Cahaya langit mulai berubah, aku dan suamiku bergantian keluar masuk rumah, mengambil bahan dan peralatan, kemudian meletakkannya pada sebuah gerobak dorong warisan mertua. 

Pekerjaan ini dulu memang dilakukan mertua, bahkan Beliau terkenal dengan pedagang yang baik. Entah bagaimana asal mulanya, tetapi hal itu juga yang membuat suamiku memutuskan untuk mengikuti jejak sang ayah, menjadi pedagang nasi goreng keliling.

Dengan begitu, setiap matahari terbenam, aku dan suamiku berangkat mengelilingi beberapa perumahan. Setiap harinya kami harus berjalan kurang lebih 1 Kilometer jauhnya, terkadang hanya mangkal di beberapa tempat yang dikira cukup ramai pembeli. Salah satunya di bawah pohon angsana tua itu, pohonnya juga rindang. Mungkin saat siang banyak juga beberapa pedagang keliling yang mangkal di sini, karena terlihat di sekelilingnya ada sampah jajan.

Seperti biasa, kuletakkan dua atau tiga kursi di depan gerobak kami. Tak perlu menunggu lama, 5 menit kemudian sudah ada orang mengantre. Aku membantu suamiku untuk mengantar dan membungkus nasi goreng. Kadang, sekali-kali aku bergantian dengannya.

Sudah hampir 20 menit setelah pembeli terakhir yang mengantre tadi, tak ada lagi orang yang datang. Aku mengajak suamiku untuk berpindah tempat atau berkeliling saja agar lebih cepat habis, dan akan lebih banyak waktu juga untuk memanjakan tubuh ini.

Ketika suamiku hendak mendorong gerobak, tiba-tiba saja ada seorang kakek yang hendak membeli nasi goreng ini. Wajahnya sudah sangat terlihat tua, penampilannya juga begitu lusuh. Pakaian sederhana dengan ditemani sekantong plastik hitam berukuran sedang yang kusam di tangannya, sungguh seperti pengemis jalanan saja. Kami pun membatalkan niat untuk beranjak pergi, kemudian kusiapkan tempat duduk untuknya. 

Suamiku sudah mulai membuatkan satu porsi untuk kakek, saat ia makan aku merasa kasihan,  sungguh tidak sampai hati jika harus melihat orang tua sepertinya hidup sebatang kara.

Suamiku sepertinya juga tidak tega melihatnya, ia telah melarang kakek itu untuk membayarnya dan juga memberikan beberapa sedikit uang dari hasil kerja tadi, tapi kakek malah menolak. Mungkin kakek merasa merepotkan sudah diberi gratis makan masih juga harus menerima uang.

Malam berikutnya kami tetap saja mangkal di bawah pohon angsana tua itu, bahkan ia sudah menjadi saksi atas semua kejahatan yang kuperbuat setelah kejadian malam kemarin. Kali ini begitu sangat ramai pembeli, terlihat kakek itu ikut mengantre dengan beberapa orang itu, tak lupa ia masih saja menjinjing kantong plastik kusamnya. 

Dan tetap seperti kemarin, kami memberikan seporsi nasi goreng gratis kepada kakeknya, ternyata kejadian itu bukan hanya terjadi pada malam kemarin atau sekarang, nyatanya kakek itu setiap hari menghampiri. Mungkin awalnya aku biasa saja dan coba mengerti dengan keadaan sang kakek, tetapi hingga suatu hari rasa sabar dan kasihan itu menurun.

Aku sudah tak tahu malam ke berapa ini melihat sang kakek berkantong plastik itu, sekarang terlihat ia berada di antrean terakhir. Otakku pun sudah mulai berputar menentukan cara yang tepat untuk mengatasinya agar tidak kembali lagi. “Nak, beli satu porsi ya?”

Dengan senyuman palsu aku menjawab, ”Maaf, kek, nasi gorengnya sudah habis, ini saja sudah buat yang sebelumnya.” Suamiku hendak membantah ucapanku, tapi aku coba memalingkannya untuk segera membuat pesanan yang belum.

Setelah kejadian itu, suamiku mulai menasihati, karena tak pantas jika harus berbohong untuk membuat sang kakek tak datang lagi. Aku bukannya malah diam atau meminta maaf, aku tambah menjadi marah karena merasa kakek memanfaatkan kebaikan yang telah kuberikan.

Mungkin malam ini akan sedikit berbeda, karena tak akan kutemui lagi wajah kakek itu, pikirku. Tetapi saat langkah kami mulai dekat dengan pohon angsana itu, terlihat sang kakek sudah menunggu kita di sana. Sampai akhirnya terjadilah perselisihan antara aku dan suamiku. Aku menyuruhnya untuk berputar, tetapi ia malah ngeyel.

“Jika kau masih ingin ke sana, maka aku akan pulang saja!” bantahku. Tetapi ancamanku sudah bagaikan angin bagi suamiku. Ia tetap mendorong gerobak dan pergi meninggalkan aku begitu saja. Mungkin kakek itu juga bisa melihat perselisihan kami.

Saat tengah malam suamiku sudah selesai, tapi aku masih tetap marah. Terdengar langkah kaki suamiku masuk ke kamar, kemudian ia memberikan sebuah kantong plastik di hadapanku. Katanya, itu tanda minta maaf kakek, tapi aku masih tetap diam, dan tak sedikit pun mau berbicara dengannya. “Ya sudah, kutaruh saja ini di atas kulkas,” kata suamiku.

Karena kejadian kemarin, aku tak membuatkan secangkir kopi untuk suamiku di pagi hari ini. Suamiku pasti sudah sangat hafal dengan kebiasaanku sedang marah, maka dari itu ia pergi ke warung kopi. Setelah suamiku sudah tak terlihat lagi di ambang pintu, aku memutar-mutar radio kuno ini, mencari satu siaran favorit.

“Kembali lagi bersama kita bincang-bincang dunia, wah kamu tahu tidak info terunik saat ini nih?” tanya salah satu penyiar radio.

“Tahu dong, pasti tentang kakek tanpa dompet itu, kan?" penyiar radio lainnya.

“Wah benar banget, jadi teman-teman sang kakek itu adalah orang kaya raya. Anehnya, ia menyimpan uangnya di kantong plastik hitam, wah unik, bukan?”

Seketika aku teringat kantong plastik atas kulkas.