS. Pelayanan tersebut, menurut Mami, bekerja sama dengan dinas kesehatan dan bantuan dana internasional.

Bahkan, meskipun tidak ada dana, mami Vinolia tetap bekerja secara sukarela dengan dana solidaritas dari kawan-kawan waria yang dermawan. Hingga kini, sudah 13 tahun Mami Vinolia bekerja sebagai pendamping waria pengidap HIV AIDS.

Tugas Mami Vinolia adalah mengingatkan kawan-kawan waria pengidap HIV untuk rajin mengonsumsi obat setiap hari, dan merawat waria pengidap AIDS dan mendampinginya hingga sampai tutup usia, hingga proses menguburkan jenazah sesuai dengan keyakinannya.

Bekerja dalam Bentuk Pelayanan

Ibu Nunuk mengatakan bahwa apa yang telah dilakukan oleh kawan-kawan waria dalam pelayanan keagamaan dan pelayanan mendampingi waria pengidap HIV AIDS adalah bagian dari bentuk pelayanan yang terikat kerja.

Jika banyak kelompok mayoritas (heteroseksual) menilai bahwa waria adalah berbeda dan waria tersingkirkan secara sosial, maka tugas kelompok mayoritas adalah menggerakkan mayoritas yang lain untuk sama-sama berpihak kepada mereka yang termarginalkan.

Karenanya, Ibu Nunuk mengajak kawan-kawan waria untuk melakukan jejaring dengan berbagai pihak agar kerja-kerja keberpihakan kepada kelompok marginal terjalin, meskipun tidak ada suntikan dana, kerja tersebut harus tetap berjalan karena pokok dari sebuah gerakan adalah tetap berjalan meskipun tanpa dana.

Harus diakui memang, bahwa masyarakat kita selalu menolak jika ada kelompok yang berbeda. Oleh karena itu, waria harus berani menyampaikan kepada publik agar publik lebih menerima fakta perbedaan, bahwa waria atau kelompok LGBT juga manusia yang harus diperlakukan tanpa kekerasan, tanpa diskriminasi, dan terjalinnya relasi yang setara antarmanusia.

Salah satu kawan waria sharing pengalamannya menjadi waria bahwa ia diusir dari rumah keluarga karena ia seorang waria. Akibatnya, ia lari mencari komunitas waria yang sama dengan dirinya, kehilangan pekerjaan sebagai pengusaha salon kecantikan, dan menjadi pengamen di pasar pagi.

Mendengar pengalaman yang demikian, ibu Nunuk mengajak kawan-kawan waria untuk berani bicara. Karena ketika waria berani bicara, maka waria tersebut memiliki potensi untuk survive. Singkatnya, bagi ibu Nunuk, bahwa pemberdayaan yang sesungguhnya bagi waria adalah waria berani bicara.

Ketika waria berani untuk bicara, waria yang bersangkutan mampu menularkan energi positif dan mampu mengajak waria yang lain survive.

Salah satu santri pesantren waria yang memiliki orientasi seksual gay menceritakan pengalaman hidupnya kepada ibu Nunuk bahwa ia diusir oleh orang tuanya karena gay, sehingga ia putus sekolah, dan mencari rumah aman untuk kelompok gay hingga sampai di Yogyakarta.

Ibu Nunuk kemudian menjelaskan bahwa menjadi gay itu karena dua sebab. Ada yang by nature dan by choice. Gay karena by nature sulit diubah bahkan tidak bisa diubah karena sudah taken for granted. Tetapi gay karena pilihan yang disebabkan oleh pola asuh, lingkungan, pola pertemanan, dan faktor lainnya bisa diubah.

Kondisi gay karena alami dan karena pilihan tersebut, diri gay itulah yang tahu bahwa dia seorang gay karena faktor ini dan itu. Lebih dari itu, ibu Nunuk menekankan bahwa menghargai mereka yang berbeda secara orientasi seksual lebih penting untuk menuju manusia yang berbudaya.   

Berdasarkan hasil kajian ibu Nunuk, bahwa di dunia jenis kelamin, tidak hanya ada dua (laki-laki dan perempuan) yang selama ini dikenal umum. Melainkan terdapat 16 macam jenis kelamin di dunia.

Seperti, ada perempuan yang tidak memiliki indung telur sehingga tidak menstruasi. Ada seorang manusia yang memiliki dua kelamin (penis dan vagina). Ada perempuan yang memiliki vagina, tapi tidak memiliki rahim. Dan banyak contoh lainnya.

Di akhir pertemuan silaturahmi, ibu Nunuk mengajak kawan-kawan waria dan kawan-kawan gay untuk bersama-sama membuat lingkaran dan membuka tangan kemudian saling memberikan energi kepada kawan yang di sebelahnya. 

Tujuannya adalah untuk saling menguatkan dan saling memberi dukungan agar waria yang menjadi korban penggerebekan di tahun 2016 silam oleh sekelompok umat manusia yang mengatasnamakan diri sebagai wakil Tuhan agar segera pulih dan menjadi penyintas (survivor).