Budaya kita adalah budaya yang menghukum. Tidak banyak orang tua yang memuji saat anak melakukan tindakan positif sehingga tidak sejak dini manusia mengenal prinsip penguatan positif. 

Lain halnya dengan hukuman. Kebanyakan orang terpancing untuk menghukum bila anak melakukan kesalahan. Akibatnya, sedari kecil manusia telah belajar bahwa perbuatan buruk akan mendatangkan sanksi dan penghukuman. 

Padahal hukuman dan penguatan, keduanya sama-sama bagian dari upaya modifikasi perilaku agar seseorang berperilaku sesuai yang diharapkan. Sayangnya, dalam hal memodifikasi perbuatan buruk, manusia lebih terfokus pada hukuman. 

Tetapi efektivitas hukuman itu sendiri diragukan bila melihat kriminalitas terus meningkat, dengan sebagian besar pelakunya adalah mantan narapidana. 

Apakah hukuman tidak efektif dan malah berdampak negatif? Atau ada kondisi-kondisi tertentu yang harus diperhatikan untuk menjamin efektivitasnya? Prinsip-prinsip psikologi apa yang sebenarnya mendasari sanksi dan penghukuman? 

Serangkaian tulisan ini akan mencoba untuk menelaah hukuman dan penguatan dari perspektif psikologi.  Restorative justice akan dipaparkan sedikit pada akhir tulisan, yang mungkin dapat menjadi bahan pemikiran bersama mengenai bentuk keadilan yang tidak menghukum. 

Prolog

Beberapa waktu lalu, saya melihat foto seorang guru yang pernah mengajar saya di jejaring sosial Facebook. Seketika saya gelisah, ada rasa takut yang tiba-tiba menyergap.

Ingatan saya kembali pada puluhan tahun silam dalam suasana kelas yang mencekam tiap kali tiba waktunya beliau mengajar. Sorot matanya tajam, seolah siap menerkam. Tidak ada senyum dari awal sampai akhir kelas, kecuali senyum menyindir atau mengejek ketika kami tidak mampu menjawab.

Kelas diisi dengan bentakan, pukulan, dan tendangan. Saya tidak pernah lupa bagaimana ia menendang tulang kering kaki seorang teman sampai mengeluarkan darah. Ia tidak meminta maaf, dengan angkuh ia memerintahkan teman saya duduk kembali sambil makiannya mengiringi langkah terseok teman kami. 

Saya juga masih mengingat dengan jelas sindiran tajamnya kepada teman kami, cucu seorang pendeta, "Kamu lupa berdoa hari ini sampai tidak dapat menjawab pertanyaan saya?"

Rasanya ia merusak keceriaan kami, anak-anak yang beranjak remaja. Tiap kali langkah kakinya mendekat, kami diam. Tiap hari kami berdoa agar ia tidak memarahi kami. Setiap kali waktunya tiba ia masuk ke kelas, kami berharap ia tidak dapat mengajar. 

Ia selalu mengatakan bahwa apa yang ia lakukan akan berguna bagi kami. "Saya cuma ingin kalian pintar," demikian ucapannya menggelegar sehabis menjatuhkan hukuman. Sebuah keinginan mulia. Sayang, ia tidak paham bahwa cara yang ia lakukan tidak dapat membuat kami memenuhi keinginannya. 

Hukuman dan Penguatan 

Konsep hukuman merupakan salah satu konsep dasar yang wajib dipahami mahasiswa-mahasiswi psikologi mulai dari semester pertama. Konsep ini mendapatkan perhatian dalam psikologi setelah B.F. Skinner mengemukakan teori pembelajaran instrumental (instrumental conditioning*) pada tahun 1938. 

Perilaku manusia menurut Skinner dibentuk oleh rangkaian penguatan (reinforcement) dan hukuman (punishment) yang diterimanya dari lingkungan. 

Jika ia mendapatkan penguatan untuk suatu perilaku, maka perilaku itu cenderung akan ditampilkannya kembali. Sebaliknya, jika ia mendapatkan hukuman, maka tindakannya itu tidak akan ditampilkan kembali. 

Skinner mendefinisikan penguatan sebagai apa pun yang dapat meningkatkan suatu perilaku agar terjadi lagi atau dilakukan lagi. Penguatan dapat dilakukan dengan dua cara. 

Pertama adalah dengan memberikan sesuatu yang positif (penguatan positif). Tersenyum, memuji, dan memberikan hadiah merupakan beberapa contohnya. Kedua adalah dengan mengambil sesuatu yang negatif (penguatan negatif). Contohnya, dengan membebaskan anak dari suatu tugas atau hukuman.

