Tau nggak sih guys, aslinya hidup ini tuh ringan dan damai. Satu-satunya yang bikin perkara hidup jadi berat dan ngerusuhi ketenangan ya pikiran dan hati kita sendiri. Apalagi di jaman serba terbuka seperti ini. Private life udah menjadi barang langka, alhasil mudah banget kan kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain.

Check it! Seberapa sering dalam sehari kita mengukur hidup kita dengan parameternya adalah orang lain. Capaian orang lain, kehidupan orang lain. Bahkan banyak informasi berseliweran di feeds atau sekitar kita-pun yang menggiring satuan ukuran capaian hidup kita! Contohnya aja yang sempat viral, kalau di usia 25 tahun mesti kudu udah punya 100 juta rupiah. Iyes, kalau terlahir sebagai sultan sih, nggak perlu nunggu usia 25 tahun pun bisa yah.

Ada juga, teman saya yang pernah berkomentar atas kelulusan Maudy Ayunda yang baru saja lulus dari Stanford University di usia 27 tahun, katanya “Maudy umur 27 aja udah kelar S2, lha kita yang udah mepet 30 aja belum sekolah lagi”. Walau diungkapkan sambil bercanda, tetap saja yah urusan banding-membandingkan ini suka bikin hidup makin ruwet.

Seolah hidup ini adalah ajang kompetisi satu dan yang lainnya. Well, yes kalau berkompetisi dalam kebaikan sih malah bagus yah, seperti istilah yang sering kita dengan di pengajian “berlomba-lomba dalam kebaikan”. Nah itu, mesti hanya KEBAIKAN. Berlomba dengan orang di sekitar kita untuk melakukan sebanyak mungkin kebaikan dalam sehari. Itu keren banget! Sesuai dengan tuntunan agama.

 Tetapi, seringnya yang menjadi kompetisi di kaum milenial sampai gen Z ini adalah capaian-capaian materialis. Just admit it! Berkompetisi dari capaian karir dengan mengkotak-kotakan jenis karir tertentu, berkompetisi dalam urusan menikah dan punya anak, kejar-kejaran ngumpulin harta, berlomba menggait followers, views, rating, dan sebagainya lah. Implikasinya, banyak orang yang menilai citra diri seseorang pun dari latar belakang materialis semata. Kerja apa? Lulusan sekolah mana? IPK berapa? Gajinya berapa? Udah nikah apa belum? Udah punya anak berapa? Dan sebagainya!

Ya, itu tadi karena kita menganggap dunia ini sebagai ajang kompetisi kapitalis semata. Dan ini jelas-jelas sering bikin hidup kita jadi sumpah nggak nyantai banget. Baru lulus kuliah masih cari kerja, gampang jatuh insecure sama rekan yang lulus langsung kerja di perusahaan bonavit. Punya pekerjaan yang kelihatan sepele dengan gaji seadanya juga mudah banget buat hati jadi galau saat ajang reuni dan ngeliat karir rekan sejawat. Ah pokoknya, nggak nyantai deh!

Kamu adalah satu-satunya Kompetitor dalam hidupmu

Itulah jadinya kalau kita keseringan nggak sadar menyeret diri kita dalam kompetisi duniawi yang lekat dengan materil. Satu yang kudu banget kita pegang erat-erat adalah, we are the only competitor in our life! Yes, hidup ini kita cuma berkompetisi dengan diri kita! Berlomba dengan diri kita sendiri. Jadi ukurannya bukan orang lain, tetapi diri kita sendiri! Catat itu guys.

So, instead kita mengukur capaian kita dengan orang lain, coba cek sudah seberapa lebih baik diri kita sekarang dengan yang kemarin? Sudah upgrade apa saja hidup kita dengan masa lalu kita? Itu yang menjadi ukuran. Kalau dulu kita nggak kerja dan sekarang udah punya usaha walau kecil-kecilan, syukuri. You have walked forward!

Dan, sebagai the only comptetitor, tentu saja musuh kita pun adalah diri kita sendiri. Iya, rasa malas, sikap boros, malas tau, suka menunda-nunda. Itulah yang kudu banget kita kalahkan. Jadi patokan kita seharusnya adalah “Hari ini Harus Lebih Baik dari Kemarin”. That’s it!

