11714_65820.jpg
Ilustrator: Ranis
Puisi · 1 menit baca

Sang Bidadari

Ia meninggalkan kahyangan,

dengan tujuan pasti,

mengikuti nasihat dari dalam dirinya


Ia berjalan tanpa ragu,

dan terus memikirkan manusia sejati,

yang kini,

telah berada di bumi


Melewati rimba,

gunung terjal,

dan tak menghiraukan lagi bahaya,

juga letih,

ia terus berjalan,

tanpa henti memuja Tuhan,

dalam meditasinya


Ia terus mengikuti nasihat dari dalam dirinya,

dan menjeritkan kerinduannya sambil berjalan,

untuk bisa bertemu manusia sejati,

meskipun hanya sekejap


Ia terus berjalan,

dan dilihatnya sebuah gunung bermandikan cahaya matahari

Dengan mengikuti nasihat dari dalam dirinya,

ia pun mendaki gunung itu,

dengan kemantapan batin


Ia terus saja mendaki dan mendaki,

sampai dilihatnya sebuah danau kecil yang jernih,

dipinggirnya ada sebuah dusun kecil, dengan asap dari api di pagi hari, yang mengapung di atasnya


Tiba-tiba awan timbul, menenggelamkan hari itu

Sejenak ia tertegun,

melihat awan yang disinari matahari,

tampak berwarna-warni mengelilingi gunung,

dan sekejap kemudian lenyap, terbakar matahari


Ia berdiri sendiri,

di puncak gunung itu

Bila dilukiskan,

kecantikannya melebihi bidadari dalam khayalan

Rambutnya panjang menjuntai, terikat pada sebuah selendang panjang,

dengan tatapan mata yang teduh,

juga lesung pipit,

yang menghiasi salah satu pipinya


Ditatapnya danau kecil yang jernih itu,

Sambil mengais kembali,

ingatan ribuan tahun,

tentang sebuah pertemuan,

yang hanya sekejap dalam mimpi,

antara ia dan manusia sejati


Ia masih berdiri sendiri,

di puncak gunung itu,

ditemani sebuah bayangan,

wajah manusia sejati,

yang lahir dari mimpi ribuan tahun


Ia masih berdiri sendiri,

di puncak gunung itu,

tanpa henti memuja Tuhan,

dalam meditasinya


Ia terus mengikuti nasihat dari dalam dirinya,

untuk mencari manusia sejati,

yang kini,

telah berada di bumi