Kau adalah seribu tanya yang ingin kucari jawabannya. Kau adalah senyum memesona yang meninggalkan jejak teka-teki.

Hubungan kita tak lebih dari kakak dan adik. Memang begitu, kau adalah kakak kelasku sewaktu SMP dan SMA. Kita sering bernostalgia bercerita indahnya masa-masa itu.

Masa-masa remaja yang manis bagai gula-gula. Ada duka, tapi tak seberapa nestapa. Lebih banyak sukanya karena belum memikirkan langkah kaki akan berlabuh di mana. Iya, bukan, Mas?

Mas, demikian aku sering memanggilnya. Dalam bahasa Jawa, sapaan 'mas' berarti suatu bentuk penghormatan. Aku sangat mengagumi sosok kepemimpinannya. Dia seorang pemimpin dalam kelompok organisasi.

Tanpa melebih-lebihkan, dia memang memesona dan berpenampilan menarik. Apalagi dengan profesi 'wah' dan kemapanannya. Tak heran, banyak perempuan mengelilingi kehidupannya dan mencoba-coba menebar umpan untuk menjadi pasangannya.

Apakah aku salah satu perempuan itu? Bisa iya, bisa tidak. Terkadang, aku ingin bersandar di bahunya yang kokoh. Tapi, di sisi lain aku hanya ingin menjadi adiknya. 

Dia menyayangiku, sebab itu dia tak ingin bermain-main dengan hatiku. Permainan hati identik melukai diri masing-masing. Entah di situasi yang lain, bisa saja berubah. Who knows?

Banyak karakter dia mencerminkan sosok yang ingin kujadikan tempat berlabuh seumur hidup. Bukan! Bukan perkara profesi, penampilan, apalagi kemapanannya. Tapi, prinsip-prinsip dalam hidupnya.

Mencari "nakhoda" hidup tidak sebatas profesi dan ketampanan, tapi seberapa yakin tak akan karam. Tentu saja, untuk mencarinya tidak cukup dengan waktu satu bulan atau dua bulan. Butuh komunikasi lebih intens supaya tidak fokus sebatas "sampul"-nya saja.

*

Dia ingat hal-hal kecil paling tidak penting dalam hidupku (nama mantanku ketika SMP). Dan, itu membuatku tertegun sejenak, "Ternyata, dia sebegitu memperhatikanku."

Pastinya, aku jadi ge-er (gede rasa). Dia memang sifatnya begitu, punya daya rekam yang tinggi dalam otaknya. Semua orang juga diperlakukannya begitu, hanya saja aku terlampau berekspektasi.

Entah itu apa, aku yakin bahwa aku dan dia ada suatu ikatan yang lain. Seperti, ketika aku menatapnya, rasanya aku sudah mengenal dia ribuan tahun yang lalu. Dan, aku menemukan sesuatu yang hilang dari diriku.

Kutegaskan lagi, hubungan ini masih berjalan secara profesional, belum ke tingkat "hati". Pasti orang-orang menganggap naif atau klise. Aku sendiri dipenuhi teka-teki.

Dia masih sebatas motivator untukku. Pekerjaannya yang berat; setahun sekali berjumpa keluarga pun tak pasti, ampuh mengurangi keluhanku. Jadi, malu sendiri mau mengeluh tiap ingat dia.

Dahulu, sewaktu SMP, aku tidak pernah melihat wajahnya. Tapi, pas SMA, tanpa sengaja sering melihatnya lewat di depanku. Dia tipe orang yang aktif sekali, tidak mau diam. Organisasi apa saja diikutinya.

Alangkah lucu mengingat masa SMA itu, aku adalah cewek cupu (culun punya) yang ke mana-mana bawa buku. Sedangkan, dia adalah kakak kelas populer yang dikelilingi cewek-cewek hits. Eh, walaupun cupu, aku punya pacar, loh.

Pacarku lumayan hits juga, hingga aku sering sakit hati karena aku hanyalah pilihan. Banyak cewek lain yang sebenarnya mengelilingi dia. Ya, aku hanya diam meskipun aku tahu seluk-beluknya seperti apa. Aku semakin merasa tidak cocok dengannya. Kubiarkan dia bebas, mungkin itu yang diimpikannya.

Belum lama ini, aku komunikasi dengan si kakak kelas, sang motivator, setelah berstatus 'sendiri'. Komunikasi singkat, padat, dan jelas. Aku paham pekerjaannya sibuk sekali. Dia tidak selalu memegang hape. Pun jika dia menatap, aku bukan prioritasnya. Pedih!

*

Lagi di mana, Mas?

