Pada suatu hari saya mengajak Saujana, anak perempuan saya yang berumur 10 tahun, berjalan-jalan ke sebuah obyek wisata berupa kawah vulkanik aktif di sebuah lembah yang sangat terkenal. Kawah yang mengepulkan gas belerang terus-menerus itu telah mengundang banyak wisatawan setiap harinya. Dan sudah pasti sangat ramai di akhir pekan dan hari libur lainnya.

Saya sendiri sudah beberapa kali berkunjung ke kawah ini dan cukup sering juga mendengar komentar dari para wisatawan, terutama wisatawan mancanegara yang mengeluhkan kondisi obyek wisata tersebut. Untuk memastikan kebenaran dari keluhan para wisatawan itu, maka suatu ketika saya putuskan untuk datang dengan sebuah misi. Saujana, anak saya yang berumur 10 tahun, saya ajak dan  saya minta membawa papan tulis kecil yang biasa dia pakai untuk belajar, lengkap dengan kapur tulis dan penghapusnya. Saujana saya minta untuk bergaya di spot selfie yang banyak tersedia di kawasan kawah tersebut. Dia saya minta berfoto sambil memegang papan tulisnya yang ditulisi nomor urut dari 01, kemudian pindah ke spot kedua dan tulisan di papan tulisnya ikut diganti dengan angka 02, demikian seterusnya di setiap spot selfie yang ada di tempat tersebut.

Dari berbagai spot selfie yang ada, baik yang kondisinya masih bagus maupun yang sudah rusak, dengan berbagai macam tema seperti ayunan, burung liar, sampai mobil jeep dan rumah-rumahan, telah membawa misi kami di spot selfie terakhir saat papan tulis bertuliskan angka 52. Artinya terdapat lima puluh dua spot selfie buatan manusia di satu spot wisata.

Abraham Maslow, seorang psikolog yang terkenal dengan teori Hirarki Kebutuhan (Hierarchy of Needs), menuliskan bahwa kebutuhan manusia dapat dibagi dalam lima tingkat, dimulai dengan kebutuhan paling dasar seperti kebutuhan terhadap makanan, minuman, istirahat, dan lainnya. Di atasnya adalah kebutuhan yang berhubungan dengan rasa aman, di atasnya lagi kebutuhan akan cinta dan kepemilikan, dilanjutkan dengan kebutuhan akan penghargaan atas diri sendiri seperti kebanggaan (prestige) dan prestasi, dan di puncaknya adalah kebutuhan untuk aktualisasi.

Dari teori tersebut kita bisa melihat bahwa kegemaran manusia untuk berswafoto atau selfie berada di puncak piramida Maslow yaitu kebutuhan akan eksistensi dan aktualisasi diri. Artinya dorongan untuk memotret diri sendiri dan menceritakannya kepada orang lain atau dunia di luar dirinya adalah hal yang wajar. Dan hal ini semakin menemukan jalannya dengan adanya sosial media yang dengan mudah menjadi sarana kita untuk memberitakan dan menyebarkan kisah-kisah tentang diri kita sendiri yang dalam bentuk foto-foto selfie ke dunia yang lebih luas di luar kita.

Menyadari kebutuhan manusia seperti di atas, para pengelola obyek wisata sangat segera menyikapinya dengan berlomba-lomba menyediakan spot selfie yang sangat berlimpah, bahkan untuk satu area wisata. Keuntungan bagi pengelola wisata itu selain mendapatkan penghasilan dari tarif yang dipungut dari para wisatawan yang melakukan selfie, juga foto-foto selfie ini menjadi cara cepat agar obyek wisata yang dikelolanya semakin dikenal oleh masyarakat luas sehingga diharapkkan semakin banyak wisatawan yang akan berdatangan.

