2 bulan lalu · 139 view · 6 min baca menit baca · Cerpen 26453_23134.jpg
Hipwee

Sang Anak Rantau

Inilah kisahku, di mana sebuah kisah perjalanan anak mama yang harus berjuang demi mengejar cita-cita. 

Bergabung dan beradaptasi dengan masyarakat yang baru bukanlah hal yang mudah. Hal yang begitu sulit ialah meninggalkan seseorang yang telah membesarkanku dari kecil hingga bisa melindungi diri sendiri. Melangkahkan kaki dan meninggalkan orang-orang yang dicintai adalah hal yang begitu menyakitkan, terutama dengan kehadiran rindu terhadap mereka yang selalu menyemangati hari-hariku.

"Aku bukanlah manusia, yang selamanya tertidur pulas untuk mendambakan sebuah impian yang tinggi."

Aku tidak bisa berdiam diri dan mengharapkan sesuatu yang besar. Memang benar, setiap individu harus memiliki mimpi yang tinggi, namun apa daya bila mereka hanya memiliki mimpi tanpa berjalan, apakah ia akan meraih sesuatu yang diharapkan.

Tak selamanya manusia merenung dan berangan-angan. Mereka akan termakan zaman dan tertidur lelap karna sebuah iming-iming impian. Aku tidak ingin segala sesuatu yang ada di dunia terbuang sia-sia tanpa aku harus berani merebut hal itu dari orang-orang sekitar. 

Beradu dan berlomba dalam kebahagaian masa depan merupakan hal yang sangat dianjurkan untuk hidup di dunia. Bahkan, itu adalah sebuah ajaran agama yang harus diikuti.

Meninggalkan orang tua dan tanah kelahiranku bukanlah hal yang baik dan suatu beban bagi diriku. Akan selalu ada rasa rindu kepada kampung halaman. 

Serba-serbi ilmu pengetahuan yang bertebaran di dunia bukanlah yang sepele untuk kubiarkan. Diriku tidak akan berkembang bilamana aku hanya duduk manis dan berdiam diri di depan rumah, hanya membayangkan mimpi dan imajinsi menjadi orang besar.


Tanah kelahiranku memang tidak begitu indah. Mungkin saja tempat pendudukan yang baru lebih menarik daripada tempat asalku berada. Namun, tempat asalku adalah tempat yang begitu hangat dan nyaman. Pelukan kedua orang tua, bincang-bincang dengan saudara-saudara, dan sapaan hangat para tetangga adalah sebuah alasan berat dan merupakan salah satu kerinduanku yang mendalam ketika kujauh dari mereka.

"Rindu kerinduanku tidak akan terbayar dengan bentangan alam yang luas."

Butiran-butiran mimpi yang aku miliki menjadi tombak untukku melangkah mencari ilmu. Membuktikan kepada ayah dan bundaku atas kepergianku dari rumah akan membuahkan hasil dan meninggikan derajat orang tuaku. 

Ayah, bunda. dan saudara-saudara kandungku menjadi tiang yang kokoh bagi hati dan pikiranku. Tidak akan ada kalimat sia-sia dan keterpurukanku demi menggenggam masa depan yang bahagia.

Tujuanku merantau ialah Tanah Jawa. Pulau yang dipandang memiliki juta-juta ilmu yang dapat kugali. Banyak yang berkata bahwasanya antropologi orang-orang Jawa memiliki perilaku ramah tamah, dan sopan santun dalam berkembang biak mengembangkan kapasitas pemikiranku. Wilayah yang menjadi ujung tombakku adalah Tulungagung. Di sanalah tempat Universitasku berada pada saat ini, IAIN Tulungagung.

Namun, ada satu hal yang mengganjal di dalam pikiranku agar tidak merusak tujuan. Segala niat baikku tidak akan berhasil bila aku masih memiliki rasa sombong dan egois. Ilmu yang aku punya dan kudapatkan nanti akan hilang dan hancur seketika ketika kumemiliki rasa sombong dan egois.

Ini adalah sebuah mimpi yang akan kubuktikan di dalam kehidupan. Walaupun aku masih membingungkan di manakah dunia nyata itu berada. Karena keseharian yang kujalani adalah hal yang mayoritas kulakukan daripada kehidupan di alam mimpi.

"Aku tidak tahu di manakah dunia nyata berada. Namun, aku tak ingin menghancurkan duniaku dengan bom nuklir kebodohan."

Menjadi orang yang bodoh dan putus asa merupakan hal yang begitu mudah untuk kuraih. Namun, hal seperti itu merupakan jalan lurus yang harus aku lakukan. Bila hal seperti itu tidak ada, tidak akan ada suatu hal yang ditakuti.

Sebenarnya aku paham dengan dunia ini, dunia yang mana dipenuhi dengan bebatuan yang menghantam otakku, dan lereng-lereng terjang yang suatu saat akan memakanku ketika kuputus asa dalam merauk sebuah ilmu.

"Bebatuan itu sangat besar. Lereng terjang itu sangat menakutkan. Mereka akan membunuhku suatu saat ketika air mata putus asa keluar dan menampilkan wujudnya."


