Awalnya, aku tertarik membeli buku karya Paulo Coelho ini dari judulnya terlihat usang, jadul. Tetapi, memiliki sesuatu yang bermakna nilai spiritual sekaligus tersembunyi, dan dalam, "Manuskrip yang ditemukan di Accra".

Tulisan dari Coelho yang ada di tanganku ini adalah buku cetakan kelima, Juni 2019 yang diterbitkan pertama kali pada 2014 oleh PT Gramedia. Buku yang kubeli di sebuah toko buku Jogja, Juli 2019. Namun, buku ini baru sempat kubaca di ramadan tahun ini.

Tahun kemarin, ketika membacanya secara cepat, aku tidak mengerti apa isi buku ini, belum mendapat "feelnya". Tetapi, ketika kitab ini kubuka lagi, aku menemukan diriku sendiri di dalamnya.

Benar saja, seperti kata-kata disampul belakang; di tangan Paulo Coelho, Manuskrip yang ditemukan di Accra menunjukkan siapa diri kita; ketakutan dan harapan kita untuk masa depan berasal dari pengetahuan serta keyakinan yang ada dalam diri kita, bukan dari kesulitan yang mengepung kita.

Cerita dari novel ini bermula tentang cerita dari tokoh yang bernama, "saya". Saya kemudian menceritakan isi salinan manuskrip ini yang sempat juga dikatakan sebagai papirus. Papirus yang merupakan terjemahan-terjemahan bahasa Yunani atau teks-teks yang ditulis antara akhir abad pertama SM dan M 180, terdiri atas sejumlah karya yang juga dikenal sebagai Kitab-kitab Apokrif. 

Isi salinan itu berisi studi kasus yang dipertanyakan beberapa golongan dari masyarakat, kemudian pertanyaan tadi akan dijawab oleh seseorang yang dianggap sebagai Sang Guru.

Dikatakan bahwa Sang Guru adalah orang yang aneh (halaman 19). Sang Guru adalah cendekiawan, yang melakukan pekerjaan duniawi seperti menggolongkan benda-benda, membahas politik. Namun, tidak mengerti apa yang telah dikatakannya. Sehingga, beliau meminta Energi Ilahi untuk memurnikan hatinya (halaman 21).

Salinan Pertanyaan 

Subbab dari isi buku ini merupakan salinan pertanyaan orang-orang pada sang Guru, kemudian jawaban dari sang Guru. Dan salinan-salinan pertanyaan itu adalah; Lalu tetanggaku Yakob berkata: “Ajari kami tentang kekalahan.” (halaman 23).

“Jabarkanlah tentang mereka yang kalah,” pinta seorang saudagar ketika melihat sang Guru sudah selesai berbicara (halaman 31).

“Ceritakanlah tentang kesendirian,” kata perempuan muda yang akan menikah dengan putra salah satu orang terkaya di kota itu, namun kini harus pergi mengungsi (halaman 37).

Lalu seseorang anak lelaki yang terpilih sebagai salah satu yang akan pergi, mengoyak pakaiannya dan berkata: “Kotaku menganggap aku tak cukup layak untuk maju perang. Aku tak berguna.” (halaman 45).

Dan seorang perempuan penjahit bernama Almira berkata: “Sesungguhnya aku bisa saja pergi sebelum tentara-tentara itu datang, dan seandainya aku pergi, saat ini aku tentu sudah bekerja di Mesir. Tetapi sejak dulu aku takut pada perubahan.” (halaman 55).

Lalu seseorang berkata: “Ketika segalanya tampak kelam, kita perlu menambah semangat. Maka, bicaralah pada kami tentang keindahan.” (halaman 67).

Lalu seorang pemuda yang mesti berangkat malam itu juga berkata, “Aku tak pernah yakin, arah mana yang mesti kuambil.” (halaman 75).

Lalu seorang perempuan yang usianya sudah tidak muda lagi namun belum bersuami, berkata: “Cinta selalu melewatiku begitu saja.” (halaman 83).

Namun ada seorang pemuda yang tidak sependapat: “Kata-katamu indah, tapi sesungguhnya kami tak pernah punya banyak pilihan. Nasib kami telah direncanakan oleh kehidupan dan masyarakat kami.”

Seorang lelaki tua menimpali: “Dan aku tak bisa kembali untuk memulihkan momen-momen yang hilang itu.” (halaman 91).

Lalu istri seorang saudagar berkata: “Bicaralah pada kami tentang seks.” (halaman 101).

Lalu salah satu pejuang yang besok akan menjemput ajal namun toh memilih untuk datang ke lapangan dan menyimak perkataan sang Guru berkomentar: “Kami terpecah-belah, padahal kami menginginkan persatuan. Kota-kota di jalur para penyerbu menderita akibat perang yang tidak mereka inginkan. Apa yang harus dikatakan orang-orang yang berhasil selamat pada anak-anak mereka?” (halaman 109).

Seorang perempuan muda yang jarang keluar rumah karena merasa tak seorang pun tertarik padanya, berkata: “Ajari kami tentang keluwesan.” Setiap orang di pekarangan itu menggerutu: “Apa gunanya pertanyaan itu? Sebentar lagi kita akan diserbu, dan darah akan mengalir di setiap jalanan kota ini.” Namun sang Guru tersenyum, dan senyumnya bukan senyum mengejek, namun senyum hormat atas keberanian perempuan muda itu (halaman  119).

