Tepat pada 30 Mei 1431, Jeanne d'Arc mengembuskan napas terakhirnya. Jeanne d'Arc adalah seorang wanita Prancis yang bertarung dengan gagah berani di tengah Perang Seratus Tahun. Dikatakan kalau ia bertarung atas "penglihatan" yang diberikan oleh Tuhan padanya.

Meskipun keberaniannya berhasil mengembalikan takhta Prancis ke tangan ahli waris wangsa Valois, Charles VII, Jeanne dituduh sebagai wanita gila dan sesat. Setelah ditangkap oleh pasukan Anglo-Burgundi, Jeanne dibakar di tiang pancang.

Cerita tentang keberaniannya pun menyebar luas di daratan Eropa saat dirinya dikanonisasi sebagai santa (orang suci) dari Prancis pada1920. Mengingat akan kisahnya yang legendaris membuat Jeanne berulang kali muncul di layar lebar. 

Film pertamanya adalah La passion de Jeanne d'Arc (1928), lalu Joan of Arc (1948) yang dibintangi oleh Ingrid Bergman, dan kemudian The Messenger: The Story of Joan of Arc (1999) yang mungkin menjadi salah satu versinya yang paling terkenal.

Sebagai martir, seorang santa dan pemimpin militer, Jeanne mengaku kalau ia bertindak di bawah bimbingan Tuhan, terutama ketika memimpin tentara Prancis di tengah Perang Seratus Tahun.

Asal mula nama Jeanne d'Arc

Sebelum Jeanne lahir, Prancis sedang berada di titik terendahnya. Pada saat itu, Inggris hampir menjadi "monarki ganda" dengan menjadikan Prancis sebagai kerajaan di bawah pemerintahannya. Sejarawan Kelly DeVries bahkan mengatakan kalau “Kerajaan Prancis tidak menampakkan bayangan kekuasaannya sejak abad ke-13.”

Lahir pada 6 Januari 1412, Jeanne d'Arc (atau dalam bahasa Inggris, Joan of Arc) adalah putri seorang petani dari desa Domrémy, Loraine, yang terletak di timur laut Prancis. D'Arc sendiri adalah ejaan yang familiar digunakan oleh sejarawan pada abad ke-19. 

Dalam buku Icons of the Middle Ages, Margaret Joan Maddox menyebutkan kalau variasi penyebutan nama belakang Jeanne mencangkup Dars, Day, Dai, Darx, Darc, Tarc, dan Tard. 

Selama persidangannya, Jeanne sering menyebut dirinya sebagai "Jehanne la Pucelle" ("Joan the Maid") dan bersaksi kalau dia tidak tahu nama belakangnya. Jeanne kemudian menjelaskan kalau ayahnya bernama Jacques d'Arc dan ibunya bernama Isabelle Romée. 

Meski begitu, sumber sejarah lain menyatakan kalau ibu Jeanne bernama Isabelle de Vouthon. Dengan melihat beberapa kemungkinan ini, nama aslinya mungkin Jehanne d'Arc, Jehanne Tarc, Jehanne Romée atau mungkin Jehanne de Vouthon. 

Kemenangan di Orléans

Sejak berusia 13 tahun, Jeanne mulai mendengar suara-suara dan penglihatan yang menurutnya dikirim oleh Tuhan. Dalam visinya, Tuhan memberikan Jeanne dua misi utama, yakni menyelamatkan Prancis dengan mengusir musuh-musuhnya (Inggris dan Burgundi) dan mengangkat Charles sebagai raja Prancis yang sah.

Pada Mei 1428, dituntun oleh visinya, Jeanne pergi ke Vaucouleurs untuk bertemu dengan Robert de Baudricourt, komandan garnisun yang mendukung Charles. Pada awalnya, Baudricourt menolak permintaan Jeanne dan membuat gadis desa itu kembali ke rumahnya.

Namun pada Januari 1429, Jeanne kembali ke Vaucouleurs dengan membawa beberapa penduduk desa yang menyebutnya sebagai "sang dara" dalam ramalan yang ditakdirkan untuk menyelamatkan Prancis.

Jeanne pun memotong rambutnya dan mengenakan pakaian pria untuk melakukan perjalanan 11 hari melintasi wilayah musuh ke Chinon, istana tempat Dauphin, Charles VII, bersemayam.

Sesampainya di sana, Jeanne berjanji pada Charles bahwa dia akan melihat penobatannya sebagai raja di Reims, dan meminta agar memberinya pasukan untuk memimpin serangan ke Orléans yang sedang dikepung oleh Inggris. Charles pun mengabulkan permintaannya. 

Jeanne berangkat ke Orléans pada bulan Maret 1429 dengan mengenakan baju besi dan menunggang kuda putih. Setelah mengirim surat tantangan kepada musuh, Jeanne memimpin beberapa serangan dan berhasil mengusir pasukan Anglo-Burgundi dari benteng mereka. 

Serangan ini memaksa pasukan Anglo-Burgundi mundur sampai melintasi Sungai Loire, sehingga Orléans dapat direbut kembali oleh pasukan Prancis. Setelah mendapatkan kemenangan yang luar biasa ini, reputasi Jeanne mulai meyebar di antara pasukan Prancis. 