Senyaman apa pun aku di tempat orang, tidak akan mengalihkan perhatianku untuk kembali ke dalam pelukan hangat tempat kelahiranku. Keberhasilan dan kebahagianku sudah ditunggu keluarga di rumah. Semagat jiwa membaraku ingin segera didengar telinga kedua orang tua.

Niat dan jiwa yang ada di dalam dada dan otakku tidak akan sirna dan hancur dengan mudah, karena keluarga di rumah selalu mengirimkan senjata yang sangat berharga dan berguna. Tidak ada kata letih dan lelah untuk mengirimkan paket kepada Malaikat Mikail yang akan memberkati perjalanan kita walaupun hanya sepatah kata atau kalimat yang mereka ucapakan dalam bentuk doa.

Sebenarnya bukan hanya Pulau Jawa yang aku tuju, bukan hanya Indonesia saja yang menjadi tempat menggali ilmu. Ada niat di dalam diriku untuk pergi lebih jauh di negara orang untuk menganalisis tingkat pikiranku dalam bertarung memperebutkan ilmu. Lihat saja, aku tidak akan berada di sini, tidak akan di beberapa pulau Jawa saja.

Jami'ah Al-Azhar Qairo Mesir akan menjadi tempat selanjutnyaku menimbah ilmu. Aku yakin, bukan hanya aku saja yang memiliki niat dan keinginan untuk terbang ke negeri orang, teman-teman seperjuanganku dan mereka yang merantau sepertiku pasti memiliki niat yang lebih tinggi, dan kita akan bertarung di dalam dunia yang memiliki sampah-sampah ilmu.

"Aku yakin, tuhan tidak mengorok sepertiku, tuhan tidak akan lalai dan bengong, Tuhan akan selalu membantuku dalam perjalanan. Mungkin saja tuhan akan mengirimkan paket jumbo untuk keberhasilanku".

"Paket itu akan kudapat, tergantung seberapa kuat dan seberapa hebat perjalananku untuk mewujudkan itu semua."

Percayalah kawan, perjalananmu menimba ilmu di tempat orang bukanlah hal yang sia-sia saja. Itu akan menjadi sebuah perjalananmu yang berkesan demi menggapai masa depan.

"Man Jadda Wa Jadda, Kullu atin toyibun, Kolilan kolilan ila tholabul ilmi."

Aku sungguh mencintai tuhan. Aku ingin sekali berbincang dengan tuhan atas apa yang tuhan berikan kepadaku. Segala bentuk dan wujud yang kau buat sungguh memanjakan pandanganku dan pikiranku.

Aku tidak ingin menjadi orang yang sombong di dunia ini. Aku tidak ingin menjadi orang yang lupa dengan tempat kelahiranku, yang membuatku menjadi orang yang lupa untuk kembali. Kesulitanku pada saat ini akan terbayar lunas keesokan hari. Akan kubayar segala kesulitanku pada saat ini dengan segala perjuanganku untuk meraih kemenangan keesokan hari.

Tidak ada kalimat sia-sia yang terucap ayah dan bundaku yang selalu memberikan semangat juang yang membara demi memperjuangkan pendidikanku. Tanpa ayah dan bunda, aku dan teman-teman tidak akan bisa melanjutkan pendidikan sejauh ini.


Tuhan, jagalah ayah dan bundaku. Aku ingin sekali membuktikan kepada mereka bahwa perjuangan yang telah mereka lakukan bukanlah suatu hal yang membuang-buang waktu saja. Pekerjaan yang telah menciptakan keringat yang membara di tubuhnya akan melihat sebuah hasil dan wujud kepadanya. Bahwa kau menjadi orang yang berhasil, bahwa aku telah menjadi anak yang berhasil atas kerja kerasku dan beribu-ribu doa yang telah kau panjatkan kepadaku.

Diri, hati, dan pikiran ini berjanji, aku tidak akan menjadi orang yang sombong ketika aku telah menjadi apa yang aku mau, dan apa yang telah ayah dan bunda inginkan. Man Jaddwa Wa Jadda wal Hadist Rasullah-lah yang menjadi pedomanku di dalam perjuangan ini. Tidak lupa pula dengan pelukan hangat,kecupan kening dan doa yang telah kau lakukan kepadaku. Wahai ayah dan bunda, restuilah perjalananku demi ilmu.

Terkadang kita harus mengalah, terkadang kita harus mundur satu langkah untuk melompat yang lebih jauh, agar kita bisa melampaui apa yang kita inginkan cepat diraih. Selama aliran darah berjalan dan membuat sebuah telaga yang indah, menghidupi segala aliran terutama organ-organ dalam. Takkan ada kata putus asa dalam diriku.

Jiwa dan pikiran ini tidak akan berhenti dan selalu mengalir untuk menemukan sebuah hal yang hakiki, dan kebahagiaan yang sebenarnya seperti apa. Aku percaya, segala apa pun yang ada di tanah lapang yang luas ini, selalu ada makna dan hakikat aslinya, walaupun hal yang kotor.

Artikel Terkait