Namun pada kenyataannya, membuat wisatawan merasa nyaman dan datang kembali ke lokasi wisata yang sama tidak bisa diperoleh dengan cara memuaskan kegemaran orang untuk berswafoto di spot-spot selfie yang  bentuknya sendiri cenderung sama dari satu tempat wisata ke tempat wisata lain tanpa tema atau kekhasan tertentu, seperti kerangka berbentuk hati, tulisan-tulisan identitas tempat wisata, kursi gantung dan lainnya.

Wisatawan mungkin tertarik untuk berfoto di spot selfie tersebut ketika pertama kali datang, namun di kesempatan berikutnya, tempat tersebut sudah terasa usang dan membosankan. Hal ini bisa dilihat dari 52 spot selfie yang kami foto sudah mulai dibiarkan rusak terbengkalai dan tidak lagi dipakai untuk berswafoto. Hal ini wajar karena bagi kita yang pernah berswafoto di suatu tempat, akan enggan mengulangi lagi berfoto di tempat yang sama karena tidak ada nilai tambah terhadap kebutuhan aktualisasi kita. Kita akan cenderung mencari tempat lain atau mencari sudut yang berbeda untuk berswafoto agar dunia yang melihat kegiatan pribadi kita juga tidak jenuh dan bosan.

Selain kebosanan terhadap foto dengan spot yang sama, masalah berikutnya adalah terlalu banyaknya spot selfie yang dibuat tanpa pertimbangan keharmonisan ataupun kekhasan tempat wisata utamanya. Sebagai contoh, sebuah spot selfie di area kawah aktif menawarkan berswafoto bersama burung hantu. Hal ini menjadi tidak wajar karena burung hantu adalah binatang nocturnal yang seharusnya hanya keluar di malam hari. Selain itu obyek wisata kawah gunung berapi bukan habitat alami dari burung hantu sehingga keberadaan burung hantu tersebut tidak menunjukkan identitas lokasi wisata itu sendiri.

Untuk tempat wisata yang menawarkan keindahan alam sebagai keunggulannya, banyaknya spot selfie yang tidak harmonis dengan obyek wisatanya justru hanya akan menjadi sampah visual. Kita akan sulit menikmati indahnya lereng-lereng gunung yang menghijau karena banyaknya warna-warna buatan yang tidak alami. Atau pandangan ke arah lembah yang seharusnya indah justru terhalang oleh bentuk-bentuk buatan yang tidak alami. Alih-alih kita memamerkan bahwa kita sedang berwisata di suatu tempat yang indah, foto kita justru hanya akan berisi ornamen-ornamen buatan yang sering kali tema dan penempatannya bertabrakan satu sama lain.

Startegi yang bisa dilakukan oleh pengelola wisata agar obyek wisatanya tetap apik, khas dan tidak membosankan namun tetap gampang dikenal adalah dengan menjaga identitas yang menjadi kelebihan tempat wisata tersebut. Misalkan sebuah obyek wisata adalah kawah vulkanik aktif, maka pengelola bisa membuatkan jalur pejalan kaki (jalur tracking) yang akan menuntun pengunjung ke sudut-sudut terbaik untuk melihat fenomena alam tersebut sekaligus berswafoto dengan latar belakang keindahan alamnya. Dan kalaupun terpaksa membuat spot selfie, pastikan bahwa spot tersebut terhubung secara harmonis dengan obyek wisatanya, mulai dari tema yang dipilih, material yang digunakan, desain bangunannya, sampai dengan pemilihan sudut penempatan yang tepat sehingga tidak menjadi sampah visual yang mengganggu wisatawan yang bermaksud menikmati keindahan alamnya.

Selanjutnya di masa pandemi seperti sekarang yang telah mempengaruhi turunnya jumlah kunjungan wisatawan ke obyek-obyek wisata, saat yang tepat bagi pengelola obyek wisata untuk membongkar spot-spot selfie yang selama ini menjadi sampah visual dan fokus pada kekuatan obyek wisatanya sendiri. Dan kalaupun tetap akan membuat spot selfie, harus dipastikan itu sejalan dan mendukung konsep pariwisata yang ditawarkan.