Hallo, sobat Qureta. Apa kabarnya nih? Semoga kalian selalu dalam keadaan yang sehat ya. Kalian pernah dengar tidak tentang Sanggar Teater Sangir? Apa pikiran pertama kalian setelah mendengar kata itu? Mau tahu? Yuk, simak penjelasan berikut ini!

Sanggar Teater Sangir didirikan pada tanggal 13 April 2013 di Dusun Ngampon, Krikilan , Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah. Sannggar ini memilih nama sangir dikarenakan kata Sangir sendiri memiliki arti “Ungkal” yang biasanya digunakan warga untuk mengasah pisau dan arit.

 Nah dari arti tersebut, bisa dimaknai bahwa Sanggar Teater Sangir ini merupakan wadah atau tempat mengasah kepekaan rasa, kemampuan dan potensi yang ada. Banyak warga yang mengikuti kegiatan ini mulai dari anak-anak, remaja sampai ibu-ibu.

Di Sanggar Teater Sangir ini bukan sekedar teater saja yang ada. Melainkan masih banyak kegiatan lainnya seperti, eksplorasi tubuh, karawitan, gejog lesung, vokal, kesanggaran, kesutradaraan, kelenturan, puisi, macapat, dan nembang.

Masa pandemi membuat aktivitas masyarakat menjadi terhambat, begitu juga kegiatan latihan di Sanggar ini. Meskipun begitu, latihan masih tetap berjalan. Walaupun tidak bisa pentas di luar kota. Sebagai bentuk apresiasi atas latihan rutin yang telah dilakukan, Sanggar  mengadakan acara rutin.

 Acara rutin ini dinamakan sebagai “Jumpa” singkatan dari Jumat Pahing dan dilaksanakan setiap Jumat Paling. Kenapa dinamakan Jumpa? Karena Jumat Pahing itu sebagai tanda penghormatan atas wafatnya guru besar Sanggar Teater Sangir yaitu Alm. Bapak Joko Bibit Santoso.

 Kegiatan ini diadakan sejak bulan February 2021 dan masih berlangsung sampai saat ini. Keintensitasan yang diciptakan sanggar ini menimbulkan semangat dan antusias para penonton yang hadir dari berbagai daerah mulai dari warga sekitar hingga luar kota.

Setiap jumpa yang diadakan mengusung tema yang berbeda dan memiliki makna tersendiri. Jumpa pertama dilaksanakan pada hari Jumat, 5 Februari 2021 mengusung tema “Mari Nglenengi Diri Sendiri”. Tema tersebut memiliki makna yaitu musik sebagai sebuah bahasa penghubung rasa.

Melalui Gamelan dan Lesung dapat menemukan gagasan-gagasan atau cita-cita para leluhur. Dengan sebuah perlawanan diri sendiri atas keterbatasan yang terbelenggu oleh pikiran. Maka, diri sendiri akan mendapatkan pencerahan dengan ketulusan niat untuk menjadi lebih baik.

Jumpa kedua dilaksanakan pada hari Jumat, 12 Maret 2021 mengusung tema “ Teteg, Tatag, Tutug, Titis”. Tema tersebut memiliki makna melakukan sesuatu dengan yakin, sungguh-sungguh dan teliti untuk mencapai tujuan dengan tepat sasaran sesuai dengan harapan.

Jumpa ketiga dilaksanakan pada hari Jumat, 16 April 2021 mengusung tema “Lahir, Ngelahirke, Dilahirke”. Dari kata lahir dapat dimaknai dengan  mencoba memasak bahan-bahan yang ada dan menyiapkan sebuah sajian hidangan rasa yang menyentuh hati.

Melalui  proses dari sebuah perjalanan manusia menemukan jati dirinya lewat berbagai hal. Salah satunya adalah pengetahuan. Lewat pengetahuan terlahirlah pengetahuan-pengetahuan baru yg akan membuka cakrawala ruang kesadaran manusia.

Jumpa keempat dilaksanakan pada hari Jumat, 21 Mei 2021 mengusung tema “ Gumregah Owah”. Tema ini memiliki makna tentang menciptakan perubahan yang mampu berimbas   dalam sanubari. Mengenai sejauh mana kemampuan bertahan dan beradaptasi terhadap perubahan.

