Sungguh sangat miris, kertas dan buku yang telah dianggap sebagai lambang dalam dunia pendidikan sekarang semakin pudar keberadaannya bahkan telah menyusut fungsi aslinya. Hal tersebut menjadi sebuah istilah baru bahwa kertas dan buku adalah media pembelajaran yang dianggap kuno, kolot, atau primitif. 

Bahkan fungsinya telah berubah menjadi bungkus makanan dan bahan-bahan dapur yang dapat kita temui di pasar atau pedagang sayur keliling. Hal tersebut adalah sebuah ironi bahwa fungsi kertas dan buku sebagai media pembelajaran semakin padam.

Salah satu penyebab menurunnya keberadaan dan fungsi kertas dan buku adalah dunia digital yang semakin berkembang pesat terutama dalam dunia pendidikan. Peran kertas dan buku telah digantikan dengan slide presentasi, video pembelajaran, electronic book dan media elektronik lainnya. 

Tidak bisa dipungkiri, memang pada jaman yang modern ini lebih mengutamakan efisiensi dan fleksibilitas dalam menunjang kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam dunia pendidikan baik siswa atau pengajar lebih memilih menggunakan slide presentasi, video pembelajaran, electronic book dan media elektronik lainnya dalam menunjang proses belajar mengajar.

Apakah dampak terkait teknologi dalam pendidikan?

Teknologi digital dalam dunia pendidikan memang sangatlah penting, selain sebagai sumber informasi juga sebagai media untuk menjabarkan permasalahan yang terkadang membutuhkan penalaran yang tinggi. Namun, disamping itu teknologi digital juga mempunyai sisi buruknya dalam berbagai hal khususnya dalam segi pendidikan.

Karena kita hidup di era information floods atau banjir informasi, terdapat banyak sekali informasi-informasi yang kurang bermutu bahkan tidak layak dipublikasikan. Seperti pornografi, informasi-informasi mengenai ajaran kebencian dan lain-lain. 

Hal ini sangat berpengaruh terhadap pola pikir anak didik jika mereka salah mengambil sebuah informasi, yang dapat di akses dengan mudah melalui internet. Selain itu teknologi termasuk internet tanpa kita sadari membuat pola berpikir siswa dalam menyelesaikan suatu persoalan pembelajaran menjadi menurun.

Bagaimana hal tersebut bisa terjadi ?

Hal tersebut dapat terjadi karena siswa cenderung untuk mencari kunci jawaban soal-soal yang diberikan, daripada memahami soal kemudian mencari bagaimana solusi atau penjelasan untuk memecahkan soal tersebut. 

Sebagaimana contohnya, siswa lebih memilih mengetik ulang soal yang diberikan di sekolah kemudian mencari jawabannya langsung di internet. Tanpa membutuhkan waktu yang lama telah tersedia banyak sekali jawaban-jawaban yang beredar di internet dari berbagai sumber yang berbeda. 

Memang dari segi waktu hal tersebut sangatlah efisien. Namun hal tersebut justru membuat seorang siswa menjadi kecanduan internet dalam memecahkan sebuah soal sehingga daya pikir mereka tidak terasah dengan baik yang dapat menyebabkan ketidakpahaman seorang siswa terhadap materi yang di dapat. 

Selain itu dari banyaknya pilihan pembahasan soal di internet dengan jawaban yang berbeda-beda membuat siswa bingung mana jawaban yang benar dan salah. Alih-alih mereka bisa menggunakan jawaban yang salah saat menjawab pertanyaan.

Apakah ada solusi untuk hal tersebut ?

Ada! Sejauh ini mayoritas pendidikan di sekolah menggunakan media yang monoton dalam artian sejak beberapa dekade kebalakang media yang digunakan selalu sama yaitu membaca dan  menghafal, baik menggunakan media buku atau media digital. Dan banyak terdapat pro dan kontra khususnya media digital yaitu penggunaan internet. 

Pola belajar yang diterapkan khususnya di Indonesia masih menggunakan metode membaca kemudian mengingat-ingat apa yang telah dibaca, sehingga apabila siswa tidak bisa memahami apa yang dibaca dan siswa mempunyai daya ingat yang lemah akan sangat mudah lupa terhadap materi tersebut. 

Selain itu metode tersebut kurang mampu mencetak anak-anak dengan pola pikir dan daya kreativitas yang tinggi, karena siswa telah disiapkan materi yang sudah (jadi) tanpa tau asal-usul atau bagaimana materi itu bisa dijabarkan sedemikian rupa. 

Dan jika bahan belajarnya sukar, dan siswa kurang mampu, maka dapat diduga bahwa proses belajar memakan waktu yang lama. Sebaliknya, jika bahan belajar mudah, dan siswa berkemampuan tinggi, maka proses belajar memakan waktu singkat. 

Untuk itu dibutuhkan suatu media transformasi pembelajaran baru untuk mencetak anak didik menjadi pribadi yang mempunyai pola pikir yang berkemampuan tinggi dan luas serta menyajikan bahan belajar yang mudah untuk diterima siswa, dengan merubah pola belajar menghafal menjadi memahami konsep dan definisi yaitu melalui tampilan pada scrapbook.

Apa itu scrapbook ?

Scrapbook berasal dari kata Scrapbooking  (dalam bahasa inggris) yaitu metode melestarikan, menyajikan, mengatur sejarah pribadi dan keluarga dalam bentuk buku, kotak atau kartu (sumber : Wikipedia). Scrapbook memiliki tampilan yang sangat menarik, karena didesain dengan berbagai hiasan sesuai dengan keinginan pembuat. 

