Karyawan
1 bulan lalu · 172 view · 3 menit baca · Lingkungan 78324_12111.jpg
PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk, Serang Mill

Sang Kertas Pembawa Kehidupan

Bertahun-tahun yang lalu, saat aku masih kecil, Ayah pernah mengajak kami sekeluarga melintasi Perawang, kota kecil yang terletak 59 km dari pusat kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Waktu itu kami hanya berlalu menyeberangi sungai Siak menuju kota Siak.

Pepohonan tumbuh begitu saja sepanjang jalan. Sesekali aku melihat rumah penduduk, sesekali tampak anak-anak bermain di luar rumah bersama teman seumuran. Kala itu jalan lintas masih sempit, sebagian berlubang dan dipenuhi kubang. Tak jarang kepalaku dan kepala kakakku beradu ketika mobil yang kami naiki kepergok lubang.

Sambil menunggu antrean penyeberangan, aku dapat melihat asap mengepul dari balik pepohonan, menjulang tinggi sampai ke langit. Ayahku bilang kalau itu adalah asap pabrik kertas.

Aku masih sangat kecil untuk mencerna cerita-cerita saat itu. Tidak banyak yang kuingat. Ayah pernah punya sebuah mobil colt diesel dan membeli kayu dari warga untuk dijual ke pabrik tersebut.

Bertahun kemudian, pabrik kertas itu sudah tidak menerima kayu dari luar lagi. Mereka menanam pohon mereka sendiri, atau tepatnya masa panen telah tiba, sehingga tidak perlu lagi membeli bahan pokok dari luar.


Penyeberangan kapal feri sudah tidak lagi ramai. Sebuah jembatan telah dibangun tak jauh dari areal tersebut, memudahkan siapa saja melintasi sungai Siak. 

Pepohonan yang dulu tumbuh di sepanjang jalan kini berubah menjadi rumah-rumah beraneka warna. Tentunya anak-anak kecil tidak tampak bermain di luar rumah seperti dulu. Jalan lintas juga sudah diaspal mulus, bahkan ada 2 jalur di pusat keramaian Perawang.

Semua orang setuju kemajuan yang diraih kota kecil itu tak terlepas peran dari pabrik kertas yang kini kutahu namanya adalah PT Indah Kiat pulp and paper (IKPP). Perusahaan tersebut juga memberi berbagai manfaat yang dirasakan masyarakat sekitar, mulai dibentuknya program Desa Makmur Peduli Api hingga perputaran keekonomian masyarakat yang berpusat pada perusahaan tersebut.

Menurut data BPJS tahun 2015, ada 34.000 orang karyawan perusahaan tersebut, ditambah ribuan kontraktor dan sub yang menggantungkan hidup dari IKPP Perawang.

Sebagian yang kutemui belakangan sudah bekerja lebih dari 25 tahun. Antara nyaman dan tidak punya pilihan, karyawan-karyawan loyal ini mengakui bahwa IKPP telah mengubah hidupnya, membawa harapan yang semula tidak mereka yakini.

Ahmad, seorang Purchaser yang hampir menginjak usia kepala 5, bekerja sejak 1993. Ia mengatakan kalau dirinya ingin menghabiskan waktu produktif yang ia miliki di perusahaan itu karena memang di situ awal dan akhir karier yang ia inginkan.

Begitu pula dengan Agus, seorang kepala seksi salah satu divisi IKPP Perawang yang memiliki 4 anak, menceritakan bagaimana awalnya ia merantau, menemukan jodoh, dan berkembang seperti sekarang. IKPP Perawang memberikan sesuatu yang dibutuhkan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Dalam perjalanannya, pro-kontra selalu ada. Di samping manfaat yang diberikan, ada pula sebagian yang beranggapan perusahaan seperti IKPP Perawang hadir untuk menjadi monster perusak lingkungan. 


Seperti diberitakan beberapa portal daerah Riau pada 20 September 2017, terjadi unjuk rasa mengenai dugaan pencemaran lingkungan dan penggunaan bahan Kimia Klorin. Akan tetapi, dugaan tersebut tidak terbukti secara pasti.

Aku melihat alih-alih isu pencemaran lingkungan muncul ke permukaan, IKPP Perawang makin menunjukkan bukti ketidakbenaran tersebut dengan cara-cara yang lembut dan sesuai aturan. Mereka menanam kembali lahan-lahan mereka dengan bayi Ekaliptus dan Akasia sebagai bahan baku pembuatan kertas dan bubur kertas.

Berkembang, kota Perawang bahkan diramalkan sebagian orang akan mati dan ditinggalkan apabila IKPP Perawang berhenti beroperasi atau dipindahkan menjadi perusahaan besar ke Oki, Palembang, yang mana di sana terdapat pula cabang perusahaan kertas milik Sinarmas seperti IKPP Perawang.

“Bayangkan, Perawang bukan tempat yang dilalui siapa-siapa kecuali urusan bisnis IKPP,” kata Alfandi, mantan karyawan Chevron yang kebetulan mampir ke rumahku untuk urusan Kucing beberapa waktu lalu. “Buat apa orang tinggal di Perawang kalau IKPP gak jalan lagi, mau invest juga gak ada gunanya?”

Alfandi mungkin benar. Perawang bukan sesuatu yang menarik tanpa IKPP. Seolah tubuh tanpa nyawa apabila suatu saat perusahaan tersebut mengambil kebijakan yang mengharuskan IKPP Perawang berhenti operasi. 

Akan tetapi, jika diperhatikan perkembangannya, kertas dapat tetap eksis dalam penggunaan yang makin beragam dan produk-produk beraneka ragam.

Tergantung bagaimana IKPP Perawang bertransformasi, menyesuaikan kebutuhan dunia dalam urusan kertas. Jika berjalan pada aturan dan sistem yang benar, maka kertas-kertas IKPP Perawang akan terus membawa serta memberi kehidupan bagi lingkungan yang lebih luas daripada saat ini.


Di Perawang, aku menikmati senja sore bersama istri dan bayi perempuan kami di tepi sungai Siak, sebelah penyeberangan feri yang kini sepi. Kami melihat matahari terbenam, dan beberapa kapal pengangkut barang berjalan lambat menarik beban. 

Anakku mungkin tak akan pernah tahu perubahan-perubahan yang telah berlalu, betapa kehidupan telah terbangun di tempat ini. Tapi, aku yakin kertas-kertas itu akan membawa serta kehidupan di masa depannya.

Artikel Terkait