Dan seorang lelaki yang selalu bangun pagi untuk menggiring kawanan dombanya ke padang rumput di seputar kota berkata: “Kau telah menempuh ilmu, sehingga lidahmu fasih berkata-kata dengan indah, sedangkan kami harus bekerja untuk menghidupi keluarga kami.” (halaman 125).

Lalu orang yang tadi bertanya tentang pekerjaan, menanyakan hal lainnya: “Mengapa ada orang-orang yang lebih beruntung ketimbang yang lainnya.” (halaman 133).

Dan Almira, yang masih meyakini bahwa pasukan malaikat dan para penghulu surga untuk melindungi kota suci itu, berkata: “Bicaralah pada kami tentang mukjizat.” (halaman 141).

Lalu seorang lelaki yang mendengarkan lagu-lagu perang dari balik tembok-tembok kota itu, dan mencemaskan keluarganya, berkata: “Bicaralah pada kami tentang kecemasan.” (halaman 149).

Lalu seorang anak muda berkata, “Beritahu kami tentang masa depan.” (halaman 157).

Lalu seorang lelaki yang bisa menulis, dengan tergesa-gesa mencoba mencatat setiap patah kata yang terucap dari mulut sang Guru, lantas berhenti sejenak untuk beristirahat dan merasa seperti orang kerasukan. Lapangan itu, wajah-wajah lelah itu, para pemuka agama yang mendengarkan sambil membisu, semuanya seolah-olah bagian dari mimpi. Maka untuk membuktikan bahwa pengalaman ini sungguh nyata, dia pun berkata: “Bicaralah pada kami tentang kesetiaan.” (halaman 165).

Lalu seorang pria yang dahinya sudah kerut-merut oleh usia, dan tubuhnya penuh bekas luka dari sekian banyak pertempuran yang dilaluinya, berkata: “Bicaralah pada kami tentang senjata-senjata yang mesti digunakan kalau sudah taka da cara lain lagi.” (halaman 171).

Di tengah para pendengar itu ada seorang pemuda. Ketika melihat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala, yang menandakan pertemuannya dengan sang Guru akan berakhir, dia pun bertanya: “Bagaimana dengan musuh?” (halaman 179).

Jawabannya adalah wejangan dan bahasanya puitis

Semua permasalahan hidup yang akan dijawab dengan arif dan bijaksana oleh sang Guru tanpa menggurui karena beliau banyak menganologikan permasalahan dengan sesuatu dan bahasanya sangat puitis. 

Misalnya, mengambil alam sebagai perumpamaan. Misalnya, tentang cinta yang tak terbalas, cinta hanya datang melewati. Namun, cinta harus diekspresikan. Kita mencintai karena kita butuh mencintai. Kalau tidak, cinta kehilangan seluruh maknanya dan matahari pun berhenti bersinar.

Sekuntum mawar memimpikan berada di tengah kawanan lebah, namun tak satu lebah pun mendatanginya. Matahari bertanya: “Tidakkah kau lelah menunggu?”

“Ya,” sahut Mawar itu, “tetapi apabila aku menutup kelopak-kelopakku, aku akan layu dan mati.” (halaman 86).

Dan Sang Guru Menjawab tentang "New Normal"

Apalagi hari ini, di saat kita menghadapi pandemi ini, kita butuh guru. Sang Guru spiritual, kita butuh nasehat, wejangan-wejangan sang Guru spiritual yang sangat bijak dan berlaku untuk hari ini . 

Ketika kita menghubungkan pernyataan dari sang Guru tentang tatanan "New Normal" yang butuh penyesuaian. Dan si Covid-19 sebagai Tamu Tak Diundang yang aku temukan di bagian salinan tentang "Perubahan hidup";

Kita takut untuk berubah, sebab setelah begitu banyak usaha dan pengorbanan, kita merasa sudah betul-betul mengenal dunia yang sekarang ini. Mungkin dunia ini bukan yang terbaik, dan kita tidak sepenuhnya puas, tapi setidaknya dunia ini tidak akan memberikan kejutan-kejutan yang tidak menyenangkan. Kita tidak bakal keliru mengambil jalan.

Bilamana perlu, akan kita buat beberapa penyesuaian kecil supaya semuanya berlanjut seperti sediakala (halaman 57).

...

Kita selalu patuh pada sang Tamu Tak Diundang. Dan kita mau mengubah semuanya karena kita takut pada nya; kita pun pindah ke desa lain, mengubah kebiasaan, mengganti sepatu, makanan, perilaku. Kita tak bisa meyakinkan sang Tamu Tak Diundang untuk membolehkan kita tetap sebagaimana adanya. Tak ada kompromi.

Kita juga mau mendengarkan Malaikat Pembawa Kabar Baik, tapi kita bertanya padanya, "Kemana jalan ini menuju?"

"Ke kehidupan baru," demikian jawabannya (halaman 59).

Manuskrip memang produk catatan masa lampau. Namun, ilmunya bisa dipakai untuk masa depan dimana para leluhur kita telah melewati masa-masa itu. Sehingga, kita bisa mengambilnya sebagai pelajaran.

Menurutku, buku ini wajib dibaca, karena buku ini membebaskan diri kita menjadi diri sendiri, lepas dari rasa cemas (halaman 151) dan menjadi Sesuatu yang terbaik, keberhasilan dari diri kita sendiri tanpa perlu takut pada kesulitan (halaman 135). 

Novel yang mengajarkan banyak hal dan menghubungkan banyak hal tadi dengan Cinta pada semua sisi kehidupan. “Cinta hanya sebuah kata, sampai kita biarkan cinta itu menguasai kita dengan segenap dayanya.” (halaman 89).

Love, sang novelis, Paulo Coelho.