2 tahun lalu · 23720 view · 4 menit baca · Politik sandi_bisik.jpg
liputan6.com

Sandiaga Uno dan Pembisiknya

Sebenarnya saya males mau nulis tentang Sandiaga lagi, khawatir dianggap terlalu 'sentimen', karena saya sudah menulis tentang Sandiaga minggu lalu (Sandiaga Uno dan Tonjolannya). Tulisan itu pun ada yang salah memahami (karena belum baca artikelnya, cuma diplototin judulnya), dikiranya saya membahas tonjolan di celana Sandiaga seperti foto-foto yang tersebar itu.

Padahal dalam tulisan itu saya mengejek siapa pun, termasuk Sandiaga yang menyoal tonjolan dari celananya. Harusnya sebagai calon gubernur ia membahas tonjolan-tonjolan lain, masalah-masalah di DKI yang “menonjol” dan menjadi perhatian publik Jakarta. Sandiaga perlu memamerkan dia sebagai pengusaha yang “menonjol” bukan membahas tonjolan di celananya.

Hari ini, saya merasa perlu menulis Sandiaga lagi. Pernyataan-pernyataan yang ia lontarkan makin "blunder" namun yang paling bahaya bila melakukan fitnah terhadap lawannya. Saya mulai dari pernyataan Sandiaga bahwa Ahok dikawal 150-200 personil brimob tiap hari. Ahok menolak cuti, kata Sandiaga, karena tidak mau membayar pengawalan ratusan brimob itu yang sekarang membebani negara. (Sandiaga Uno: Ahok Dikawal 200 Brimob Tiap Hari)

Kata Sandiaga, ia dapat informasi tentang itu. Dari siapa? Tidak jelas. Bisa jadi dari pembisiknya. Anehnya Sandiaga sangat percaya informasi itu meski berlawanan dengan informasi yang ada di publik. Dengan pengawalan khusus ratusan personil Brimob, berarti gubernur sudah selevel dengan presiden dan wakil presiden yang punya Paspampres. Padahal level menteri saja, hanya ajudan beberapa orang. Kalau Sandiaga ingin melawan informasi di publik dengan informasi yang ia punya, harusnya kasih sumber dan bukti yang kuat.

Kalau baru info "katanya" mengapa Sandiaga sudah berani melemparkan ke publik. Sandiaga menyerang Ahok dengan informasi yang tidak valid dan tidak akurat. Tujuannya untuk mendiskreditkan Ahok dan meninggikan dirinya. Ia ingin menjatuhkan Ahok, tapi dengan informasi yang tidak akurat dan valid, untuk melambungkan dirinya sendiri. Sikap ini bukan perwujudan dari etika seorang politisi yang ingin bertarung secara fair dan adil, apalagi etika politisi santun yang dikoar-koarkan Sandiaga dan kubunya.

Sandiaga Uno yang menghembuskan gosip kalau Ahok dikawal 150-200 personil brimob tiap hari tujuannya menjatuhkan Ahok, dengan modus (1) menyerang permohonan Ahok di MK kasus cuti kampanye, katanya kalau cuti Ahok tidak mau membiayai 150-200 personil Brimob itu (2) biaya pengawalan ratusan Brimob itu membebani negara. Sandiaga menuding Ahok telah membebani negara ini dengan keperluan yang tidak wajar. Setelah menyerang dengan infomasi bohong, Sandiaga pun berusaha (3) meninggikan dirinya dengan mengatakan "Saya kemana-kemana tidak dikawal polisi, hanya bersama relawan-relawan."

Pernyataan Sandiaga ini seolah-olah ingin mengatakan bahwa dia lebih alami dan murni karena dikawal relawan bukan polisi. Padahal Sandiaga tidak bisa membandingkan dirinya dengan Ahok yang pejabat publik yang memang wajar dikawal polisi. Tapi, Sandiaga sebagai pengusaha tak perlu menutupi kalau perusahaan-perusahaan di negeri ini terbiasa menyewa aparat keamanan sebagai “centeng”.

Ahok adalah pejabat publik, segala hal yang terkait dengan jabatannya dapat dilacak dengan mudah. Ahok melakukan transparansi informasi terhadap publik. APBD Jakarta, segala keputusan-keputusannya hingga rapat-rapatnya diunggah di website dan youtube demi keterbukaan informasi pada publik. Tak ada yang disembunyikan. Informasi pengawal Ahok yang ada hanyalah 12 orang yang dibagi dua tim. Kalau pun Ahok dikawal sampai 150-200 personil Brimob yang membebani negara, apakah orang seperti M. Taufik, Lulung dan Sanusi, khususnya dari Fraksi Gerindra di DPRD akan diam saja? Segala hal yang terkait dengan jabatan Ahok diputuskan dan diawasi oleh DPRD. Sayangnya informasi aneh ini baru keluar dari Sandiaga yang sudah terbukti tidak valid pernyataanya dan menjelang Pilkada DKI.

Saya yakin masyarakat menertawakan informasi dari Sandiaga ini. Karena mereka bisa mengecek pengawalan Ahok secara langsung di lapangan. Ahok terbiasa memenuhi undangan-undangan pernikahan sampai yang masuk ke gang-gang. Ahok malah tidak datang kalau acara pernikahan itu diselenggarakan di gedung-gedung. Dengan menghadiri pernikahan di kampung-kampung, Ahok sekalian “blusukan”, mengecek saluran air dan fasilitas-fasilitas publik lainnya, serta wawancara langsung dengan warga tentang keluhan mereka. Apakah ada pengawalan yang dibawa Ahok mencolok?

Saat saya lempar informasi dari Sandiaga ini di twitter, memang benar tak sedikit yang menertawakan. Contohnya dari akun @antokarief menulis komentar “Memangnya Ahok mau mengejar sisa-sisa anak buah Santoso di Poso? Ngapain Brimob setangsi dibawa?” iya, 200 personil brimob berarti dua kompi.

Serangan Sandiaga terhadap permohonan cuti Ahok di MK, makin jauh panggang dari api. Contohnya sebelum kasus "200 personil Brimob" Sandiaga pernah berkomentar bahwa Ahok yang  beralasan tidak mau cuti, tidak mau kampanye karena mau kerja, mau menyusun dan mengawal pengesahan APBD 2017, kata Sandiaga, Ahok tidak perlu terlibat dalam proses APBD 2017 karena menurutnya APBD 2017 untuk Gubernur Jakarta yang baru. Sandiaga sudah meremehkan Ahok dengan perkiraan tidak akan terpilih lagi dengan istilah "gubernur baru" tapi dia salah besar, karena--meskipun Ahok tidak terpilih lagi--masa bakti Ahok sampai Oktober 2017. Artinya, APBD 2017 akan jadi tanggung jawab Ahok. Apakah Sandiaga meralat ucapannya itu? Sampai sekarang belum. Sepertinya dibiarkan akan jadi kenangan tentang ketidakpahaman Sandiaga soal Anggaran.

Saya yakin ada masalah di Sandiaga dan pembisiknya yang memberikan infomasi yang tidak valid dan tidak akurat, bahkan ngawur. Serangan-serangan Sandiaga terhadap Ahok seperti senjata makan tuan. 200 personil Brimob kawal Ahok tiap hari adalah gosip. Data yang ada, Ahok dikawal 12 orang, yang dibagi 2 tim, artinya hanya 6 orang yang bertugas. Anda bisa bayangkang, angka 6 "dimark-up" jadi 200, bagaimana kalau Sandiaga jadi gubernur nanti?

Besok, apalagi kengawuran yang akan datang dari Sandiaga Uno dan pembisiknya?