Setelahnya, Jeanne dan para pengikutnya mengantar Charles untuk melintasi wilayah musuh sampai ke wilayah Reims. Mereka mengambil alih kota-kota yang menentang Charles, lalu melakukan prosesi penobatan dan pentahbisan Charles sebagai Raja Charles VII pada Juli 1429 di Katedral Reims.

Kekalahan dan akhir perjalanan Jeanne

Setelah menyaksikan penobatan Charles di Reims, Jeanne berargumen kalau Prancis harus memanfaatkan keunggulan mereka dengan merebut kembali Paris. Sayangnya, Charles menarik pasukannya ketika Jeanne sedang mengepung Kota Paris.

Pada 1430, Jeanne diperintahkan untuk melindungi Kota Compiégne, tempat di mana Jeanne akhrinya tertangkap oleh pasukan Burgundi. Setelahnya, Jeanne dibawa ke kastil Bouvreuil di kota Rouen, yang sedang diduduki oleh komandan Inggris. 

Sejak 21 Februari hingga 24 Maret 1431, Jeanne diperintahkan untuk menjawab sekitar 70 tuduhan yang diajukan pengadilan gereja terhadap dirinya, termasuk praktik sihir, bidah dan berpakaian seperti pria. 

Walau tidak bisa membaca dan menulis, dengan cerdas Jeanne berhasil menjawab semua pertanyaan dari hakim. Ia bahkan berhasil menyudutkan para hakim dengan argumen-argumennya dan menolak semua tuduhan yang diajukan padanya.

Jeanne seharusnya mendapatkan bantuan di pengadilan dari raja Prancis saat itu, Charles VII.  Sebuah artikel dari History memberi tahu kita bahwa Charles berutang penobatan pada Jeanne, tapi tidak berusaha menegosiasikan pembebasannya saat pasukan Anglo-Burgundi menangkapnya.

Mungkin saja pada saat itu Charles mencoba menjauhkan diri dari Jeanne untuk mengamankan posisinya, sehingga "mencuci tangannya" dengan membiarkan Jeanne jatuh ke dalam perangkap musuh. 

Pada 30 Mei 1431, setelah setahun ditahan dan diancam akan dieksekusi, Jeanne mengalah dan menandatangani pengakuan yang menyangkal kalau ia pernah mendapat perintah dari Tuhan. 

Namun, beberapa hari kemudian, ia difitnah oleh pasukan Inggris dan dipaksa untuk kembali mengenakan pakaian pria. Melihat hal ini, pengadilan pun menyatakan hukuman mati padanya. 

Jeanne yang saat itu masih berusia 19 tahun dibawa ke pasar lama Rouen dan dibakar di tiang pancang. Sekitar 10.000 orang menyaksikan kematian Jeanne. Legenda menyebutkan kalau jantung Jeanne selamat dari api. Abunya kemudian dikumpulkan dan disebarkan di Sungai Seine.

Jeanne dan visinya

Di zaman modern, beberapa neurologis dan sejarawan telah "mendiagnosis" Jeanne dengan berbagai gangguan kejiwaan, mulai dari epilepsi hingga skizofrenia. Hal ini, tentunya, berhubungan dengan klaim yang menyebutkan bahwa Jeanne telah mendapatkan "penglihatan" sejak berusia 13 tahun.

Melihat akan hal ini, dua ahli saraf asal Italia, Giuseppe d'Orsi dan Paola Tinuper, mengirimkan sebuah hipotesis kepada jurnal Epilepsy and Behavior. Dalam hipotesisnya, mereka mengatakan bahwa Jeanne mungkin memiliki kondisi yang disebut "epilepsi parsial idiopatik dengan fitur pendengaran." 

Dengan kata lain, epilepsi Jeanne disebabkan oleh anomali genetik (idiopatik) yang hanya memengaruhi satu bagian otak. Halusinasi pendengaran dan visual yang diderita Jeanne adalah gejala dari tipe epilepsi ini.

Namun, sebagaimana dilansir dari Live Science, para peneliti lain telah meragukan diagnosis tersebut, mengatakan bahwa halusinasi harian terlalu sering untuk sebuah epilepsi parsial idiopatik dengan fitur pendengaran. 

Terlepas dari tuduhan di atas, ada banyak bukti yang menyebutkan kalau Jeanne adalah wanita yang sehat, baik secara mental dan fisik. Logikanya, seorang individu yang mengidap skizofrenia tidak akan bisa memimpin pasukan seperti yang telah Jeanne lakukan. 

Dalam sebuah biografi karya Stephen Richey, Joan of Arc: The Warrior Saint, disebutkan kalau Jeanne tidak hanya menjadi "bunga yang merekah" di tengah Perang Seribu Tahun; dia juga memimpin pasukannnya untuk bertempur secara frontal dan beberapa kali terluka karenanya.

Banyak sejarawan yang  sependapat dengan Richey, menyebutkan kalau penggunaan artileri dan serangan frontal dari Jeanne lah yang telah mengakhiri Perang Seratus Tahun dan menguatkan posisi wangsa Valois di takhta Prancis.

Kisahnya pasti luar biasa jika bukan karena sumber sejarah yang berasal dari pengadilan yang direkayasa oleh koalisi Anglo-Burgundi. Mark Twain bahkan menyatakan bahwa Jeanne adalah "sosok paling luar biasa yang pernah dihasilkan oleh umat manusia."