Peneliti
2 bulan lalu · 148 view · 5 menit baca · Pendidikan 85382_99123.jpg
The Open University

Sang Penyampai Pesan

Belajar Semiotika

Pertemuan keempat mahasiswa semester enam, jurusan Manajemen Pendidikan Islam, kampus STIT Al Chaeriyah, Mamuju, Sulawesi Barat dengan dosen tamu Hartono Tasir Irwanto (Tonton) di Resensi Coffee kali ini membahas tentang Semiotika.

Di awal penjelasannya, Tonton mengatakan ini penting bagi yang berprofesi sebagai guru karena (belajar) tanda dan kata merupakan sebuah medium transformasi pesan sehingga kata-kata yang digunakan seorang guru berperan signifikan bagi pendidikan peserta didiknya.

Tonton kemudian menuliskannya dalam bentuk mind mapping di papan tulis. Semiotika ditulis sebagai tema besar dan diberi penanda segiempat lalu dibaginya ke dalam dua cabang, yaitu tanda dan kata.

Tanda

Penjelasan tentang tanda adalah sesuatu yang cakupannya lebih universal. Sebelum kata, ada tanda.

Defenisi tanda adalah subjek (sesuatu) yang karenanya akal kita berpindah pada sesuatu yang lain. Tanda bisa disebut ayat, atau dalil dalam semiotika Islam dan Sign dalam bahasa Inggris, semiotika Barat.

Menurut Tonton, ayat-ayat Tuhan terhampar di seluruh penjuru bumi. Kata adalah salah satunya yang merupakan bagian dari pelajaran semiotika.

Tonton kemudian mengklasifikasikan tanda. Tanda hakiki, tanda tabiat, dan tanda konsensus (kata). 

Tanda hakiki adalah tanda yang universal adanya tidak dibuat-buat. Tanda hakiki pun terbagi dua lagi, yaitu tanda hakiki bersuara dan tanda hakiki tak bersuara.

Tanda hakiki bersuara contohnya berteriak. Artinya, tanda ada yang bersuara, berteriak. Tanda tak bersuara, misalnya jejak kaki kucing. Tidak mungkin jejak kaki kucing yang lewat adalah ayam.

Tonton pun bertanya pada mahasiswa tentang contoh tanda hakiki bersuara dan tak bersuara. Mahasiswa pun memberikan contohnya, seperti gemercik air, gambar, dan lain sebagainya. Dulu medium komunikasi sebagai media penyampai pesan leluhur adalah gambar-gambar di dinding goa dan relief di candi.


Dari penjelasan di atas, bagi guru, diharapkan peka pada sesuatu di sekitarnya, termasuk peka terhadap apa yang terjadi pada muridnya melalui bahasa tubuh atau gesturenya.

Lalu ada tanda tabiat atau gestur adalah tanda alami sikap-sikap manusia yang berbeda satu dengan lainnya walau terkadang juga kolektif. Misalnya, coletehan Oo, dan aduh!

Ketika banyak peserta didik mengatakan kata "Oo", berarti mereka mengerti. Atau mengangguk tanda paham atau setuju.

Tanda kesepakatan atau konsensus atau kata merupakan tanda konsensus masyarakat tertentu untuk menunjuk makna tertentu pula. Kata juga merupakan medium penyampai pesan.

Kata ini dibagi dalam lisan dan tulisan. Lisan adalah kata yang bersuara. Dan tulisan adalah kata yang tidak bersuara.

Fokus pembahasan masyarakat modern menggunakan tanda yang bersuara, yaitu budaya diskusi dan literasi. Itu yang kemudian membedakan kita dengan masyarakat pemburu-pengumpul atau masyarakat prasejarah yang lebih mengedepankan medium gambar dan tanda-tanda di alam semesta.

"Namun bukan berarti kita tidak menggunakan tanda-tanda alam di semesta. Misalnya bagi nelayan, petani, dan sebagainya. Nelayan masih melihat bulan ketika akan turun ke laut, apakah akan hujan atau ikannya akan sedikit. Maksud saya, karena belajar pengetahuan modern jangan sampai membuat kita melupakan pelajaran-pelajaran klasik misalnya tanda tabiat tadi," kata Tonton.

Kemudian lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa tanda tabiat membuat kita mengetahui jika sebagai guru kita harus melihat keadaan peserta didik karena ada guru yang tidak mau berhenti bicara padahal muridnya sudah bosan.

Kata

Kata sebagai tanda yang merupakan kesepakatan masyarakat tertentu untuk menunjuk makna tertentu. Unsurnya ada pada kesepakatan dan makna. Inilah yang menjadi pembeda bahasa yang satu dengan bahasa lainnya.


