Freelancer
2 tahun lalu · 229 view · 3 menit baca · Cerpen resep-klepon-isi-gula-merah-kenyal-meleleh.jpg

Santri Google Menggugat Klepon

Seperti biasa. pagi yang cerah, burung berkicau, kopi item bikinan yuk sum, di temani klepon. Sebuah perpaduan yang sempurna. Tetapi masih kurang satu: kehadiran cak met disitu. Sebuah rutinitas kaum jomblo yang saban hari nangkring di warung pojokan dusun punya yuk sum. Yang hari-hari hanya diisi obrolan ngalor-ngidul seputar nomer togel, sepak bola, sapi tetangga yang melahirkan, dan nasib jomblo yang kian lama kian menyiksa batin heuheu.

Tetapi hari ini berbeda. Ketidakhadiran cak met dalam diskusi –rasan-rasan- membuat suasana warung kopi menjadi sepi. Keramaian hanya diisi yuk sum yang ngedumel persoalan semakin mahalnya harga sembako.

“Pie tho pemerintah ini. Ngurusi ekonomi aja ga becus. Makin hari sembako makin mahal!” gumam yuk sum.

“Buat apa tho yuk, ngurusi pemerintah. Mending golekke saya calon istri gitu hohoho” jawab saya yang sok diplomatis.

“Kuliah aja belum bener mau cari istri segala. Arep di kasih makan opo nanti?” jawaban yuk sum agak kesal.

Selanjutnya saya fokus dengan Koran yang sedang saya pegang. Koran harian yang menjadi langganan warung yuk sum. Koran yang menemani saya ketika absennya cak met dalam diskusi di warung. Koran yang memberikan topik-topik yang tidak ada habisnya didiskusikan dengan cak met.

Headline koran hari ini memuat  berita “demo 4 november: menuntut ahok”. Sontak saya kaget. Dengan penuh semangat saya baca berita hingga habis. Bagi saya seorang mahasiswa ndeso merupakan perkara wajib jika berhubungan dengan informasi.

Saya sadar. Hidup di desa, pasti akan berpotensial untuk ‘kuper’ atau ‘ketinggalan kereta’. Maka di samping selalu meningkatkan daya analisis di kelas. Maka saya perlu meningkatkan wawasan dengan membaca dan tentunya diskusi. walaupun diskusi dengan yuk sum dan cak met heuheu.

Ketika saya sedang fokus membayangkan dan menelaah isi berita. Tiba-tiba dikagetkan dengan suara yang tidak asing: cak met datang dengain air muka merah dan kesal.

“Menegakkan pancasila dengan cara yang tidak pancasilais! Maunya apa ini orang-orang Islam Indonesia.”katanya dengan wajah kesal.

Belum sempat saya jawab, cak met langsung nyrocos  melanjutkan “Jika isu penistaan agama dikomparasikan dengan agama lain, terus opo bedane dengan agama lain itu. Katanya ‘rahmatan lil alamin’! ‘rahmatan lil alamin’-nya mana? Sependek pengetahuan saya, dulu jaman kanjeng nabi juga sering diperlakukan tidak baik, nabi di lempar tai; di ludahi. tapi ora tau kanjeng nabi berdoa agar pelaku kena azab. Bahkan didoakan agar mendapat hidayah!”.

“Saya sih tidak bela ahok cak, tapi bener kata sampean cak. Saya juga bingung, penerjemahan dan logika macam apa yang dipakai mereka? Bukankah agama ada untuk keselamatan semua umat. Indonesia kan bukan milik orang Islam saja cak” Jawabku sok diplomatis.

“Ibarat anak. Ahok ini anak yang nakal dan ingin diperhatikan orang tuanya. Ndilalah blundernya si anak mengencingi baju yang habis dicuci. Langsung saja orang tua marah. Bahkan sampai mau di coret dari Kartu Keluarga (KK). Tapi masa iya harus gitu? Harusnya kan lewat pendekatan cinta; kasih sayang. Si anak disadarkan. dikasih wejangan. Lah ini kok malah mau dihapus dari KK. Kan aneh. Inilah hasil dari santri-santri gugel dan generasi miskin imajinasi,” jawab cak met.

Saya sampai tidak bisa berkata apa-apa dengan argument cak met. Bahkan sebelum saya memikirkan sebuah jawaban, cak met seperti penuh nafsu membrondong saya dengan argumen-argumen. Kenikmatan klepon yang sejak tadi saya hendak makan jadi hambar. Kopi yang saya pesan langsung dingin. Bahkan saya sampai lupa kalau masih berstatus jomblo heuheu.

“Ini ulama-ulama kok ya saru; aneh; bikin gemes. Katanya keturunan kanjeng nabi. Katanya paham agama. Katanya hafal pancasila, ehh hafal al-qur’an dan hadist. Tapi malah jadi propaganda dan penggiat aksi. Harusnya ulama itu moderat; Jadi penengah; Mengayomi. Biar umat tidak salah jalan. Lah ini kok malah jadi pemecah belah umat!” kata cak met penuh semangat.

“Kan manusia tempatnya salah cak. Ahok juga salah. Pemimpin kan harusnya jadi panutan, lah ini malah bikin blunder. Momennya juga mendekati pilkada, jadi wajar kalau ada isu-isu untuk mendiskreditkan lawan main. Menurut Peter Merkl: politik, dalam bentuk yang paling buruk, adalah perebutan kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan untuk kepentingan diri sendiri” Jawab saya.

“Jadi menurut kamu isu ini dibikin oleh orang yang berkepentingan gitu?” kata yuk sum tiba-tiba.  

“Sudah yuk, sudah. bikinin kopi dulu buat cak met, biar ora gemeteren hahaha.” Jawab saya untuk mendinginkan suasana.

“Kring… kriiinngggg!” gejet saya berbunyi. Saya buka gejet dengan penuh harap. Berharap ada cewek sms saya. Ketika saya buka, kaget bukan main. Yang diharap sirna sudah. Sebuah pesan dari operator bahwa paket internet saya mau habis. Mungkin inilah nasib jomblo sedari kecil. Yah setidaknya ada cak met. Makhluk Tuhan penuh dengan kelucuan.

Mungkin seharusnya Tuhan membuat seribu cak met. Agar Indonesia tidak miskin imajinasi dan cinta.

Artikel Terkait