Hari Disabilitas Internasional selalu diperingati setiap tanggal 3 Desember. Walau telah lewat beberapa hari lalu, namun cara memperingati sekaligus merayakan Hari Disabilitas Internasional 2020, patut diberikan apresiasi terkhusus bagi Yayasan Plan Internasional Indonesia (Plan Indonesia) yang telah menyelenggarakan beragam perlombaan.

Salah satu mata lomba yang pada hemat saya cukup menggugah nurani adalah perlombaan menulis opini dengan mengangkat tema; ‘Sanitasi Untuk Semua’. Sebagai salah satu peserta dari 120 peserta se-Indonesia, saya memahami dan mengartikan tema ini secara lebih dalam. 

Bahwa selain sebagai tema lomba menulis, namun lebih daripada itu, tema ini sedang melegitemasi bahwa jika kita bicara tentang kesehatan sebenarnya sangat identik dengan kebutuhan dan tanggung jawab semua orang tanpa pengecualian.

Sebelumnya, izinkanlah saya untuk sedikit berkisah. Pada Februari 2019 lalu, saya mewakili sekolah tempat saya mengabdi untuk mengikuti kegiatan; “Sosialisasi dan Workshop Bimbingan Teknis Penguatan Kapasitas Guru Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif”.

Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari (6-8 Februari 2019) di Sekolah Dasar Katolik Naru, Kabupaten Ngada, Provinsi NTT. Narasumbernya adalah Kepala Subdit Kurikulum Direktorat Pembinaan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikbud RI, Tita Srihayati.

Di awal pembicaraanya, Tita Srihayati menjelaskan berbagai dasar hukum tentang pendidikan inklusif. Menurutnya, Undang-Undang Hak Asasi Manusia No. 39 Tahun 1999 menandaskan bahwa setiap anak berhak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya, sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasanya.

Selain itu, dalam UUD 1945 pasal 28 B ayat 2 kembali menegaskan bahwa setiap anak juga berhak atas keberlangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Dalam KBBI istilah pendidikan inklusi merujuk pada kata benda sedangkan pendidikan inklusif sebagai kata sifat. Kedua istilah ini  menggambarkan pendidikan yang memiliki atau mengandung nilai-nilai inklusif.

Lebih jauh, sifat  inklusif diharapkan dapat terwujud  dalam semua aspek kehidupan dari level keluarga, sekolah, hingga masyarakat luas.  Sebab inklusif juga ditandai dengan adanya keberagaman anggota dalam keluarga, masyarakat, dan sekolah yang selalu berada dalam satu kesatuan yang utuh.

Oleh karena itu, keragaman dari setiap anggota harus dihargai dan dihormati sebagai sebuah anugerah terindah dari Tuhan dan bukanlah suatu persoalaan yang maha berat. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa dimuka bumi ini setiap manusia memiliki keunikan dalam keberagaman. Dan keberagaman adalah realitas mutlak yang tak terbantahkan.

Untuk itulah, kehidupan keluarga adalah pencerminan sebuah inklusivitas itu sendiri. Walau berbeda peran, status, dan karakter namun tetap satu dalam satu kesatuan hidup berkeluarga. Di dalamnya, tetap ada benih-benih untuk saling menghargai, menghormati, dan menyayangi satu sama lain.

Dalam tataran teori, pendidikan inklusif pastinya selalu identik dengan nilai kemanusiaan. Bahwa anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus adalah juga manusia yang memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang hingga kepada hak hidup sehat dan merdeka.

Namun jika kita menengok pada kehidupan nyata, di sana kita akan menjumpai banyak realitasi miris yang menggerogoti kehidupan anak-anak infklusif. Hak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak sering diabaikan. Bahkan untuk mendapatkan tempat yang layak untuk berteduh pun  nyaris tak ada.

Dilansir dari (Kompas, 2/03/2020), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim persoalan kekerasan di sekolah atau bullying terhadap anak-anak yang berkutuhan khusus adalah fakta yang tak terbantahkan. Sebab kebanyakan objek utama dari sikap bullying itu, lebih kepada anak-anak infklusif itu sendiri.

Pada titik ini, saya pun amat yakin, jika pada faktanya hak anak-anak inklusif cenderung tak diperhatikan, apalagi dengan kesehatan mereka, rasanya semakin jauh panggang dari api. Padahal bicara tentang kesehatan serta mendapatkan lingkungan yang sehat, mereka juga punyak hak untuk itu.

Harapan ini pun akan sulit, bahkan takkan pernah bisa digapai, ketika ada sebagian orang mulai berlombah-lombah menghidupi konsep buruk bahwa anak-anak infklusif tak layak untuk mendapatkan kebahagiaan. Bahwa anak-anak inklusif identik dengan hal-hal menjijikan secara jasmani. 

Akhirnya, tak perlu heran, jika dalam ranah praksis, di sana-sini kita menyaksiskan berbagai realitas miris yang selalu dialamai oleh anak-anak yang  berkebutuhan khusus itu sendiri.

Di awal tulisan, penulis sudah menegaskan kesehatan adalah kebutuhan semua orang tanpa pengecualian. Untuk mewujudkanya butuh kerja sama dan tanggung jawab kolektif. 

Oleh karena itu, anak-anak yang berkebutuhan khusus juga wajib mendapatkan hak untuk hidup sehat. Itu artinya, tak ada alasan bagi kita semua untuk tidak memperhatikan anak-anak yang berkebutuhan khusus itu sendiri.

Oleh karena itu, keragaman dari setiap anggota harus dihargai dan dihormati sebagai sebuah anugerah terindah dari Tuhan dan bukanlah suatu persoalaan yang maha berat. 

Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa dimuka bumi ini setiap manusia memiliki keunikan dalam keberagaman. Dan keberagaman adalah realitas mutlak yang tak terbantahkan.

Untuk itulah, kehidupan keluarga adalah pencerminan sebuah inklusivitas itu sendiri. Walau berbeda peran, status, karakter, dan lingkungan namun tetap satu dalam satu kesatuan hidup berkeluarga. Di dalamnya, tetap ada benih-benih untuk  saling menghargai, menghormati, dan menyayangi satu sama lain.

Selanjutnya, realitas inklusivitas semacam ini diharapkan tidak saja terjadi hanya sebatas keluarga, melainkan dipraktekan juga pada level yang lebih luas yakni dalam institusi pendidikan, dan masyarakat. 

Dengan kata lain, pendidikan inklusif diharapkan dapat terjadi dalam semua level komunitas kehidupan manusia tanpa pengecualian demi mewujudkan kehidupan dan lingkungan yang humanis.

Dan pada akhirnya, tanggung jawab untuk kehidupan yang sehat dan humanis adalah kewajiban semua orang secara universal. Karenanya, ikhtiar untuk mewujudkan lingkungan sehat serta kehidupan humanis yang selalu di dasari pada nilai-nilai ekologis dan kemanusiaan haruslah menjadi dasar, sekaligus menjadi napas hidup semua orang. 

Hal ini menjadi urgen agar tak ada lagi label-label buruk yang berpeluang menciptakan stratifikasi sosial yang destruktif, terkhusus bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. 

Itulah sanitasi perspektif pendidikan inklusif yang harus kita maknai dalam hidup, baik dalam kata maupun tindakan nyata.