Di waktu sore menjelang maghrib, di saat orang-orang sibuk berlalu lalang mencari jajanan buat berbuka puasa hujan turun tiba-tiba membasahi segala yang ada dengan kesejukkan, tak luput juga Qirun si karyawan swasta yang kehujanan dari tempat ia bekerja menuju rumah mertuanya.

Di tengah perjalanan saat kehujanan, Qirun melihat warung pinggir jalan, “warung Pak Yunarto” namanya, kemungkinan penjualnya bernama Yunarto pikir Qirun waktu itu. Warung yang sepi pengunjung, kemungkinan besar karena daerah tersebut dikelilingi kompleks perumahan, peradaban yang menghangatkan badan.

Bergegaslah dia kesana dengan tujuan agar badannya tidak terlalu basah dan mencari kehangatan di kala hujan serta sembari berbuka puasa karena firasatnya mengatakan bahwa hujan masih lama.

Setelah selesai menaruh sepeda motornya dan mengunci stang, adzan maghrib pun telah berkumandang dengan lantang. Segera Qirun ke warung tersebut untuk berbuka puasa lalu memesan kopi hitam panas kepada pedagangnya. Sembari menunggu pesanannya selesai dihidangkan, Qirun dengan cekatan mengambil beberapa gorengan yang tersedia lalu melahapnya seperti harimau memangsa seekor kijang.

Dan setelah kopi hitam panas pesanannya telah dihidangkan, maka dengan buru-buru Qirun segera menyeruputnya tanpa aba-aba.

Pak Yunarto : “Jangan buru-buru mas, masih panas kopinya” ucap pak Yunarto mengingatkan.

Qirun : “ iya pak, tubuh saya membeku  soalnya, haus juga, toh sudah waktunya berbuka puasa.” Ucap Qirun menegaskan.

Mengetahui bahwa Qirun seorang muslim dan berpuasa, maka dengan segera pak Yunarto menyodorkan segelas air putih segar untuk Qirun.

Pak Yunarto : “Ini air putihnya mas, buat berbuka puasa, agar tenggorokannya segar” sambil menyodorkan segelas air putih.

Qirun : “Iya pak, terimakasih atas airnya” menerima dengan rasa sungkan.

Setelah menenggak habis segelas air putih tersebut, Qirun pun gantian menawari pak Yunarto dengan rasa simpati.

Qirun : “bapak sudah berbuka puasa juga?” Qirun bertanya dengan sopan.

Pak Yunarto : “saya tidak berpuasa mas, karena saya non muslim” menjawab pertanyaan Qirun dengan tersenyum.

Qirun : “waduh, maaf pak, saya tidak mengetahui tentang hal itu.” Ucap Qirun dengan rasa sungkan.

Pak Yuanrto : “tidak apa-apa mas, toh ketidaktahuan manusia merupakan sebuah hal yang dimaklumi.”

Sejenak suasana menjadi hening membeku karena kejadian tersebut, apalagi kondisi hujan yang semakin deras menyebabkan beberapa jalanan berlubang yang tergenang oleh air kecoklatan, rusuh dan membahayakan.

Pak Yunarto : “maka dari itu, toleransi antar umat beragama diperlukan sehingga tidak menyebabkan rasa sungkan antar sesama dalam hal-hal diluar ruang lingkup agama.”ucap pak Yunarto bertujuan menghidupkan suasana sembari melirik sebentar ke mata Qirun.

Qirun : “ maaf sebelumnya pak, saya kurang setuju dengan pernyataan bapak tentang toleransi tadi, bagi saya pribadi toleransi merupakan sebuah hubungan sosial yang dilandasi oleh unsur-unsur hakikat kehidupan.” Ucap Qirun sembari menyeruput kopi yang semakin hangat oleh keadaan.

“sehingga bagaimanapun juga, ranah keyakinan merupakan ranah personal, benar-benar personal.” Lanjut Qirun dengan nada meyakinkan.

Pak Yunarto : “toleransi memang seperti pisau dapur ya mas, memiliki dua resiko tergantung bagaimana menggunakannya, satu sisi menjadi alat kebermanfaatan, dan di lain sisi menjadi senjata yang membahayakan.” Ucap pak Yunarto sembari mengacungkan pisaunya yang telah tumpul setinggi-tingginya sampai-sampai menabrak rentetan bungkus kopi diatasnya.

Qirun yang melihat hal itupun langsung tertawa sejadi-jadinya melihat tindakan lucu penjual warung pinggiran tersebut yang ia singgahi itu, sosok pria paruh baya dengan rambut yang masih hitam legam serta kumis yang habis dicukur.

Qirun : “toleransi memang rumit pak, seperti labirin, bagaimanapun untuk mencari jalan keluar dari labirin tersebut, semua orang yang memasukinya harus saling bekerjasama, bagai semut merah.” Ucap Qirun dengan senyum yang masih tertahan karena ulah pak Yunarto tadi.

Pak Yunarto : “Jika tentang agama menurut pandangan mas bagaimana?” pak Yunarto menimpali perkataan Qirun dengan sebuah pertanyaan intens.

Qirun : “ bagi saya pribadi pak, agama merupakan petunjuk kehidupan, bak samudra yang harus kita arungi dengan segala badai yang ada, bak daratan yang kita tanami lalu kita ambil hasilnya dengan merawatnya dengan benar dan baik, dan sungguh-sungguh.” jawab Qirun, sebelum melanjutkan, Qirun mengambil jeda sejenak perkataannya dengan menyeruput kopi yang airnya semakin menuju dasar gelas.

“bak padang pasir yang menjadikan kita seorang musafir ditemani panas terik matahari sekedar melangkah mencari oase kedamaian, bak jalanan yang membuat orang-orang saling berseberangan dalam berpandangan, namun tetap tertib, bukan malah bertabrakan.” Qirun memberhentikan perkataannya dengan maksud menunggu respon penjual itu selanjutnya sembari melahap beberapa gorengan lagi dan lagi.

Pak Yunarto : “wah jawaban yang menarik mas, sangat menarik bagi saya untuk dipahami, sangat beruntung kali ini saya mendapati pembeli seperti mas kali ini, benar-benar beruntung,”ucap pak Yunarto lega mendengar jawaban Qirun yang tegas namun tidak ngegas.

Akhirnya hujan pun reda meninggalkan butiran awan di daratan, segera Qirun membayar pesanannya tadi untuk melanjutkan perjalanan serta menunaikan kewajiban sholat maghrib yang belum terlaksana dan tak luput untuk berpamitan dengan penjual warung pinggiran tersebut.

Mereka pun berpisah namun meninggalkan secercah pembelajaran bagi dirinya masing-masing. Bagaimanapun juga kedua manusia tersebut telah saling berinteraksi/berbagi meski berbeda akan sesuatu yang diyakini.