Dunia sepakbola Indonesia senantiasa mengalami perkembangan yang signifikan. Di setiap musim pertandingan tingkat Asia Tenggara, Squad Garuda selalu menduduki klasemen atas. Itu merupakan pencapaian yang cukup bagus untuk perkembangan sepakbola Indonesia kan?

Sepakbola Indonesia dapat menunjukkan performa terbaiknya di tangan para punggawa muda. Terbukti, pada ajang Piala AFF U-16 2018 Tim Nasional U-16 Indonesia berhasil mengangkat trofi juara. Pada ajang sepakbola yang diselenggarakan di Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur ini sukses melahirkan idola-idola baru bagi pecinta sepakbola.

Salah seorang pemain yang berhasil menarik perhatian saya ialah Sutan Diego Armando Ondriano Zico. Zico, begitulah sapaannya, merupakan seorang striker bernomor punggung 09 di Timnas U-16 Indonesia. Ia sukses mencetak gol demi gol ke gawang lawan saat pertandingan berlangsung. Tak heran jika ia mendapat julukan sebagai predator haus gol.

Nama Zico cukuplah unik dan banyak makna di dalamnya. Di mana merupakan kombinasi dari Minang, Brazil, dan Argentina. Ayah Zico, Oriyanto Jhosan mengidolakan Diego Armando dari Argentina dan Zico yang merupakan pemain Brazil. Dengan nama ini, ia berharap anaknya dapat memiliki jiwa kepemimpinan layaknya Zico dari Brazil dan memiliki skill ciamik seperti Diego Maradona dari Argentina.

Kepiawaian Sutan Zico dalam dunia sepakbola sudah ia tekuni sejak berumur 2 tahun. Ayahnya merupakan seorang pemain sekaligus pelatih sepakbola. Maka tak heran jika ia sudah terbiasa dengan dunia si kulit bundar ini.

Sukses di AFF U-16 tidak menjadi akhir ia dalam mengukir prestasi. Hal ini justru menjadi batu loncatan untuk kesuksesannya. Pemain asal Gunung Putri, Bogor ini memutuskan untuk bergabung ke klub sepakbola kebanggaannya sejak kecil, yaitu Persija level junior.

Kurang dari satu tahun merintis karier di Persija junior, Sutan Zico mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu ke luar negeri bersama rekan-rekannya semasa Timnas U-16 dulu. Para punggawa muda ini tergabung dalam program Garuda Select, sebuah program pembinaan pemain sepak bola usia muda Indonesia di Eropa. Di sanalah mereka mulai berlatih sepakbola dan bertanding dengan klub-klub ternama.

Selama kurang lebih 6 bulan mengikuti program Garuda Select, kepiawaian Zico semakin terasah. Ia dinobatkan sebagai ujung tombak utama penyerang Garuda Select bergantian dengan rekannya, Bagus Kahfi. Tak lupa juga turut andil sebagai jajaran top scorer dengan menghasilkan 7 gol.  Dengan prestasi ciamik ini, mampukah Sutan Zico masuk ke Persija senior?

Ternyata Zico masih dipertahankan di Persija junior, tepatnya di Persija U-18. Ia sempat bersinar di Persija U-18, akan tetapi belum mampu menembus Timnas. Walaupun pernah tergabung dalam Timnas U-19, namun ia hanya memiliki jam bermain sedikit. Zico lebih sering menjadi penunggu bangku cadangan, tanpa ada panggilan untuk turun ke lapangan.

Beberapa rekan Zico banyak yang dipanggil pelatih Timnas usia berikutnya, namun sang predator haus gol ini justru tertinggal. Ia seakan tenggelam oleh keadaan. Saya sebagai fans Zico cukup kecewa melihat kenyataan ini.  Satu demi satu fans-nya pun juga ikut meninggalkannya.

Seiring berjalannya waktu, Zico yang lama tak muncul ini memberi kabar yang cukup mengejutkan massa. Di mana ia memutuskan pamit dari Persija dan bergabung dengan klub sepakbola YouTuber ternama Indonesia, Atta Halilintar. Klub tersebut adalah  AHHA PS Pati FC. Are you kidding me, Zico?

Ya, banyak fans yang kecewa dengan hal tersebut. Sang idola yang merupakan striker hebat pada masanya, justru tenggelam secara tiba-tiba. Tak ada lagi sang predator haus gol berlalu lalang di Timnas Indonesia. Sang idola kini berselancar di lapangan artis ternama.

Pamitnya Zico dari salah satu klub sepakbola terbesar di Indonesia ini, tidak lain tidak bukan demi kebaikannya. Perlu diketahui jika persaingan di lini depan Persija sangatlah ketat. Di mana Marko Simic menjadi tumpuan utama lini depan Persija. Hal ini menyebabkan Zico tidak memiliki kesempatan untuk bermain di lapangan, sehingga ia bisa dikatakan kalah bersaing di sana.

Melihat dari kepiawaian Zico dalam mengotak-atik si kulit bundar, tentu sangat disayangkan jika ia tak mendapat kesempatan bertanding. Maka, ia pun memutuskan untuk turun kasta di klub Liga 2 dengan harapan dapat membantu perkembangan kariernya. Pihak Persija sendiri mengaku melepas Zico dengan sistem buy back, di mana kelak suatu hari ia bisa bergabung kembali ke Persija.

Dibalik keluarnya Zico dari Persija, banyak hikmah di dalamnya.  Ia berkesempatan untuk belajar di klub dengan level sedang sehingga  ia mampu berkembang. Bersama AHHA PS Pati FC, Zico memiliki jam bermain yang optimal, tidak seperti saat di Persija.  Ia juga berkesempatan untuk bertanding lebih banyak. Mengingat usianya yang masih cukup muda, yaitu 19 tahun tentu menjadi usia produktif dalam berkarya.

Sejatinya seorang pemain hebat akan kalah dengan pemain yang mendapat kesempatan terjun langsung. Skill dan kemampuan seorang pemain sepakbola jika tidak diasah dengan pertandingan, bisa jadi akan mati. Maka, tak heran jika banyak pemain yang memutuskan pindah ke klub yang mampu memberi kesempatan bermain lebih banyak, salah satunya yang dilakukan oleh Sutan Zico.

AHHA PS Pati FC saya rasa menjadi tempat yang tepat untuk Zico. Biarkan ia berlatih dan berproses secara optimal, agar kelak dapat kembali ke lapangan pertandingan besar. Kita sebagai fans harus tetap mendukung langkah Zico di manapun pilihannya. Jangan menjadi fans yang hanya ada ketika ia di atas, namun meninggalkannya saat di posisi bawah.

Selamat berproses, Zico! Teruslah belajar dalam menggapai impian. Jangan terbang karena pujian dan jangan tumbang karena cacian. Kami tunggu predator haus gol ini kembali ke lapangan. Tunjukkan jika kamu layak untuk dipertahankan.