Pastikan dalam dari hari ke hari itu ada hal positif yang kita tambah. Bisa banget dimulai dari hal paling sederhana seperti memulai bangun pagi, konsisten merapikan tempat tidur, membaca satu artikel setiap hari, dan banyak hal lain. Jadi parameter kita adalah diri kita di masa lalu dan kemarin. Nggak perlu lah membanding-bandingkan diri yang jelata ini sama para selebgram atau teman-teman kamu. Cukup pastikan kalau dirimu jadi lebih baik hari ke hari.

Tentukan Tujuan Hidupmu dengan Jelas

Ee tapi, Namanya hidup wajar donk ya kalau kita menilai seseorang dengan pencapaiannya?! Oh yes, boleh, tetapi tidak boleh berlebihan. Seseorang yang lulus dari universitas bergengsi dengan beasiswa bisa saja menandakan dia adalah anak yang cerdas. Atau seseorang yang bisa sukses membangun usaha tentu saja bisa jadi indikator dia adalah seorang pekerja keras. Tentu benar. Tetapi itu tadi, tidak perlu capaian orang lain menjadi parameter kita.

Tentukanlah tujuan atau goals hidup kita sendiri! Bener, tentuin targetmu sendiri, karena kamu yang paling tau kondisi kamu. Nggak elok tentunya membandingkan capaian seorang Maudy Ayunda dengan anak jenius yang terlahir di pelosok Indonesia dengan kapasitas finansial terbatas. Mereka mungkin sama cerdasnya, tetapi capaiannya berbeda karena kondisinya juga berbeda. Bukan berarti yang satu menjadi lebih hebat dari yang lainnya.

Maka, tentukanlah target hidupmu sendiri. Kamu bisa buat main goals seperti “Masuk Surga” sebagai cita-cita tertinggimu, kemudian jangan lupa “break down main goals kamu menjadi capaian-capaian kecil”. Semakin detail semakin baik. Jangan lupa upayakan mencatumkan timeline dari mini-mini target yang ingin kamu capai.

Teman saja menaruh target untuk hafal Alquran 30 juz. Wow MasyaAllah sekali tujuannya. Dan ternyata mini target di aitu sangat sederhana. Dia hanya manargetkan dirinya untuk menghafal 1 ayat setiap dua hari! Sangat realistis donk. And see what? Sekarang dia sedang half way menuju target utamanya dengan capaian hafalan sebanyak 18 juz! MasyaAllah…

Nah, kita juga bisa menetapkan target sesuai kondisi kehidupan kita. Misal kita ingin menjadi pengusaha sukses. Kemudian kita bisa menjabarkan target kita ini menjadi mini atau bahkan super mini target yang bisa kita upayakan hari ke hari. Atau apapun itu, baik dalam pendidikan, hubungan sosial, dan sebagainya.

Jadi, alih-alih galau dan insecure, coba sediakan waktu untuk mengurai dan menuliskan target hidupmu dengan jelas.

Stay focus

Setelah target jelas tergambar, maka yang harus kita lakukan berikutnya adalah fokus meraih target-target tadi. Ini adalah bagian yang cukup berat ya, karena terkait dengan kegigihan atau persistant atau keistiqomahan atau apapunlah sebutanmu. Gampang banget lho kita terdistraksi sama hal-hal lain yang menggiring kita keluar dari target yang ingin kita capai. Dan sering juga di tengah jalan kita merasa demotivasi sama sekali untuk mengejar impian kita, bisa jadi karena kita gagal dalam meraih mini target atau lainnya.

Nah saat krisis itu melanda, cobalah untuk take a short break dan ingat ingat lagi target kamu. It’s okey untuk jatuh di tengah, mini target tidak tercapai, atau bahkan ke-skip timeline yang sudah kita atur. Yang terpenting cobalah untuk bangkit dan kembali fokus sama tujuan-tujuan besar hidup kamu.

Kalau sudah begitu, kita nggak perlu lagi kegerahan dan gelisah galau merana dalam hidup hanya sebab perkara melihat orang lain. Kita bakal santai aja dan fokus pada impian kita semata. Alhasil, nggak ada lagi tuh, insecurity sama personal life kita dan hidup kitapun jadi lebih terarah dan santuy..