Sebenarnya, saya bukan pengamat politik sungguhan. Saya hanya sering melihat berita-berita di media sosial dan situs berita kekinian.

Sebagai orang yang pernah aktif di beberapa organisasi saat kuliah dahulu, saya jadi nista ketika mengabaikan berita yang memang berpengaruh terhadap stabilitas kehidupan masyarakat.

Terlepas saya tidak mengikuti organisasi pun, ya sebagai mahasiswa saya memiliki kewajiban untuk hal itu.

Mulai dari berita tentang fluktuasi ekonomi negara (sebab covid-19), kericuhan agama, kebijakan pemerintah yang merusak lingkungan, dinamika politik yang kadang saya hanya bisa tersenyum melihatnya.

Apalagi yang sedang trending sekarang: Soal Pak Sandiaga Uno diangkat sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di bawah kepemimpinannya Pak Jokowi.

Coba Anda amati dan rasakan jika Anda adalah pendukungnya ketika beliau mencalonkan diri sebagai Calon Wakil Presiden yang lawannya adalah Pak Jokowi dan Pak Ma'ruf Amin?

Terlepas Anda berjuang keras untuk kemenangan Prabowo - Sandi ataupun tidak, tentu Anda merasa kecewa bukan?

Rasa rasanya, jika menyaksikan hal ini, seorang "timses" dari kubu Prabowo - Sandi tidak perlu berjuang sampai berkeringat dan berdarah darah ketika mendukung pasangan calon yang akan menduduki di sebuah jabatan tertentu.

Begitu juga dengan pendukungnya Pak Jokowi dan Pak Ma'ruf Amin.

Cukup dengan duduk santai, berkumpul dengan teman "timses" lainnya untuk berdiskusi bagaimana mendapatkan kucuran dana sebanyak banyaknya dengan kerja yang sedikit dikitnya.

Lagian kan politik itu tidak ada kawan dan musuh yang abadi. Yang ada itu adalah kepentingan abadi.

"Percuma oposisi saat "pilpres" lalu, namun bersinergi menjadi bawahannya saat ini. Kan soal bantu membantu itu, tak perlu masuk ke dalam sistemnya. Sudah kecewa dengan Pak Prabowo, eh ditambah dengan Pak Sandi.

Ini mah sudah jatuh tertimpa tangga pula". Sepenggal celotehan dari isi diskusi timsesnya Prabowo - Sandi itu.

Saya sih tidak apa apa, jika Pak Sandiaga Uno itu masuk ke dalam pemerintahannya Pak Jokowi untuk menjadi Menteri. Toh, Pak Sandiaga Uno pun menyanggupinya.

Secara latar belakang beliau pun sebagai pengusaha, dirasa sesuai atas apa yang ditawarkannya sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Demi memajukan UMKM kan?

Begitupun juga dengan Pak Prabowo yang sesuai dengan jabatannya sebagai Menterinya Pak Jokowi saat ini.

Lantas sekarang, yang berteriak teriak untuk melarangnya siapa? Yang merasa dikecewakan siapa? Lagian Anda Siapa? Sudah lah, usulan saya itu dilakukan saja.

Kita hidup bukan atas dasar kubu itu memilih siapa, dan kubu ini memilih siapa. Pemilihan Presiden tahun lalu, kita jadikan sebagai ladang untuk kita lebih memahami bagaimana arah politik itu melaju.

Kan kita sudah diberikan edukasi politik, sudah mendapatkan pendidikan semacam itu. Harusnya kita bersikap tidak arogan. Lebih bersikap bijak atas kenyataan yang dialami. Harus terima konsekuensinya!

Misalnya, secara etika politik, memang Pak Sandiaga Uno itu, sudah tak etis sebagai oposisinya Pa Jokowi. Wong ia sudah mengecewakan para pendukungnya loh?

Tidak seharusnya Pak Sandiaga Uno itu masuk ke dalam pemerintahannya Pak Jokowi yang notabene sebagai lawan politiknya.

Apa sih yang ingin diraih oleh Pak Sandi itu atas keputusannya menjadi Menteri Pak Jokowi?

Uang sudah banyak, karena beliau seorang pengusaha ternama yang konon dirilis dari majalah Forbes tercatat sebagai orang terkaya urutan ke 29 di Indonesia.

Di dalam dunia politik pun, saat ini Pak Sandi menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina di Partai Gerindra.

Usia tidak terlalu tua, bahkan kebanyakan orang melihatnya, Pak Sandi masih terbilang muda dan cukup energik. Besar kemungkinan, Pak Sandi masih ada kesempatan untuk mencalonkan diri sebagai Calon Presiden Republik Indonesia.

Apakah Pak Sandi itu tidak mempertimbangkan kembali atas tawarannya menjadi menteri dengan cara melihat perjuangan "timses" nya kala itu? Itu kan yang ingin Anda aspirasikan sebagai "timses" Prabowo - Sandi?  

Namun, lagi - lagi, bagaimana salah satu bunyi dari rumus politik? Ya benar. Tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Yang ada hanyalah kepentingan yang abadi.

Dan perkara politik itu soal kuasa dan menguasai. Karena objek dari ilmu ini adalah soal "kekuasaan".

Jika kita punya ekpektasi ya terima konsekuensinya. Dalam hal apapun, khususnya di dunia politik ini. Kalau ekpektasi kita tercapai, maka kita mendapatkan rasa kebahagiaan tersendiri. Sebaliknya, jika ekpektasi kita tidak tercapai, maka rasa kecewa yang kita terima.

Biarkan saja, baik Pak Prabowo atau Pak Sandi berkiprah sebagai Menterinya Pak Jokowi.

Harapan kita kan semoga Pak Jokowi dan para menterinya itu amanah dalam mengemban tugas dan menjadikan Indonesia lebih maju dari segala sektor. (Sambil memendam rasa kecewa dengan melempar barang yang ada di sekitar ke mana saja)