Pada suatu masa, dalam satu negara, hadirlah seorang sosok pembawa keselamatan bagi umat manusia. Seseorang yang dinanti-nantikan karena dipercaya dapat menghakimi dan mengalahkan dajjal (kejahatan-kekufuran). Peranannya sebagai juru selamat karena memiliki kepentingan duniawi yang lebih mendekati sosial-kemanusiaan ketimbang eksistensial daripada akhirat.

Banyak capaian kemajuan dan ketinggian peradaban yang telah ditautkan atas kerja jujur dan kreativitasnya semenjak ia hadir memimpin. Kerja keras, kerja sepenuh hatinya menjadi sumber harapan, spirit yang hidup dalam memori orang-orang yang telah lama kehilangan asa, orang-orang yang telah lama terjerembab dalam kenyataan buruk selama ini.

Perjalanan sejarah kebajikan (bajik) seseorang semacam itu akan mencerminkan dia seolah-olah sebagai tokoh sentral. Heroisme kisah-kisahnya dapat menyamai laku bijaksana seperti sosok-sosok terkenal yang telah lebih dulu membawa suatu rekonsiliasi universal.

Bahwa keparipurnaan lakunya itulah disebut watak ‘sang republikan’. Dia memimpin bukan karena satu alasan dangkal periodesasi politik kekuasaan. Tetapi memimpin dengan keberpihakan, gagasan pemikiran bernas berfaedah panjang untuk sebuah kehidupan negara.

Predikat sang republikan bukan semata-mata perbuatannya. Namun keteguhan hatinya untuk tidak mengeksklusifkan diri kendati kemudian orang lain menghujat, menjustifikasi bahkan mengutuknya sebagai golongan kufur.

BTP dan Keumatan

Politik keumatan Basuki Tjahaja Purnama (BTP) hadir dalam rentang satu dekade lebih setelah warga kenyang dengan buaian ragam pilitik yang manipulatif. Politik keumatannya hadir di tengah yang lain kian menjauh dari jalan sejarah akibat kelebihan ambisi. 

Sosok yang oleh pengikut fanatik, dulunya akrab dipanggil Ahok sekarang menolak dengan sapaan itu lagi melainkan BTP, ikut merapikan semuanya. Menenun kembali harapan adalah pilihan politik yang rajin ia sodorkan.

Dalam hal ini tak hendak memberikan takaran besar kecilnya kebajikan yang dilakukan BTP. Namun harus diakui sikap laku aristokratik BTP yang telah membentuk horizon harapan tanpa batas bagi orang lain (umat) untuk kembali menemukan jalan, menenun masa depan.

“Majelis hakim yang saya muliakan, ketika saya memilih mengabdi melayani bangsa tercinta ini, saya masuk ke pemerintahan dengan kesadaran penuh, yakni untuk menyejahterakan rakyat, otak, perut, dan dompet,” ujar BTP dalam pledoinya di muka yang mulia hakim.

BTP membangun dengan trilogi kesejahteraan, otak, perut, dan dompet. Ikhtiar kebajikan ini akhirnya buat warga bisa melewati badai kompleksitas problematika sosial, yakni kebodohan, kemiskinan, dan kejahatan korupsi yang berkelindan berjejaring dalam keadaan yang telah membeku selama ini. 

Dia membuat surga kecil tak pandang latar identitas, keyakinan. Siapa pun memiliki pengetahuan tak boleh terhambat kemiskinan.

BTP mewujudkan daratan yang manusiawi. Tidak angker dan horor akibat wajah kultur kotor birokrat yang mental koruptif. 

Di bawah kepemimpinannya, semua dituntut punya integritas, kredibiltas, serta kejujuran tinggi, dan menolak untuk berkompromi, tidak surut melawan para siluman yang kecanduan menyelewengkan anggaran. Ia membongkar modus pencuri uang rakyat yang jamak dilakukan lewat permainan di sana.

Selamat Kembali

Peristiwa aksi-aksi pengarahan massa yang memaksa ada “pemurnian-pembelahan” agama terhadap pilihan politik, memberikan sketsa kontraproduktif tentang kenyataan berbangsa saat itu. Negara tiba-tiba saja terperosok dalam fluktuasi gamang bahkan frustrasi menghadapinya. 

Kondisi abnormal akibat pilkada yang mempertontonkan demokrasi kekerasan simbolik, demokrasi yang memainkan sentimen moral komunal agama, suku, etnik, ras yang menjadi bahan pertengkaran politik. Sakralisasi politik aliran yang menggunakan hierarki moral dengan meletakkan politik pilkada sebagai “perang badar” mengakibatkan dialektika demokrasi berhenti.

Ironi menjadikan politik membusuk di dalam ruang demokrasi yang monolog di atas itu satu-satu cara kontra BTP ini adalah pengalaman pahit yang menjadi pelajaran yang teramat mahal bagi bangsa.

“Tidak penting apa pun agamamu dan warna sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanyakan apa agama dan warna sukumu,” tegas kiai besar (tokoh pemersatu bangsa) yang akrab disapa Gus Dur.

Lupakan persitiwa lama, tak perlu lagi Ahok saling diperebutkan. Negeri jangan lagi terjebak pada gelombang ‘ahokers’ atau bukan. Semua sudah waktunya tobat besar (nasional), mulai pada kesadaran, kedewasaan sikap berupa menghargai wujud-wujud kebajikan meski itu datang dari orang yang diremehkan. 

Orang (lawan politik) yang anggap nista. Sebab sikap penghargaan semacam ini akan menjadi wahana pendidikan bagi bangsa ke depan.

Pendidikan yang mengajarkan tentang 'apa yang telah seseorang lakukan bagi republik ini', bukan 'siapakah orang itu dalam kekuasaan negara ini'. Inilah mungkin yang disebut politik kebajikan, yang akan menghadirkan kedewasaan sikap.

Dan, diperkirakan akan bebas pada 24 Januari 2019. Perkiraan itu setelah dihitung pengurangan remisi Natal pada akhir tahun ini. 

Selamat datang kembali di alam bebas, Sang Republikan Basuki Tjahaja Purnama alias BTP. Kini kau telah menemukan “jalan pulang”, martabatmu tinggi usai dijeruji. 

Ujian memang harus dilalui, betapapun itu menjengkelkan. Semoga semua lawan tetap menjadi kawan. Biarkan amarah kemarahan memukul angin.