Senja tenggelam tepat di lekuk pupil mata perempuan itu, matanya sipit. Sebab ia adalah keturunan Tionghoa. Walau darah Indonesia membuatnya semakin memikat.

Berbanding terbalik dengan hari-hari sebelumnya. Kini ia lebih banyak melewati waktunya dengan kemurungan. Seperti senja yang tak lagi indah dipandangnya.

Tampak ia seperti kehilangan mimpi, gairah hidupnya seolah hilang seiring lenyapnya senja ditelan malam. Perempuan itu pasrah dan meratapi kemalangan.

Semenjak lelakinya pergi, atau telah mati di luar sana. Perempuan itu tak lagi menikmati hidupnya. Ada banyak bagian tubuhnya yang pergi mengikuti lelaki yang dikaguminya.

Sebut saja Ifa. Walau keturunan luar negeri, nama Ifa lebih lokalis terdengar. Mungkin itulah dasar orang tuanya memilih kata itu sebagai namanya.

Kuliah tak membuatnya cerdas, seperti penjara yang membuatnya ingin segera bebas dan lekas melacur sesuai kecamuk hatinya. Tapi ia ragu, mengingat semasa kecil ia selalu dihadiahi rotan oleh ayah pada betisnya yang sebelah kiri bila membangkang.

Kepergian lelakinya membuat matanya melihat hidup seperti drama, langit adalah api, tanah sebagai duri. "Neraka," cetusnya.

Kosannya sempit, kampusnya ramai. Pun teori-teori yang diberikan oleh dosennya yang terlihat pongah tak masuk-masuk ke kepalanya. Selain itu, suara musik yang dia ulang-ulang dengan harapan segera lupa. Tapi ingatannya tetap saja pada lelaki itu.

Sia-sia semua, seperti kepergian oksigen dan separuh jiwa dalam dirinya yang memang tak begitu kuat. "Patah hanya akan tumbuh kembali dengan kematian" kesalnya dalam hati.

Satu-satunya pelampiasan selain lengan yang terus digores-gores dengan silet, adalah catatan harian. Tatkala lepas ditulis, kemudian diremuk dan berakhir di tempat sampah. Setiap hari hal itu terus berulang-ulang dilakukannya sebagai solusi yang tak menyelesaikan masalah.

Ia terus menulis. Seperti orang jatuh cinta menulis surat setiap hari untuk memberi kabar, tapi ia tak mengirimnya pada lelaki itu. Melainkan tempat sampahlah kotak terakhir alamat tujuannya.

Selama kurun waktu sekitar satu tahun lebih. Ifa tak memberi apa-apa, tak juga melakukan apa-apa yang bernilai manfaat terhadap orang lain. Ia terkoyak dalam belenggu kegelisahan yang mendalam.

Sekian lama ia terpenjara ingatan, bahwa luka layaknya hutang, semakin ingin dibuang, semakin pula menggerogoti.

Ketika harapan tak jadi kenyataan, cinta berbuah luka, impian menjelma sia-sia. Lalu apa lagi yang harus dilakukannya selain bunuh diri?

Ifa dilema dengan membayangkan kehormatan keluarganya di kampung, yang terbilang sangat disegani karena keturunan yang terpandang. Ingatannya terbagi, antara maut yang sesekali mendekat dengan keluarganya yang penyayang.

Tak peduli dengan kontroversi isi kepalanya. Ia tetap berani keluar kamar kontrakan, berharap ke kampus lagi, walau tetap dengan kegiatan yang sama, membosankan.

Selesai mata kuliah ilmu ekonomi, ia keluar ruangan dengan cepat. Tepat pada hari Rabu. Ia menyempatkan diri singgah di salah satu kedai kopi dekat kampusnya. Berharap sedikit keajaiban menjumpai.

Ifa memesan kopi hitam, ditaburinya sedikit gula pasir. Sembari menulis seperti kebiasaanya. Tetapi sebelum merobek-robek hasilnya, ia dikagetkan dengan suara yang tak asing di telinganya.

"Fa apa kabar?" lelaki itu menyapa. Ifa terperangah melihat sosok yang tentu telah lama didambanya. "Baaaa....baaa..baik" singkatnya. Dengan air mata yang jatuh di pipi tanpa ia sadari.

Lelaki yang selama ini ia cintai, tempat segala harapan ia tumpukkan. Tiba-tiba datang kepadanya. Seperti orang kehausan berminggu-minggu dan tiba-tiba menemui mata air dalam perjalanannya. Ifa sedih bercampur haru.

Lelaki itu duduk, di samping Ifa sebelum ia dipersilahkan. Dengan santainya, menatap Ifa, "Kamu sakit?" tanyanya, "Wajahmu pucat sekali" lanjutnya. Ifa hanya menggeleng, memberi isyarat kalau dirinya baik-baik saja.

Tas yang dibawa lelaki itu segera ia buka. Selembar kertas berwarna coklat dikeluarkan, lalu ia memberikan pada Ifa.

"Undangan saya, hadir yah. Saya mau menikah" pintanya, seraya tersenyum. Ifa semakin menggila dalam hati, walau ia tetap mencoba tampil kuat, matanya tetap berkaca-kaca, membuktikan kalau dirinya benar-benar terluka.

Lelaki itu tak duduk lama. Ia segera bangkit dari kursinya, tanpa menyempatkan diri minum kopi berdua, atau pesan makanan untuk mencicipi berdua. Sebab ini kesempatan terakhir kalinya bagi Ifa, tetapi tak terjadi.

Luka yang semula dirasakan Ifa, dengan kehadiran lelaki yang didambakannya. Ternyata bukan sebagai penawar rindu atau pengobat lara, terlebih penumbuh harapan. Melainkan sebagai belati yang justru menusuk lebih dalam.

Ifa mengaduk kopinya, semakin kencang berharap bisa menampik luka. Tanpa sadar air matanya ikut masuk ke tenggorokan setiap kali ia menyeruput.

Ifa memilih tak menghabisi kopinya, ia keluar dari kedai kopi, tetapi kamar kontrakan yang sempit itu, juga bukan tujuan yang menyenangkan baginya dalam situasi seperti itu.

Ia terus berjalan, di atas trotoar jalan raya. Tanpa arah, tanpa kata, tanpa tujuan. Sebab ia berjalan menuju kematian dengan menggengam luka di lengan kirinya.