Oleh sebab itu scrapbook disukai banyak kalangan khususnya anak-anak. Saat ini penggunaan scrapbook hanya sebatas sebagai hiasan, kado yang hanya berisi kata-kata ucapan, kutipan-kutipan motivasi atau berisi foto-foto kenangan yang hanya bisa dinikmati keindahannya saja. Sehingga fungsinya hanya bisa dinikmati dari 1 segi saja.

Dengan adanya tampilan pada scrapbook sesuai dengan penggambaran diatas, seharusnya scrapbook juga bisa digunakan sebagai media pembelajaran sesuai dengan kreativitas pembuat dalam konteks ini yaitu siswa. Apalagi digunakan untuk media pembelajaran anak usia dini hingga menengah. Karena dengan mengasah pola pikir dan daya kreativitas sejak dini akan semakin mudah menangkap materi- materi pada jenjang selanjutnya. 

Scrapbook dapat diubah dari tampilan-tampilan foto kenangan atau kata-kata ucapan bisa diganti dengan gambar-gambar materi pelajaran, mindmap atau rumus-rumus singkat. Dengan demikian peran kertas atau buku dalam pendidikan akan tetap hidup walaupun kita berada di era digital saat ini.

Selain itu, dilihat dari sudut lain scrapbook dalam segi pembuatan tergolong sangat ramah lingkungan. Kenapa ? Karena scrapbook bisa memanfaatkan kertas-kertas bekas atau barang sisa sebagai bahan pembuatannya. Karena pada dasarnya scrapbook berasal dari kata scrap yaitu sisa dan book yaitu buku. 

Jika digabung berarti membuat buku atau album dengan barang-barang sisa. Sehingga kita dapat meminimalisir sampah-sampah disekitar kita untuk dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat. Sehingga fungsi kertas bekas yang tadinya dijadikan sebagai bungkus makanan dapat menjadi sesuatu yang sangat fungsional dan mempunyai nilai estetik tersendiri.

Scrapbook sebagai sebuah revolusi media pembelajaran

Media pembelajaran yang berbeda, misalnya film dan grafik memerlukan simbol dan kode yang berbeda, dan oleh karena itu memerlukan proses dan keterampilan mental yang berbeda untuk memahaminya. Dalam hal ini media grafis (grafika) dapat mengomunikasikan fakta dan gagasan-gagasan secara jelas dan kuat melalui perpaduan antara pengungkapan kata-kata dan gambar. 

Pengungkapan itu bisa berupa diagram, sket, atau grafik. Kata-kata dan angka-angka dipergunakan sebagai judul dan penjelasan kepada grafik, bagan, diagram, poster, kartun, dan komik. Sedangkan sket, lambang, foto dipergunakan pada media grafis untuk mengartikan fakta, pengertian, dan gagasan yang pada hakikatnya penyampaian presentasi grafis. 

Media pembelajaran yang baik tentu dapat digunakan dimanapun dan kapanpun dengan peralatan yang ada disekitar, serta mudah dipindahkan dan dibawa kemana-mana. Sehingga media grafis sangat cocok untuk diimplementasikan dalam sebuah media pembelajaran baru.

Dalam hal ini scrapbook adalah salah satu media grafis (grafika) yang sangat cocok untuk diterapkan. Karena tampilan scrapbook memuat objek-objek yang terdapat pada media grafis yang ditata secara terstruktur, rapi dan sistematis. 

Scrapbook juga dapat dijadikan sebagai media pembelajaran yang menarik dan inovatif. Karena pembuatan scrapbook mengacu pada garis besar dan hal-hal penting materi pembelajaran. Scrapbook juga dapat ditambahkan dengan gambar-gambar yang menarik sesuai dengan materi yang disusun, sehingga tampilannya memiliki nilai keindahan. 

Scrapbook dapat disusun sesuai kretivitas anak didik sehingga mereka dapat berkreasi sesuai dengan keinginan dan daya kreativitas masing-masing. Hal ini dapat menjadikan scrapbook sebagai suatu media pembelajaran yang dapat mereka sukai karena proses pembuatan dilakukan dengan usaha mereka sendiri. 

Hal tersebut juga akan berdampak pada pola belajar mereka yang tadinya malas untuk membaca buku menjadi sangat tertarik saat membuat dan membaca materi pelajaran pada scrapbook. Scrapbook dapat diaplikasikan pada semua mata pelajaran baik pelajaran eksak maupun nalar dengan tampilan-tampilan berbagai gambar, materi dan contoh soal. 

Karena pembuatan scrapbook mengacu pada garis besar materi pelajaran, maka scrapbook juga dapat dijadikan sebagai rangkuman atau resume materi-materi bahkan bisa dijadikan mindmap sehingga siswa dapat mereview pelajaran dan dapat mengetahui alur pembelajaran dengan baik dan sistematis.

Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa scrapbook selain dapat menghidupkan kembali media primitif pembelajaran yaitu kertas dan metode pendidikan yang kuno yaitu menghafal, berdasarkan proses pembuatannya scrapbook juga bisa meningkatkan daya kreativitas siswa, selain itu scrapbook bisa mengurangi kecanduan siswa terhadap internet yang dapat membuat siswa malas dalam memecahkan suatu permasalahan dalam sebuah soal dan scrapbook dapat menganalogikan masalah secara visual tanpa menggunakan media elektronik. 

Dari segi lingkungan, scrapbook juga sangat bersahabat karena dapat mendaur ulang barang-barang yang tidak terpakai. Dari sekian banyak sisi positifnya dari berbagai segi terutama pendidikan, selayaknya scrapbook dapat dijadikan sebagai media transformasi pembelajaran baru yang mengangkat kembali keberadaan kertas dan buku.