Aku mengetikkan kalimat tanya itu ke WhatsApp-nya. Tidak ada balasan. Kulihat-lihat tetap seperti itu, dibaca pun tidak.

Tapi, setelah sepuluh menit kemudian, gawaiku bergetar tanda panggilan video masuk. Hah, panas-dingin tanganku. Wajar saja, refleks tubuh ketika dihubungi sosok idola. Hiyaa.

"Lagi di kelas, nih. Nanti lagi, ya." Jawabnya sambil memutar layar gawai menunjukkan anak-anak SD berseragam putih-merah duduk rapi di meja.

Oh, jadi begitu. Dia tipe laki-laki yang langsung menunjukkan bukti. Tanpa ba bi bu, langsung menunjukkan keadaannya saat itu.

Dia tipe plegmatis. Bukan kepadaku saja penyayang dan lembut, kepada orang lain pun demikian. Pernah, aku melihat status di WA-nya, dia sedang masak dengan teman-temannya. Terdengar lembut sekali kata-katanya, "Iya, ditambahi lagi nanti (bumbunya kalau kurang)."

Maksudku, lembut di sini bukan 'gemulai' yang berayun-ayun. Bukan! Lembut yang identik dengan jiwa penyayang, seperti penjiwaan seorang bapak. Begitulah dia memperlakukan orang lain.

Ketika pertama kali berdialog dengan dia, aku terkejut bukan main. Wajahnya menyeramkan sekali, garang tanpa ampun. Dengan rahang yang tegas dan rambut cepaknya, semakin mengesankan keangkuhan.

Tebakanku salah telak, ternyata dia humoris. Dia kerap melemparkan candaan yang membuatku merasa bersalah telah mengira dia bak drakula penghisap darah. (Hihi, maaf, ya Mas.)

"Kok belum tidur?" Suatu malam dia menghubungiku larut sekali. Aku maklum, pekerjaannya memang menuntut kesiagaan.

"Amnesia, Dek."

"Hah, amnesia? Insomnia maksudnya?" Aku langsung terperangah dan tiba-tiba hilang selera tidur.

"Eh, iya, insomnia." Tanpa rasa bersalah, dia cengar-cengir saja melihatku.

Aku sadar, ternyata dia sedang guyon (melawak) saja, tidak benar-benar amnesia. Aku hanya geleng-geleng kepala, ternyata kontradiksi dengan wajahnya yang seram. Hehehe.

Ya, itu komunikasi via panggilan video. Aku tak pernah langsung bertatap muka dan meraba wujudnya. Keadaan itu membuatku nyaman-nyaman saja, mengingat sudah pernah satu sekolah dengannya.

*

"Hidup ini butuh perjuangan, Dek!"

Satu kalimat, tapi langsung manuver parah di hatiku. Aku suka semangat bertarungnya dan cara menikmati tiap detik suka-duka dalam hidupnya.

Kata-katanya sering membangkitkanku dari keterpurukan hidup. Bukan karena dia, sosok idola, yang mengatakannya. Tapi, makna yang terkandung di dalam kata itu.

Saat dia tahu, aku terluka parah karena cinta, dia bilang, "Sudah, dinikmati saja. Kalau jodoh tak akan ke mana." Benar juga, kuikat seperti apa pun, yang takdirnya lepas pasti lepas.

Kita sama-sama petualang, kita sama-sama sosok yang tidak begitu saja menyerah pada satu pilihan. Kita sama-sama tak ingin melepas lajang dengan mudah.

Karena itu, aku mengagumimu. Aku semakin ingin tenggelam mencari jawaban atas pertanyaanku. "Mas, Apa kabarmu di sana? Jauh di ujung pandangan, aku sering menyelipkan namamu dalam rapalan doaku kepada semesta semoga sehat selalu."

Meski kau orang terpandang, kau tetap santun terhadap sesama. Kau kerap membagikan momen dengan anak-anak kecil. Betapa aku mengagumimu dengan kerendahan hatimu itu.

Kau juga tidak merokok, meski lingkunganmu penuh dengan perokok. Aku tidak terlalu antiperokok yang sampai melarang-larang. Tapi, bertahan di tengah lingkungan perokok adalah sebuah prinsip luar biasa. Kau seakan membuktikan, bahwa kau tak akan terbawa arus.

Mas, jika mungkin ada kesempatan kita berdialog lagi, aku punya sejuta tanya untukmu. "Apa yang kau cari di dunia ini?" Sebab, aku melihatmu begitu indah, tapi tak kunjung juga berlabuh.

Apakah kita akan saling berlabuh? Sebab, semesta telah mengabadikanmu dalam namaku.