Salah satu problem besar kehidupan sekarang adalah masalah lingkungan hidup. Mulai kebakaran hutan, pencemaran lingkungan, lapisan ozon yang makin menipis, banjir, sampai pengelolaan sampah yang tak kunjung ada solusi yang tepat.

Semua masalah tersebut menimpa hampir semua negara tak terkecuali Indonesia. Padahal, idealnya nih ya, menurut saya, Indonesia sebagai negara yang masyarakatnya mayoritas beragama Islam, masalah lingkungan ini tidak perlu terjadi.

Kenapa?

Karena beberapa dalil, baik ayat Al-Qur’an maupun hadits, menegaskan seorang Muslim harus menaruh perhatian pada kelestarian alam. Bahkan sebuah hadits menyebutkan “Kebersihan sebagian dari iman.” Artinya, keimanan seseorang salah satunya terlihat dari sikapnya dalam menjaga kebersihan.

Ayat ke-30 dalam surat Al-Baqarah menegaskan bahwa Allah Swt telah menjadikan Nabi Adam as sebagai khalifah di muka bumi. Para mufasir menjelaskan pengertian khalifah di sini adalah berkenaan dengan tugas manusia sebagai wakil Allah Swt untuk mengelola dan memelihara semua yang ada di bumi.

Tugas manusia di dunia adalah menjaga keharmonisan alam, serta memelihara keseimbangan alam. Keseimbangan yang sudah diciptakan Allah Swt sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya di surat Ar-Rahman (55) ayat 5-13.

Jadi keberadaan manusia di bumi seharusnya untuk mengelola sehingga dapat mengoptimalkan dan memaksimalkan seluruh potensi yang ada di dalamnya, baik itu buah-buahan, hewan, material tambang yang ada di perut bumi, laut dan seisinya, untuk kelangsungan hidup manusia di bumi serta mendatangkan kesejahteraan untuknya.

Lalu, mengapa realitanya justru terjadi banyak bencana yang disebabkan oleh kesalahan dalam pengelolaan lingkungan, seperti yang saya sebutkan di atas?

Tentu, kesalahan bukan pada ajaran Islamnya, tetapi pada kita, kaum Muslimin, yang tidak melaksanakan ajaran tersebut. Tidak melaksanakan tugas sebagai khalifah, wakil Tuhan, di dunia ini.

Namun, kalau kita mau menelusuri lebih jauh lagi, sebenarnya kesalahan itu tidak bisa kita timpakan begitu saja kepada semua umat Islam. Terutama kepada muslim yang masih awam.

Kenapa?

Karena sebagai sebuah ajaran, ada proses yang harus dilakukan seorang Muslim untuk memahami ajarannya, sehingga tidak hanya menjadi seorang yang awam. Proses tersebut adalah penyampaian dari orang yang memahami kepada yang belum memahami. Dari orang yang berilmu kepada orang belum berilmu. Menurut saya, di sini problemnya.

Dalam masyarakat Muslim, proses penyampaian ini sering disebut dakwah, ceramah, khutbah, tablig, taklim atau kajian. Apalagi sekarang sarana semakin canggih, penyampaian ilmu lebih beragam. Salah satunya dengan memanfaatkan keberadaan internet.

Seorang Muslim yang awam, dalam pelaksanaan ajaran Islam tentu mengandalkan pengetahuannya dari ajaran-ajaran yang disampaikan pihak yang lebih kompeten; para tokoh agama, ulama, atau ustadz. Merekalah yang dijadikan referensi oleh kaum muslimin.

Problem yang saya maksudkan adalah, ajaran-ajaran tentang pengelolaan lingkungan, salah satunya menjaga kebersihan, tidak banyak dibahas dalam kajian-kajian keislaman tersebut, bahkan dapat dikatakan tidak pernah. Setidaknya itu yang saya perhatikan dalam berbagai kajian, baik yang langsung: ceramah, khutbah, atau tabligh, maupun yang saya lihat melalui media online: youtube, dan tulisan di website-website Islam.

Jadi, jangan salahkan jika ada seorang Muslim yang membuang sampah sembarangan. Karena, siapa tahu kepadanya memang belum sampai informasi atau ajaran yang menyatakan bahwa membuang sampah itu sebuah perbuatan dosa, bahwa menjaga kebersihan itu sebagian dari ciri orang beriman.

Saya memperhatikan kajian-kajian Islam sekarang ini lebih banyak seputar ta’abudi atau hal-hal bersifat ibadah. Bahkan, dalam pembahasannya sangat keras, bahkan lebay menurut saya. Para ustad yang menyampaikan hal-hal ta’abudi itu sampai menegaskan dengan keras bahwa pelanggaran terhadap ibadah adalah bid’ah, dan bid’ah akan menyeret pelakunya masuk neraka. Seperti, ‘Memanjangkan celana melewati mata kaki, itu neraka!’ Padahal pengetian tentang bid’ah sendiri belum seragam di kalangan muslim. Seharusnya disampaikan terlebih dahulu supaya bid’ah ini dipahami sama pengertiannya.

Kenapa tidak, kajian-kajian Islam sekarang ini lebih menyentuh isu atau ajaran yang berkenaan dengan pengelolaan lingkungan hidup? Kebersihan lingkungan? Dan itu, menurut saya, lebih urgen untuk kondisi saat ini.

Perlu ada kajian-kajian yang menyatakan bahwa menjaga kebersihan juga merupakan akhlak yang harus dimiliki seorang muslim, dan sebaliknya tidak menjaga bahkan merusak lingkungan merupakan perbuatan dosa.

Bahkan bila perlu disampaikan saja secara tegas, bahwa membuang sampah sembarangan juga akan menyebabkan pelakunya masuk neraka, sebagaimana kalau dia melakukan bid’ah.

Kajian-kajian Islam yang berkenaan dengan isu lingkungan hidup perlu ditumbuhkan, sehingga terjadi keseimbangan dan kesempurnaan pemahaman kaum Muslimin terhadap Islam. Tidak parsial, tidak menganggap ibadah hanya sebatas aktivitas ta’abudi. Harus ditumbuhkan, menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah saja juga merupakan sebuah aktivitas ibadah.

Harusnya ada keseimbangan dalam penyampaian materi-materi kajian, khutbah atau ceramah, antara bahaya bid’ah dengan bahaya membuang sampah. Melakukan bid’ah atau membuang sampah sembarangan, pelakunya sama berdosa dan akan masuk neraka.