Tanggal 16 Desember, tanggal mengenang Soe Hok Gie yang meninggal sehari sebelum hari lahirnya. Seorang intelektual kritis di dua rezim, yang dikenal vokal melawan kesewenang-wenangan kekuasaan orde lama dan orde baru.

Lewat tulisan-tulisannya, catatan hariannya, dan potongan-potongan puisinya, ia dikenal sebagai seorang intelektual bebas, menjalani lorong-lorong hidup dengan penuh kesendirian. Ia berakhir di tempat ia sering menyepi mengusir sepi. Ia meninggal dalam suatu pendakian di Semeru, dalam usia muda (26).

Di bulan ini pula, kita kembali diingatkan akan tokoh intelektual lainnya, seorang aktivis politik yang sampai hari ini tidak diketahui rimba keberadaannya. Ia hilang atau lebih tepatnya dihilangkan paksa oleh rezim penguasa orde baru karena puisi-puisinya yang tajam menyingkap ketidakadilan. Ia adalah Widji Thukul, yang kisah tentang kesunyian perjalanan pelariannya sebagai buron politik, diangkat ke dalam layar kaca “Istirahatlah Kata-Kata” karya Yosep Anggi Noen.

Dalam “Istirahatlah Kata-Kata”, Anggi seolah ingin membawa kita untuk meresapi personifikasi sisi-sisi manusiawi sang tokoh. Kehidupan yang penuh dengan kesepian, terlunta-lunta dalam suatu pelarian. Yang mengesankan betapa tipisnya jurang pisah antara kehidupan dan kematian itu sendiri, yang dipikul oleh seorang manusia idealis dengan tubuh kerempeng seperti Widji.

Gie dan Widji, merepresentasikan suatu kenyataan, bahwa di balik kebesaran namanya, di balik ketajaman tulis dan puisinya, ada suatu kenyataan manusiawi yang ia pikul dengan berat, yaitu tentang nasib dan jalan hidup sebagai seorang intelektual kesepian yang ‘diasingkan’.

Menjauh dari teman, menjauh dari kerabat dan keluarga. Untuk memilih hidup yang penuh teror dan ancaman. Tanpa bisa mengukur dengan pasti arah dan akhir dari pilihan-pilihan hidup yang ia jalani. Yang akhirnya menyisakan pergulatan. Ketegaran dan keputusasaan bercampur berbaur dalam wujud pergolakan-pergolakan batin.

“Untuk apa semua ini aku lakukan? Yang pada akhirnya hanya mendatangkan banyak musuh?” Begitu kegelisahan Gie. Fragmen kegelisahan-kegelisahan manusiawi dari keterasingan yang ia rasakan. Untuk menggambarkan sisi-sisi pergulatan batin yang menderanya. Seperti dengan Widji, yang harus nekat ‘menerobos’ kegentingan, demi rindu batin tak tertahan, pulang menemui keluarganya dalam diam sekejap.

Gie dan Widji, adalah kisah tentang bagaimana manusia memenangkan keberanian atas rasa takut. Memenangkan idealisme dari pragmatisme dan oportunisme. Dan juga tentang manusia yang memilih risiko jalan hidup dari kekonsistenan perjuangan.

Hidup berkalang kesepian, kesendirian, penderitaan, dan ancaman, adalah gambaran hidup yang menanti. Ini adalah jalan hidup yang menanti  intelektual yang memilih diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.

Meski mereka sama-sama berasal dari kalangan minor. Gie minoritas karena identitasnya, dan Widji minor karena kelas sosialnya sebagai rakyat jelata. Namun, pada akhirnya Gie telah menjadi pohon oak, yang lantang dan tegar menantang badai. Dan Widji benar-benar telah menjadi peluru.

Ia benar-benar telah menabur benih di tembok-tembok kekuasaan yang dibangun para tiran. Yang akhirnya benih itu tumbuh bersama keyakinannya tentang tirani yang harus tumbang. Kata-katanya yang tak ubahnya benih yang ia tabur, benar-benar berlipat ganda dalam keabadian untuk melawan.

Meski Gie dan Widji memiliki perbedaan, sepertinya dalam konteks batin jalan hidup seorang pejuang, ia bertemu di titik yang sama. ”Nasib adalah kesunyian masing-masing,” begitu sabda Chairil Anwar. Jalan-jalan para intektual rakyat adalah jalan-jalan penantian akan kesunyian. Disunyikan oleh ganasnya kekuasaan yang menindas.

Kepada mereka kita belajar, bahwa tentang resiko hidup yang menjadi pilihan atas jalan-jalan perjuangan kaum-kaum intelektual rakyat. Jalan hidup yang jauh dari sekadar kongkow-kongkow intelektual di hotel atau di istana-istana pergumulan kekuasaan yang mengasyikkan.

Jalan intelektual adalah jalan keterasingan dan kesepian di tengah ketidakwarasan dan kegilaan yang melanda. Perjuangan dalah jalan penuh resiko. Sebab Kebebasan dan cita-cita akan keadilan tidak pernah lahir di ruang hampa.

Ia bukan pemberian melainkan semata karena hasil perjuangan. Apa yang menunggu di depan mata yang paling dekat adalah keterasingan. Bahkan dalam hal kematian sekalipun. “ ... orang-orang seperti kita tidak pantas mati di tempat tidur,” tegas Gie.

Gie dan Widji, kepada mereka, mengingatkan aku pada kata-kata Pram, bahwa hidup adalah soal keberanian!