Sudahkah jarak menghentikan bencana? Sudahkan jarak menurunkan grafik pasien terpapar positif Covid-19? Aksi demonstrasi itu tak lain adalah aksi menyambangi jarak. Sudahkah jarak itu berhenti menjadi maut? Ataukah di antara jarak, maut memang tak ada?

Social distancing atau kebijakan kawal jarak yang ditetapkan oleh pemerintah sudah memasuki rentang waktu yang cukup lebar. Awalnya, spasi itu tidak terlalu diberi label merah karena memang ‘tak terlalu membahayakan.

Akan tetapi, semakin ke sini (dimana data pasien positif semakin menanjak), spasi itu dirasa semakin penting, dan bahkan jika orang tidak menciptakan spasi, ia berada di ambang maut. Di kala saya atau Anda menyambangi spasi, maut menjemput.

Dalam tulisan ini, istilah dekat yang saya maksudkan adalah soal bersentuhan, salaman, pelukan. Sedangkan istilah jarak, ya seperti yang kita alami saat ini, kurang lebih membuat spasi antar-orang selebar 1,5 m atau 2m atau harus stay at home 'tuk ngunci diri. Itulah dua istilah yang bakal digunakan sepanjang tulisan ini.

Kita lanjutkan! Sebab kedekatan itu, dalam model apa saja, dapat berarti maut. Untuk konteks sekarang, dekat itu mencelakakan, menakutkan, membahayakan, melumpuhkan, memengaruhi jumlah, melukai, mengusik, dan mematikan. 

Di masa bulan puasa kemarin (menuju bulan Ramadhan), dekat itu haram dan menciptakan kemudararatan. Oleh karenanya, orang dilarang mudik dan salat di masjid. Bagaimana memahami perubahan ini? Sampai kapan definisi kedekatan itu berarti mematikan? Dan, kapan kedekatan itu punya daya menghidupkan?

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kiriman stiker "sending virtual hug" dari seorang teman. Stiker ini dikirim karena alasan jarak. Maklum sudah lama dirumahkan. Bagi saudara saya yang mengirimkan stiker ini, jarak justru mencelakakan, menjenuhkan, melukai, menciptakan rasa sakit, dan mematikan. Sebaliknya, dekat bagi dia adalah kehidupan, sesuatu yang menggembirakan, menyenangkan, juga memberi semangat.

Realitas yang dipahami dan dialami saudara saya, berbanding terbalik dengan apa yang dipahami pemerintah, petugas kesehatan, publik pada umumnya, atau mungkin Anda yang tengah membaca tulisan ini. Bagaimana Anda memahi jarak? 

Pemerintah dan petugas kesehatan pada umumnya melihat jarak sebagai alat pelindung diri (APD) bagi masyarakat berhadapan dengan pandemi Covid-19. Sebaliknya dekat adalah jembatan atau tol menuju kematian. Bagaimana menguji penilaian ini?

Menilik data jumlah pasien positif Covid-19 di berbagai negara di dunia dan mekanisme penanganan yang diterapkan, dua model opsi dekat dan jarak tadi, mempunyai efeknya masing-masing untuk kehidupan. Misalkan di Vietnam, opsi yang dipakai adalah kawal jarak (social distancing). 

Dengan menerapkan opsi ini, Vietnam menyelamatkan banyak nyawa. Sebaliknya, Brasil dan Amerika Serikat, justru memilih opsi sambang jarak (no distancing). Alhasil, opsi kedekatan justru menghilangkan banyak nyawa. Silahkan memilih! Dekat atau jarak?

Untuk sementara, kita menjaga jarak. Timingnya sementara. Sampai kapan? Pertanyaan ini tidak pernah bakal terjawab dengan pasti. Dalihnya menunggu puncak pandemi. Semakin diprediksi puncaknya, semakin menjadi-jadi jumlah pasien yang terpapar. 

Kita justru dilema. Dilema karena jarak juga tidak memberikan kepastian. Kita sudah menghujat kedekatan. Dekat dianggap membawa bencana. Lantas, sudahkah jarak menghentikan bencana?

Ada banyak jawaban yang muncul. Pemberlakun Pembatasan sosial Berskala Besar (PSBB) dan larangan mudik pada bulan kemarin terbukti menekan laju pasien positif. Dari sisi kesehatan, dekat itu musuh, sebaliknya menjaga jarak itu berarti bersahabat. 

Dari sisi ekonomi, dekat itu sahabat dan bahkan dianggap pemberi kehidupan, sebaliknya jauh itu malapetaka bahkan dianggap sebagai maut. Lalu, Anda bilang apa? Anda mau pilih yang mana?

Sebagai pedagang osongan, Rio memilih dekat agar memudahkan interaksi dengan pembeli. Sebagai karyawan di pabrik plastik Puji memilih dekat agar tidak dirumahkan dan tidak di-PHK. Sebagai mahasiswa, Max memilih dekat agar bisa ke kampus dan berdiskusi dengan teman mahasiswa. Masih banyak kemauan agar mendekat. Tapi dekat justru mematikan.

Antara pilihan jauh atau dekat, kali ini kita tidak bisa mencari aman lalu memilih jawaban di tengah-tengah. Jarak kali ini sangat ekstrim. Definisi jarak diperlebar, tidak hanya sebatas jangan bersentuhan, tapi justru dipahami, sebagai isolasi diri, karantina diri, work from home, belajar dari rumah, ibadah di rumah, dan jarak itu juga berarti ditinggal sendiri di rumah sakit. 

Jarak itu menghidupkan atau sebaliknya jarak justru menginvestasi malapetaka untuk masa depan? Kita lihat, apa yang bakal terjadi usai pandemi – usai menjaga jarak.

Saya takut, usai pandemi ini (setelah semua orang mengunci diri dalam rumah), banyak orang membenci kedekatan. Mungkin teater keanehan bakal menjamur. Ini hanya kecemasan. Harapannya usai pandemi ini, orang semakin merindukan pelukan, sentuhan, dan puasa gadget. Usai pandemi, hp di-phk agar kita mendapatkan kembali kedekatan.