Melalui mempertahankan keyakinan dan semangat dalam hati dan jiwa, sehingga mampu bergerak demi untuk hidup dan menghidupi. Gumeregah Owah bukan sekedar tentang meningkatkan semangat dalam perubahan, melainkan menyadarkan kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki.

Jumpa kelima dilaksanakan pada hari Jumat, 25 Juni 2021 mengusung tema “ Maju Wani”. Makna tema ini mengenai keberanian dan keyakinan, di mana ketika sudah melangkah maju harus siap akan rintangan, tantangan, dan resiko yang akan didapatkan. Semua itu   juga membutuhkan pengorbanan dan tindakan nyata.

Jumpa keenam dilaksanakan pada hari Jumat, 30 Juli 2021  mengusung tema “ Ulur Sumulur”. Tema ini memaknai tumbuh dan berkembangnya sebutir benih yang kemudian menjadi bentuk lain yang mempunyai nilai manfaat dan fungsi yang lebih. Bisa saja menjadi bunga atau buah atau mungkin sebatang kayu.  

Menabur benih berarti menanam sebuah kebaikan yang menjalar menjadi kebaikan-kebaikan yang semakin luas. Menjadi  upaya untuk menyambungkan antara generasi muda dan tua. Sehingga mampu mempertahankan dan meneruskan nilai-nilai keluhuran yang sudah ada dan tercipta sejak zaman dulu.

Jumpa ketujuh dilaksanakan pada hari Jumat, 3 September 2021 mengusung tema “ Enggal ”. Tema ini memiliki makna seberapa cepat kita bergegas memperbaiki diri dengan semangat yang membara. Melakukan hal-hal baru yang membuat suatu perubahan besar yang baik dalam kehidupan demi  kebaikan itu sendiri.

Akan menjadi sebuah kebahagiaan ketika bisa merasakan sesuatu yang baru setiap saat. Dengan kekuatan mampu untuk bergerak dan menggerakkan. Setiap pilihan pasti memiliki konsekuensinya, tetapi  tetap yakinlah bahwa apapun yang dilakukan pasti ada manfaatnya.

Jumpa kedelapan dilaksanakan pada hari Jumat, 8 Oktober 2021 mengusung tema “Kanti, Kanthi, Kinanthi ”. Artinya dengan cara apa agar bisa di tuntun melalui tajamnya senjata dan darah yang selalu mendidih ataukah dengan sentuhan tangan yang halus dan melenakan ataukah dengan biasa-biasa saja.

Melalui doa memohon diberikan perlindungan dari kekuatan yang menyesatkannya. Permasalahan yang timbul berasal dari siapa dan apa yang dituntun. Sehingga berusahalah mencari jalan, pegangan, tuntunan, yang menguatkan  dari kekuatan yang menyesatkan.

Jumpa kesembilan dilaksanakan pada hari Jumat, 12 November 2021, mengusung tema “Sung Songo”. Bermakna memberikan sebuah persembahan yang  kesembilan. Apapun yang  diberikan tidak akan pernah hilang atau sia-sia. Kalau istilah Jawanya, "Tuna Sathak Bathi Sanak”.

Jadi, tak rugilah kita memberikan sesuatu, mungkin secara hitungan materi berkurang tapi secara imateri bertambahlah pengalaman rasa kita, persaudaraan kita. Sung Songo bisa jadi sebuah persembahan atas pemahaman sembilan unsur dalam tubuh manusia yang saling mendukung dan terkait satu sama lain.

Berbagai tema diusung demi membangun sebuah perkembangan yang menjadi dasar sebuah kemajuan. Setiap tema memberikan sebuah penampilan yang memaknainya. Penampilan pun hadir mulai dari doa yang memaknai setiap tema, karawitan alit, karawitan purba laras, gejog lesung, teater, tari, dan masih banyak lagi.


Narasumber : Ery Aryani selaku pembimbing dan pelatih Sanggar Teater Sangir.