Di era milenial ini, kita sangat tidak asing dengan kata-kata penenang. Bahkan sebagian dari kita menjadi pemuja terhadap kata-kata tersebut. Saya tidak ada masalah dengan kata-kata penenang. Namun jika digunakan dengan tidak semestinya, maka akan menjadi keterlaluan, Toxic positivity.

Contohnya, saat merasa gagal, mereka percaya bahwa kegagalan yang dialami bukan salahnya. Ini salah keadaan, ini adalah ujian. Sungguh keterlaluan sekali kadar PD-nya.

Orang yang masuk kategori tersebut sepertinya lebih percaya kalau kegagalan yang mereka alami adalah sebuah jalan yang berbeda saja dengan orang lain. Mereka lebih suka mencari kata-kata “motipasi” sambil meluk bantal berminggu-minggu, dari pada menyalahkan diri sendiri, kemudian evaluasi.

Berlebihan mengonsumsi ajaran ketegaran boleh jadi sebuah toxic di kalangan milenial, yang efeknya adalah merasa tenang sesaat. Ingatlah, merasa tidak ada masalah tidak membuat masalahmu menjadi tidak ada.

Beberapa kalimat toxic positivity yang perlu dijauhi antara lain: 

Semua akan indah pada waktunya

  • Sebenarnya ini adalah kalimat penghibur yang sering berkicau di telinga kita. Jika kalimat ini memiliki instagram, mungkin followernya setara penduduk Lamongan.

Kalimat tersebut tidak sepenuhnya salah. Hanya saja sering disalahgunakan.

Follower kata-kata satu ini adalah mereka yang sedang merasa gagal namun tetap melanjutkan tidurnya. Kata-kata ini seharusnya dipakai ketika anda benar-benar berusaha, bukan dipakai ketika anda sedang gagal. Tolong dibedakan yah!

Banyak kita temui orang yang berusaha semampunya dan semaunya saja, namun memiliki bayangan akan sukses di kemudian hari dengan memegang erat moto “semua akan indah pada waktunya”.

Hmmm saya sih tidak menyalahkan mimpinya, saya hanya tidak suka caranya menuju mimpi tersebut. Ibarat pepatah kuno, “Mung njagakno mugo-mugo tapi pengen ndag teko” wooo ndiasmu…

Perlu digarisbawahi adalah kalimat “pada waktunya”. Kalimat tersebut memiliki makna menunggu. Nah, menunggu di sini tidak seperti antre makanan yang bersifat pasif. Menunggu dalam kalimat ini seharusnya diartikan dengan melakukan perubahan yang berarti.

Sekarang coba bayangkan ketika anda berada di sebuah kapal yang bocor, kemudian anda hanya menunggu dan melanjutkan tidur anda kemudian dengan bangganya mengatakan “semua akan indah pada waktunya”, apakah cara tersebut sudah benar?

Bukankah lebih logis adalah saat anda berada dalam kapal yang bocor, maka anda harus berusaha menguras air tersebut, atau menambal lubang itu. Nah, ketika sedang berusaha keras dan mulai tidak bersemangat, maka gunakan kata-kata tersebut untuk penyemangat anda dalam melakukan usaha.

Sekali lagi saya tegaskan, kalimat “semua akan indah pada waktunya” bukan kalimat penghibur ketika anda gagal, namun lebih tepatnya adalah kalimat penyemangat saat anda sedang melakukan usah keras.

Bahagia itu sederhana

Apakah memang benar bahwa bahagia itu sederhana? Apakah memang benar jika cuma minum kopi sachet saja bisa bahagia? Jika iya, lantas kenapa starbuck tercipta?

Sebenarnya kita perlu membedakan antara bahagia dan bersyukur. Ini adalah dua hal yang berbeda. Contoh: Ketika setiap hari bisa makan 4 sehat kamu sempurna 5 sempurna, itu namanya bahagia. Namun jika tiap hari hanya bisa makan mie instan saja dan tidak sambat, maka itu namanya bersyukur.

Atau bisa dijabarkan bahwa bersyukur itu bisa dilakukan dalam kondisi susah dan senang. Sedangkan bahagia hanya bisa dirasakan ketika kondisi senang saja. Jadi tidak ada ceritanya bahagia dalam kesederhanaan. Anda hanya sedang bersyukur saja.

Namun ini bukan berarti bersyukur adalah tindakan yang salah. Di sini saya hanya menekankan bahwa bahagia itu tidak sederhana, butuh usaha lebih agar bisa bahagia. Kalaupun anda bisa mensyukuri hal-hal yang sederhana, berarti anda hebat, karena bagi anak saya, bersyukur itu tidak mudah. Apalagi bagi anak kos seperti saya.

Rencana tuhan itu lebih baik

Dulu ketika kecil cita-citanya jadi dokter, pas udah gede yang penting dapet kerja. Pokoknya gak nganggur. Kenapa bisa demikian? Apakah ini yang dimaksud rencana tuhan lebih baik?

Pertama harus diakui bahwa rencana tuhan selalu lebih baik, namun menjadikan kalimat tersebut dalam setiap kegagalan adalah hal yang kurang baik.

Tuhan selalu memberikan nikmat bagi hambanya asal mau menjemputnya. Nah kalau kita kaji lebih dalam tentang tidak terkabulnya cita-cita, salah satu penyebabnya adalah karena kita hanya diajari tentang optimis dan pesimis saja. Sehingga kita lebih memilih optimis dalam segala hal. Kita tidak pernah diajari untuk realistis.

Dampaknya apa? Kita hanya diajari untuk bermimpi besar, namun tidak diajari cara mendapatkannya. Atau melihat diri sendiri, apakah bisa untuk mewujudkannya.

Ibarat kita ingin menangkap seekor paus, namun hanya memiliki pancing kecil, kemudian kita optimis akan berhasil, dan hasilnya bisa ditebak, yo jelas gagal lah. Kemudian dengan tenang mengatakan “percayalah, rencana tuhan lebih baik”.

wqwqwq

Alasan lain kenapa kebanyakan orang tidak mencapai cita-citanya adalah mager alias malas gerak. Sumber dari rasa malas adalah prioritas. Orang yang dianggap pemalas adalah orang yang salah menentukan prioritas pilihannya.

Contoh: ada seorang anak kos yang ingin bangun pagi, ia kemudian memasang alarm setiap 5 menit sekali, alarm pertama pukul 05.00, alarm kedua 05.05, alarm ketiga pukul 05.10, dan seterusnya. 

Ketika alarm pertama berbunyi pada pukul 05.00, sebenarnya ia sudah melihat jam tersebut, namun dalam pikiran yang masih setengah sadar ia mengatakan “ah 5 menit lagi lah”, kemudian alarm kedua berbunyi, dan ia masih dengan prinsip “ah 5 menit lagi lah”, begitu seterusnya sampai ahirnya ia gagal bangun pagi.

Dalam ilustrasi tersebut menjelaskan bahwa seharunya anak kos tersebut dapat bangun pagi, hanya saja ia lebih memprioritaskan tidurnya. Karena itu jika anda menemukan masalah serupa pada diri anda, maka sebenarnya anda bukanlah pemalas, anda hanya salah menentukan pilihan prioritas saja.

Tetaplah bahagia dan tetaplah baik-baik saja.