Hukuman didefinisikan sebagai apa pun yang dapat menurunkan kemungkinan suatu perilaku ditampilkan kembali. Hukuman dapat dilakukan dengan dua cara. 

Pertama, memberikan sesuatu yang negatif (hukuman positif). Contohnya, dengan memarahi atau memukul. Kedua adalah dengan mengambil sesuatu yang positif (hukuman negatif). Mengambil mainan anak dan memutuskan jaringan telepon merupakan tindakan yang termasuk dalam hukuman negatif.

Jika disimpulkan, penguatan merupakan respons seseorang terhadap sikap atau tindakan orang lain yang dipandang baik sedangkan hukuman merupakan respons seseorang terhadap sikap atau perbuatan orang lain yang dianggap buruk, setidaknya dari kacamata orang yang menghukum.

Budaya Menghukum

Dalam pandangan Skinner, yang juga saya yakini, untuk membentuk perilaku seseorang, memberikan penguatan jauh lebih baik dibandingkan hukuman. Skinner bahkan tidak menganjurkan hukuman. 

Sayangnya, yang terjadi sebaliknya, manusia cenderung menghukum ketimbang memberikan penguatan. Kita cepat melihat yang buruk dari seseorang dan memberinya hukuman. Namun kita gagap untuk memuji ketika seseorang menampilkan yang baik. 

Kita bahkan gagap menerima pujian. Kata-kata “Ah masa sih” lebih sering terlontar ketika seseorang memuji kita, dibandingkan mengucap terima kasih atas pujiannya. Kita tidak terbiasa mendapatkan penguatan karena budaya kita adalah budaya yang menghukum.

Hukuman telah menjadi bagian keseharian manusia, dalam keluarga tempat anak pertama kali belajar mengenai nilai-nilai, dan juga sekolah sebagai institusi pendidikan. Nilai-nilai kita dibentuk berdasarkan maskulinitas. 

Budaya maskulinitas tidak menekankan harmoni. Tidak perlu senyum dan pujian, karena maskulinitas tidak mementingkan nilai-nilai suatu hubungan. Pencapaian dan kompetisi adalah yang utama. 

Sulit umumnya bagi laki-laki untuk memuji, terutama terhadap sesama laki-laki, karena dalam pencapaian pribadi juga bermakna kompetisi dengan orang lain. Pencapaian adalah yang harus mereka lakukan. 

Pencapaian pun menjadi hal yang biasa; pencapaian adalah sesuatu yang normal. Melakukan sesuatu yang normal tidaklah perlu dipuji, karena tidak ada yang menonjol dengan melakukan hal yang dianggap sudah seharusnya dilakukan. 

Melakukan sesuatu yang baik, yang sesuai dengan aturan atau norma, tidak membutuhkan penguatan apapun karena dianggap sudah seharusnya demikian. Sementara ketika melakukan sesuatu yang buruk, jelas ini menonjol, bertolak belakang dari yang seharusnya. 

Secara neuropsikologis, otak manusia memang berespons lebih cepat terhadap sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lain dari yang lain, sesuatu yang menonjol. 

Hidup dalam masyarakat yang melestarikan budaya menghukum, kita dapat dengan mudah menemukan hukuman ini dalam berbagai konteks ketika perilaku yang ditampilkan seseorang dinilai berdasarkan standar normatif oleh pihak yang berkuasa (Walgrave, 2002). 

Seorang anak dihukum oleh orangtuanya, siswa dihukum gurunya, atau pekerja dikenai hukuman oleh atasannya. Dalam konteks yang lebih luas, hukuman diberikan oleh hakim kepada warga negara yang melanggar aturan yang telah ditetapkan negara. 

Karena terkait dengan struktur kekuasaan yang lebih tinggi dan mengatur kehidupan masyarakat dalam sebuah negara, penghukuman oleh negara dianggap sangat penting sehingga dijadikan sebagai bidang kajian tersendiri.

Dalam serangkaian tulisan ini akan dibahas mengenai hukuman dalam konteks negara sambil sesekali membandingkannya dengan lingkup konteks mikro seperti rumah dan sekolah. 

Selain itu, kita akan melihat bagaimana hukuman yang diterima seseorang dalam konteks mikro (rumah, sekolah) dapat meningkatkan kecenderungan seseorang untuk mengalami hukuman dalam konteks yang lebih luas, sekaligus memengaruhi pemaknaannya dalam menerima hukuman tersebut. 

*Skinner sendiri pertama kali menyebutnya sebagai operant conditioning