Pengaruh globalisasi yang semakin pesat menjadi musuh sekaligus senjata bagi seorang santri dalam berjuang di zaman modern ini.

Berdasarkan artikel yang ditulis oleh Wasisto Raharjo Jati (2014) yang berjudul “Tinjauan Perspektif Intelegensia terhadap Genealogi Kelas Menengah Muslim di Indonesia”. 

Mengatakan bahwa di era globalisasi ini, santri dapat melebarkan sayapnya melalui dua kecenderungan kelas yang tengah berkembang di masyarakat yaitu kelas intelegensia dan kelas urban muslim.

Pada kelas inteligensia, fungsi santri diperluas untuk dapat andil dan fokus membahas isu kemasyarakatan, terutama hal-hal yang berada di antara negara dan agama. 

Melalui kelas ini, santri berperan luas untuk menjadi aktor dalam pembentukan masyarakat ideal (madani). Tak lagi berkutat dengan keilmuan agama semata, santri juga menjadi jembatan antara agama dan birokrasi. 

Dengan begitu, suasana kehidupan sebuah bangsa yang kental akan nilai-nilai keislaman di dalamnya akan tercipta harmonisasi.

Sedangkan kelas urban muslim memandang bahwa agama sebagai fenomena yang berpengaruh terhadap gaya hidup. 

Tren bisnis, mode, serta budaya menginginkan tampilnya unsur-unsur keislaman yang tampak sederhana dan artifisial. 

Bagi santri, kelas ini dapat menjadi batu loncatan untuk mendekati masyarakat secara lebih halus.  

Sebab, budaya dan gaya hidup merupakan pintu masuk utama nilai-nilai keislaman, seperti yang telah dicontohkan para Wali Songo dalam dakwahnya pada masyarakat nusantara. 

Apalagi dijaman modern ini penggunaan media sosial sudah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat, tentu dengan akses informasi yang semakin mudah didapatkan akan berpengaruh terhadap pola dan daya pikir masyarakat.

Yang jadi pertanyaan adalah, dengan cara apa seorang santri bisa menjadi pelopor perubahan ditengah arus globalisasi ini...?

Pertanyaan tersebut adalah tanggung jawab moral kita bersama untuk menjawabnya, namun ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. 

Pertama, dengan memegang prinsip Al-muhafadhah ala al-qadim as-shalih wa al-akhdu bi al-jadidi al-ashlah yang bermakna memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Prinsip inilah yang menjadi identitas diri santri untuk ikut serta terlibat langsung maupun tidak langsung dalam membangun masyarakat. 

Melalui prinsip ini, seorang santri dididik untuk peka terhadap isu-isu yang berkembang dilingkungan sekitarnya. Hal inilah yang menjadikan santri sebagai agen terdepan dalam menentukan respon terkini melalui pendekatan agama yang moderat.

Kedua, Santri harus terus bergerak. Bergerak berarti tidak diam karena diam bentuk lain dari kematian itu sendiri.

 Seorang santri seharusnya terus mengupdate dan mengupgrade diri sehingga wawasan keilmuan dan keamalannya tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. 

Dalam perkembangannya, Seorang santri sebaiknya tidak hanya berstatuskan manusia yang hanya sebatas tulang yang dibungkus kulit kemudian diberi nafas dan diam ketika terjadi masalah ditengah masyarakat. 

Melainkan harus menjadi problem solver ketika masyarakat mengalami kebuntuan atas permasalahan yang terjadi. 

Dengan begitu, Seorang santri dapat dikatakan sebagai Insan atau manusia yang menjadi (Becoming) bukan Basyar atau manusia yang hanya sekedar ada (being).

Menurut Ali Shariati seorang tokoh revoluisoner Iran dalam pemikirannya membagi manusia berdasarkan kualitasnya menjadi dua, yaitu basyar dan insan.

Basyar adalah tipe manusia yang tak mengalami perubahan hanya sekedar ada (being), manusia jenis ini tidak berkembang dan tidak mengalami kemajuan dari segi kualitatif. 

Ali shariati menyamakan manusia seperti layaknya hewan semisal semut dan monyet yang selalu mempunyai kebiasaan yang sama dan tidak mengalami kemajuan secara kualitatif, karena hakikatnya yang membedakan antara hewan dan manusia adalah akal, namun jika tidak maju secara kualitatif maka sama dengan hewan.

Sedangkan manusia jenis dua adalah insan adalah makhluk yang menjadi (becoming) yang terus bergerak pada arah kesempurnaan. 

Menjadi (becoming) adalah bergerak maju mencari kesempurnaan, dan tak pernah berhenti menghentikan proses terus menerus menuju kesempurnaan. Bergerak di sini yaitu bergerak secara permanen ke arah Tuhan yang merupakan kesempuranaan ideal. 

Maka dari itu bergeraknya manusia menjadi (becoming) berarti gerak terus menerus tanpa henti ke arah evolusi yang sempurna yaitu pada Tuhan. (Ali Shariati,2001: 53-54)

Oleh karena itu, momentum peringatan hari santri nasional sebaiknya menjadi bahan refleksi untuk para santri diseluruh Indonesia untuk terus bergerak agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman sehingga tercipta masyarakat yang ideal (Madani).

Dikarenakan Kaum santri memiliki posisi yang sangat strategis bukan karena jumlah kuantitas, tapi karena ada nilai-nilai kehidupan yaitu manusia pembelajar yang bisa memajukan bangsa dan peradaban di Indonesia.

Selain itu, santri mewarisi legacy yang ditinggalkan oleh para ulama di abad keemasan Islam. Karena itu, kebangkitan Islam akan sangat ditentukan oleh kiprah dan peranan kaum santri.

Dengan peran santri di Indonesia, kita berharap tetap senantiasa hidup damai dan semoga negara kita menjadi negara yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.

Selamat Hari Santri Nasional