Mahasiswa
2 bulan lalu · 87 view · 4 min baca menit baca · Lingkungan 36798_29739.jpg
Seva.id

Sampah Plastik Menguasai Lautan

Hari itu, anak laki-laki desa Sanur, Bali bertelanjang dada dan meneriakkan cak…cak.. seraya mengangat tangan ke langit. Para penari perempuan masuk ke lingkaran pentas Kecak. 

Mereka, para penari, menampilkan sebuah pertunjukan seni Tari Kecak untuk melambangkan murkanya Dewa Laut, Baruna Murthi, akibat sampah plastik yang mencemari laut.

Anak-anak tersebut membuat sebuah perwujudan penguasa laut yang berubah menjadi raksasa, berwajah seram, dengan trisula di tangan kanan dan tong sampah di tangan kirinya. Meminta manusia segera membersihkan laut. Perwujudan Baruna Murthi tersebut sengaja dibuat oleh mereka dari kumpulan sampah plastik di sekitar pantai Sanur.

Pertunjukan tersebut sengaja dibuat untuk menggambarkan kondisi malang Indonesia saat ini. Sampah plastik telah memenuhi lautan karena malasnya masyarakat untuk memilah dan mengolah sampah dengan baik.

Menurut data penelitian dari Dr. Jenna Jambeck pada 2015, yang mengatakan bahwa Indonesia membuang limbah plastik sebanyak 8 juta ton setiap tahunnya dan menjadi negara kedua terbesar setelah Cina sebagai penyumbang sampah plastik terbanyak di laut.


Lalu, apa sebenarnya penyebab dari permasalahan tersebut? Di manakah keberadaan pemerintah Indonesia saat ini?

Permasalahan utamanya adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap tanggung jawab mereka dalam mengolah sampah plastik. Tentunya masyarakat telah mengetahui bahwa plastik adalah zat anorganik yang sulit diuraikan oleh mikroorganisme tanah dan bahkan menghabiskan waktu berjuta-juta tahun untuk bisa terurai.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan bahwa jika kita tidak berusaha untuk mengurangi sampah plastik, maka diprediksi pada tahun 2030 sampah plastik di laut Indonesia akan lebih banyak daripada ikan-ikan. Ini sangat membahayakan posisi Indonesia mengingat negara ini adalah negara maritim.

Oleh karenanya, Susi Pudjiastuti mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kebersihan laut dengan memperhatikan dengan baik pemilahan sampah plastik dan memiliki kesadaran untuk tidak membuangnya ke laut.

Saat ini, laut Indonesia sangat tercemar oleh sampah plastik. Ribuan ikan, penyu, dan makhluk laut lainnya harus menelan sampah-sampah itu yang mana itu akan berbahaya bagi kehidupan mereka. Salah satu contoh nyatanya, yaitu matinya seekor paus sperma di Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Paus tersebut ditemukan terdampar di perairan Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Temuan bangkai paus itu menimbulkan keprihatinan masyarakat sekitar dan aktivis lingkungan. 

Dwi Suprapti, koordinator konservasi spesies maritime pada WWF Indonesia mengatakan bahwa fakta mengejutkan yang membuat paus ini mati tidak lain adalah sampah plastik.

Setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata ada 5,9 kg sampah plastik ditemukan dalam perut paus malang itu. Sekitar 140 gram sampah plastik keras, 150 gram botol plastik, sekitar 260 gram kantong plastik, 270 gram sandal jepit, didominasi oleh tali rafia sekitar 3,26 kg, dan gelas plastik sejumlah 750 gram.


Dwi juga menambahkan bahwa ini bukanlah hal mustahil yang menjadi penyebab matinya paus tersebut. Sangat jelas bahwa sampah-sampah plastik tersebut ditemukan di dalam perut paus, yang artinya bahwa paus tersebut mati karena tubuhnya tidak mampu mencerna sampah plastik yang ada dalam perutnya.

Bagaimana hal itu tidak terjadi bahkan fakta lain datang dari Lembaga Ocean Conservancy and the McKinsey Center for Business and Environment yang menyatakan bahwa lima negara di Asia, termasuk Cina, Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Thailand menghasilkan 60% limbah plastik di lautan menurut laporan tahun 2015.

Fenomena sampah plastik lainnya datang dari seorang penyelam Inggris, Rich Horner, yang melakukan penyelaman dan merekam kondisi laut di dekat Nusa Penida, Bali yang dipenuhi oleh sampah plastik. Karena hal itu, videonya pun tersebar luas dan dilihat oleh masyarakat.

Dalam video tersebut, Rich terlihat berenang dan menyelam dengan ditemani oleh sampah-sampah plastik. Terlihat juga ia berenang di bawah sampah-sampah yang terapung dan bergerak terbawa arus yang ada dengan ikan-ikan yang ikut berenang bersama sampah-sampah plastik tersebut.

Rich mengungkapkan bahwa pada awalnya ia berpikir sampah-sampah plastik itu berasal dari Indonesia. Tetapi, ia menyadari bahwa banyak arus mengalir di sekitar laut itu yang artinya mungkin sampah itu berasal dari berbagai arus, salah satunya arus utara yakni dari Asia Tenggara.

Kondisi banyaknya sampah plastik yang tergambar dalam video Rich Horner itu diakui oleh salah satu pengusaha penyelaman di Nusa Penida, Andri Yusuf. Ia memberi konfirmasi bahwa peristiwa sampah plastik di Nusa Penida itu terjadi karena air hujan dan arus laut, “Pada musim-musim tertentu, sampah di laut tiba-tiba berkumpul.”

Selanjutnya, sampah-sampah plastik yang mengalir ke laut itumenjadi perhatian tersendiri dalam konferensi kelautan PBB. Di sana juga pemerintah Indonesia akan berkomitmen untuk mengurangi sampah plastik di laut sampai 70% pada 2025 mendatang. 

Dalam konferensi tersebut, Dr.Jenna juga menilai bahwa komitmen Indonesia dan negara lain sangat penting dalam memperhatikan hal ini.

Ternyata, banyak cara yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk menanggulangi permasalahan ini. Kementrian Koordinator Kemaritiman menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan beberapa tahapan dalam menyelesaikan permasalahan sampah plastik ini.

Namun, mengapa fenomena sampah plastik ini masih saja terjadi? Bahkan permasalahan ini terlihat rumit dan tidak bisa diselesaikan. Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan dan strategi untuk menyelesaikan masalah ini, namun masyarakat tidak bisa bekerja sama baik dengan pemerintah.

Baca Juga: Puasa Plastik

Sampah plastik yang memenuhi lautan membuat semua orang prihatin melihatnya. Mengingat laut adalah harta berharga bagi Indonesia. Sesungguhnya, tidak hanya pemerintah-lah yang berperan dalam menyelesaikan ini. Masyarakat juga harus berkontribusi dan bekerja sama dengan pemerintah.

Jika masyarakat dan pemerintah tidak bisa bekerja sama dengan baik, yang ditakutkan adalah permasalahan semakin berlanjut. Sesungguhnya, solusi berada di tangan kita sebagai masyarakat. Jika bukan kita, siapa lagi?

Referensi

Artikel Terkait