Angin bertiup sepoi-sepoi memanjakan penduduk bumi. Langit timah sebagian, sebagian yang lain biru memudar hampir gelap. Hari mati penuh suka cita. Sebagaimana riangnya anak-anak kecil itu berkejaran di bibir pantai.

Kusesapi kematian hari dengan menimba ilmu dari Paulo Coelho. Buku ini menyenangkan. The Alchemist, novelnya yang paling terkenal, telah diterjemahkan ke dalam 67 bahasa. Sang penulis telah menjual 150 juta kopi bukunya di seluruh dunia.

Dalam bahasa Indonesia, buku ini dikenal dengan Sang Alkemis. Yang mengungkapkan kenyataan bahwa ketika seseorang ingin memperjuangkan mimpinya harus siap melewati rintangan. Membaca buku ini seperti berkali-kali "ditelanjangi" dan ditodong pengakuan atas kebodohan diri sendiri.

Mimpi tinggallah buaian belaka ketika hanya digantungkan di atas langit seperti cerita kanak-kanak dulu. Tidak salah. Masa kecil memang masa menggantungkan mimpi. Dan, sekarang masa untuk menggapainya.

Banyak orang mengatakan buku ini sebagai kitab para pemimpi. Untuk menggapai impian bukan seperti memakan gula-gula yang akhirnya sakit gigi bila terlalu banyak, tapi bagai menelan pil pahit yang berujung sehat bugar. Itu artinya jangan berharap menggapai mimpi akan dipenuhi suka cita. Sebaiknya mempersiapkan diri menghadapi rintangannya.

Dalam Sang Alkemis, ada beberapa kalimat yang menggelitik benakku. Pun menyadarkan pada ada saja kenyataan pahit yang harus dilewati serta bagaimana mendinginkan api ketika terselip gelisah dalam hati.

1. "Dan, saat kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantumu meraihnya."

Artinya, jika kita akhirnya tak mendapatkan apa yang kita impikan, maka ada dua kemungkinan. Pertama, kita tidak benar-benar menginginkannya atau hanya setengah-setengah saja. Karena kita tak sendirian dalam berjuang menjemput mimpi, ada semesta yang membantu.

Kedua, kurang usaha untuk meraihnya. Setinggi langit pun mimpi kita, tanpa usaha apalah artinya? Karena Tuhan sebenarnya ingin melihat dulu segigih apa kita berusaha.

Mimpi bukanlah mimpi jika mudah digapai, emas bukanlah mahal jika mudah didapatkan. Juga, tidak semua orang berhasil memiliki berlian. Hanya orang-orang bertekad teguh saja yang bisa jadi tuan semua itu.

2. "Baiklah, hanya ada satu nasihat yang bisa kuberikan padamu, kata manusia terbijak itu. 'Rahasia kebahagiaan adalah melihat semua keindahan dunia, dan tak pernah melupakan tetesan minyak di sendok.'"

Di dalam Sang Alkemis, seorang anak yang mencari arti kebahagiaan diberi satu tetes minyak di sendok. Dia boleh melihat keindahan asal tetesan minyak itu tak tumpah.

Di sini, aku memahami bahwa kehidupan butuh keseimbangan. Tidak berat sebelah. Ketika kita diberikan dua kaki, satu kaki untuk berusaha meraih mimpi dan satu lagi untuk berjaga-jaga apabila tak sesuai harapan.

3. Jika Tuhan membimbing domba-domba sedemikian baik, dia juga akan membimbing manusia, pikirnya, dan itu membuat perasaannya lebih nyaman.

Si gembala dalam buku tersebut belajar dari domba-dombanya yang menemukan rumput dekat perairan. Jika ada air, maka di sekitarnya pasti ada rerumputan.

Nah, ketika domba saja sebegitu diperhatikan oleh Tuhan, apalagi manusia. Kita telah membangun cinta segitiga dalam meraih mimpi. Manusia, mimpi, dan Tuhannya.

4. "Aku ini sama seperti semua orang lain aku memandang dunia menurut apa yang ingin kulihat terjadi, bukan apa yang sesungguhnya terjadi."

Manusia terkadang mencari alasan untuk membenarkan kesalahannya. Bukan berusaha memperbaiki apa yang salah.

Kondisi ini membuat kita kurang maksimal dalam mengejar mimpi. Kenapa? Karena kita tak berpijak pada realitas yang ada. Kita perlu sadar keadaan dan mengurangi melihat ke atas.

5. "Tak ada hal yang kebetulan."

Apakah kita sering diserang pertanyaan, "Kenapa aku berjumpa dia?" atau "Kenapa aku mengalami semua ini?"

Ternyata apa saja di dunia ini sudah dituliskan secara rinci oleh Pencipta. Tak ada kebetulan di dunia ini.

Pada saatnya nanti, kita akan menyadari, "Oh, jadi ini arti dari semua yang telah terjadi."

6. "Kita takut kehilangan apa yang kita miliki, entah itu hidup kita ataupun barang-barang dan tanah kita. Tapi ketakutan ini lenyap saat kita memahami bahwa kisah hidup kita dan sejarah dunia ini ditulis oleh tangan yang sama."

Hidup kita atau hidup orang lain ditulis oleh Pencipta yang sama. Kita memiliki peran masing-masing, meskipun jalan ceritanya berbeda.

Namun, untuk menyadari semua itu bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi ujian hidup demikian berat.

Mengingat kalimat tersebut, maka setidaknya akan menjadi oase di tengah gurun kegalauan kita.

7. "Hanya orang-orang gigih, dan mau mempelajari hal-hal dengan sungguh-sungguh, yang dapat meraih Karya Agung."

Karya Agung adalah impian kita. Untuk mencapainya hanya butuh kesungguh-sungguhan. Setelah itu, kita serahkan pada Penulis cerita hidup masing-masing.

Dunia punya tanda-tanda. Kita harus pandai membaca tanda atau kode semesta. Ramuan itu yang akan memberi petunjuk menuju Karya Agung.

8. "Aku belajar bahwa dunia mempunyai jiwa, dan bahwa siapapun yang memahami bahasa benda-benda."

Dunia bukan benda mati, ia "berjiwa". Hanya orang-orang yang mau mengenalnya saja yang bisa merasakan.

Sama halnya seperti manusia. Fisik adalah sarana untuk menggerakkan jiwanya.

Sebab itu, sayangilah dunia (bumi) sebagaimana kita ingin disayangi orang lain.

Demikianlah pelajaran yang dapat kutimba petang ini. Semoga Sang Alkemis membantu mempermudah perjalanan kita menuju gerbang impian. Salam pemimpi!