Kata menunjuk makna. Tidak ada kata yang tidak menunjuk makna. Makanya, tugas sebagai pengajar menyampaikan makna secara jelas agar tersampaikan kepada peserta didik. Tujuan komunikasi guru dan murid adalah medium penyampaian makna apa yang kita pahami dan apa yang akan kita transfer.

Terkadang karena kita ingin terlihat sebagai seorang professor, doktor atau master, kita menggunakan kata-kata yang sulit dimengerti seperti Vicky Prasetyo yang berkomunikasi tidak ada hubungannya alias gak nyambung.

Contoh lain, seperti orang pacaran, ketika akan makan diluar bersama. Si cewek cuma memakai bahasa kode. Padahal si cowok tidak bisa menafsirkannya malah dianggap tidak peka. Apalagi ketika si cewek cuma mengatakan 'terserah'. Kata terserah bisa diartikan marah level dewa.

Problem-problem komunikasi seperti yang diatas jangan sampai terjadi pada guru sebagai pengajar.

Klasifikasi Kata

Kata kemudian dibagi lima (5): 1. Kata Tunggal; 2. Kata Persekutuan; 3. Kata Perpindahan; 4. Kata Hakiki; dan Majasi 5. Kata Improvisasi.

Pertama, kata tunggal adalah kata yang memiliki satu makna. Contohnya, langit. Makna yang terasosiasi cuma satu, yaitu langit karena hanya memiliki satu makna. Contoh lainnya adalah hujan, awan, dan lain sebagainya.

"Saking mudahnya, semestinya pengajar itu menggunakan kata tunggal dibanding empat kata lain yang akan dibahas nanti," kata Tonton.

Kata kedua, kata persekutuan. Defenisinya adalah kata yang memiliki lebih dari satu makna. Makna pertama dan kedua tidak ada yang saling mendahului atau dominan. Contohnya, kabur. Televisi itu gambarnya kabur dan tahanan di penjara itu kabur.

Ketiga adalah kata perpindahan. Kata perpindahan kata yang memiliki lebih dari satu makna yang mana makna pertama berpindah atau bergeser ke makna kedua.

Contoh, Aqua (merek minuman) sebagai air minuman kemasan. Ketika kita berbelanja di toko meminta Aqua tapi yang keluar adalah Waita, S3, JS, atau Binanga (merek minuman lokal).

Selanjutnya, kata keempat, kata hakiki dan majasi. Kata hakiki dan majasi adalah kata yang memiliki lebih dari satu makna dimakna kata pertama bermakna hakiki dan makna kedua bersifat majas, majasi.

Misalnya, singa. Makna yang pertama, singa adalah si raja hutan. Makna kedua, dia adalah singanya pasar (premannya pasar). Contoh kedua, merah. Merah sebagai warna dan bermakna berani.

Terakhir, kata improvisasi. Kata improvisasi adalah kata yang memiliki dua makna di mana antara makna pertama dan kedua tidak memiliki keterkaitan sama sekali. Kebanyakan ini berhubungan dengan nama orang.

Contohnya, budiman. Makna pertama Budiman adalah nama seseorang. Makna kedua adalah seseorang yang berbudi luhur walau ternyata yang empunya nama tidak berbudi luhur. Contoh lain adalah Setya. Setya merupakan penggalan nama Ketua DPR yang bermakna harfiah orang yang setia pada kejujuran.


Di akhir kelas, Tonton bertanya apa pentingnya kita belajar kata sebagai seorang guru? Apa pentingnya belajar semiotika bagi seseorang yang berimprovisasi sebagai guru?

Selain untuk menambah ilmu pengetahuan, juga untuk memperjelas pengajaran, maka diharapkan guru menggunakan kata tunggal dan mengusahan tidak menggunakan empat klasifikasi kata yang lain.

Maka kata yang digunakan sebaiknya kata-kata sederhana pada peserta didik apalagi bagi siswa SD, SMP. Apalagi ketika terjun di masyarakat bahasa yang digunakan adalah bahasa masyarakat. Seperti sabda Nabi SAW, gunakanlah bahasa kaum.

Pesan Tonton, jangan mencoba terlihat keren dengan memakai kata improvisasi dan lain sebagainya tapi makna yang ingin disampaikan tidak sampai. Apalagi tujuan dari komunikasi dan pengajaran adalah pemahaman. Dan tugas kita sebagai guru penyampaian pemahaman maka gunakan kata-kata yang mudah dipahami atau kata tunggal.

Artikel Terkait