Berbicara tentang pendidikan, pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan yang berbasis agama Islam. Awal mula berkembangnya pendidikan pesantren ini sebelum adanya kemerdekaan Indonesia sampai masa reformasi. Ya, sudah berabad-abad pendidikan pesantren ini berjalan. Dari zaman yang masih menggunakan lentera sebagai penerangan, sampai sekarang yang mana teknologi sudah berkembang. Maka dari itu, di era sekarang sebagian orang mengatakan bahwa santri itu kolot dan kuno. Itu seperti sebuah ciri khas tersendiri bagi seorang santri. Bahkan sebagian dari mereka bertanya “menjadi santri memang berpengaruh bagi bangsa ?  Pengajaran yang kuno, mengaji hanya kerjaannya. Bagaimana bangsa mau maju ?”. 

Wah, padahal banyak santri yang menjadi tokoh besar dan memiliki posisi penting serta memberi kontribusi bagi dunia. Seperti : Gus Dur (Presiden Indonesia ke 4), Ma’ruf Amin (Wapres 13), KH. Hasyim Asy’ari, KH. Maimun Zubair, dsb.

Seiring berkembangnya zaman, banyak perubahan yang terjadi di dunia pendidikan. Pesantren harus bersaing dengan lembaga pendidikan umum. Bahkan banyak lembaga pendidikan pesantren yang berkembang menjadi modern, mereka juga punya lembaga pendidikan formal yang dimulai dari SD bahkan sampai perguruan tinggi. Namun hal ini tidak mengubah eksistensi yang dimiliki pesantren. 

Bukan warga Indonesia namanya, mereka masih beranggapan bahwa sebagian pesantren di era sekarang  telah mengalami perubahan dan pergeseran nilai-nilai eksistensi akibat arus globalisasi yang menjauh dari kearifan budaya bangsa. “Mana yang katanya menjaga eksistensinya?”.

Ini gimana ? Dibuat kuno katanya tidak mengikuti zaman, dibuat modern katanya tidak menjaga eksistensinya ? 

Ya benar, ini seperti tantangan tersendiri bagi pendidikan Islam yang mengalami perkembangan dan perubahan. 

Bagaimana tidak ?

Ketika santri kuno berbincang akrab dengan guru atau Kyai terasa tabu, tapi sekarang hal ini menjadi hal yang wajar. Sementara dalam pendidikan modern, interaksi antara guru dan murid menjadi tingkat keberhasilan dalam proses mengajar. 

Ketika proses pembelajaran santri kuno berpusat pada Kyai atau guru, sekarang hal ini tidak berlaku lagi. Peran guru kini telah mengalami pergeseran, yakni sebagai fasilitator bagi murid. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, namun lebih berpusat pada murid.

Tantangan Pendidikan Islam

Eksistensi pendidikan Islam memiliki peran penting dalam membangun bangsa. Hal ini sudah dapat kita lihat sebelum kemerdekaan Indonesia. Dimana lembaga pendidikan Islam seperti pengajian, majelis taklim, surau ataupun pesantren terus berkembang dan eksis sampai sekarang. Pada umumnya pendidikan Islam hanya memfokuskan ilmu agama tanpa ada sentuhan ilmu modern. Ilmu sains dan teknologi masih jarang disentuh. Bahkan ada yang berasumsi bahwa “mahasiswa Islam miskin akan wawasan, penguasaan sains dan teknologi, komunikasi dan juga politik”. Wah miris juga ternyata.

Namun di era globalisasi sekarang, sebagian pesantren terus berkembang dan mampu beradaptasi dengan perkembangan global. Bahkan minat masyarakat mengalami penurunan untuk masuk ke pendidikan Islam pesantren khususnya yang masih bergumam dengan sistem “salaf”. Ini karena masyarakat masih berasumsi ketika lulus pesantren mereka tidak bisa memasuki lapangan kerja modern. Bagaimana tidak, kemampuan dalam menguasai teknologi menjadi prasyarat memasuki lapangan kerja di zaman sekarang. 

Ah ini hanya asumsi tanpa melihat kondisi.. toh sekarang banyak juga pesantren dengan sistem “salaf” ataupun Tahfiz Al qur’an yang juga mengikuti perkembangan zaman. Mereka juga dibekali keterampilan teknologi yang mengembangkan kompetensi minat dan bakat mereka. Dan juga setelah lulus memang mereka harus bekerja ditempat orang ? Mereka juga bisa berbisnis sendiri, sambil mengajarkan ilmu agama. Lebih bermanfaat keren dan bermanfaat bukan ?

Moralitas

Di era sekarang, kompetensi menjadi hal yang penting. Seperti yang diketahui bahwa santri hanya mendalami ilmu agama. Seiring berkembangnya zaman, santri tidak hanya dibekali ilmu agama saja, tetapi juga ilmu dan keterampilan yang menunjang bakat dan minat untuk menghadapi persaingan global. Namun, hal ini harus diseimbangkan dengan sikap moralitas santri. Sikap ini menjadi paling utama dari pada ilmu yang dimiliki santri sendiri. 

Yang disesali, seiring berjalannya waktu sebagian santri sekarang telah luntur sikap moralnya. Entah kenapa, memang benar ini terjadi. Sikap moralitas seperti tidak ada dalam identitas santri tersendiri. Padahal santri dikenal sebagai orang yang lebih tahu tentang ilmu agama dibanding orang awam. Mereka akan lebih dipercaya oleh masyarakat ketika memiliki moral yang tinggi ketika bersosialisasi dan mengajarkan ilmu agama. 

Toh.. Di era globalisasi sekarang, ilmu pengetahuan dapat diakses tanpa dibatasi ruang dan waktu. Bahkan pesantren terus berkembang agar sesuai dengan kebutuhan zaman dengan mengambil yang positif untuk perkembangan pesantren itu sendiri. Dan perlu diingat menjadi santri harus mampu mempertahankan identitas santri yang melekat pada dirinya yang menjaga tradisi dan moral keislaman dan harus mampu membawa kemampuan kompetensi mereka ke arah yang lebih positif.