Indonesia merupakan salah satu Negara timur yang memiliki banyak ciri khas tersendiri seperti bersalaman dengan mencium tangan orang yang lebih dituakan yang mungkin dinegara-negara barat sana kita tidak menemukannya atau membungkuk disaat berjalan melewati orang yang lebih tua, bergotong royong membantu sesama, bermusyawarah mufakat dan berbagai ciri khas lainnya.

Meskipun begitu, Indonesia masih relatif  mudah mendapat dampak globalisasi, baik dampak positif maupun dampak negatif. Budaya yang masuk ke Indonesia seringkali menetap lama dan pada akhirnya bercampur menjadi bagian dari budaya dari Negara itu sendiri. Hal ini dikarenakan filter dari masing-masing individu masyarakat Indonesia belum terlalu maksimal, sehingga masyarakat seolah menerima budaya-budaya tersebut secara mentah.

Salah satu budaya yang secara tak sadar bertahan di Indonesia adalah Budaya Konsumtif. Memang, budaya ini tidak setiap semua dimiliki oleh masyarakat Indonesia, akan tetapi setidaknya mayoritas yang tergolong madani dan bermukim di kawasan perkotaan berprilaku demikian. 

Pola konsumsi yang terjadi pada hampir semua lapisan masyarakat, meskipun dengan ‘kadar’ yang berbeda-beda. Remaja merupakan salah satu contoh yang paling mudah terpengaruh dengan pola yang berlebihan (Loudon & Bitta, 1993).

Menurut Sumartono (dalam Fransisca, 2005: 176), prilaku konsumtif adalah suatu prilaku yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional, melainkan karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf tidak rasional lagi. Prilaku konsumtif melekat pada seseorang bila orang tersebut membeli sesuatu di luar kebutuhan (trend) tetapi sudah kepada faktor keinginan (want).

Diantara kebutuhan dan keinginan terdapat suatu perbedaan. Kebutuhan bersifat naluriah, sedangkan keinginan merupakan kebutuhan buatan, yaitu kebutuhan yang dibentuk oleh lingkungan hidupnya seperti lingkungan keluarga atau lingkungan sosial lainnya. 

Dahulu sebuah mobil hanya dibeli konsumen karena kemampuannya memenuhi kebutuhan akan kendaraan angkutan, namun saat ini konsumen tidak lagi membeli mobil semata-mata karena kebutuhan angkutan lagi tetapi juga untuk menunjang statusnya di masyarakat (Ferrinadewi, 2008: 3)

Sejak berkembangnya industri-industri di Indonesia, seperti makanan, minuman, model pakaian dan lain sebagainya yang membuat ketersediaan barang-barang kebutuhan meningkat pesat. Bukan rahasia umum lagi jika masyarakat sekarang kebanyakan mengonsumsi sesuatu bukan lagi dari segi fungsionalnya melainkan dari trend yang saat ini berkembang.

Budaya konsumtif secara kasat mata jelas sekali sudah menggelayuti masyarakat dari berbagai kalangan. Ini tidak lain juga disebabkan karena prilaku masyarakat sendiri yang lebih senang menghabiskan waktunya untuk berbelanja, bahkan saat barang tersebut tidak terlalu dibutuhkan. Lebih parahnya lagi dengan banyaknya produk di pasaran yang menggunakan kemasan yang tak ramah lingkungan yang kemudian menjadi salah satu faktor meningkatnya volume sampah di Indonesia.

Ketika tingkat konsumtif masyarakat menjadi tinggi, maka akan banyak barang yang dibeli. Barang-barang yang dibeli ini sudah barang tentu memiliki bungkus minimal kantong plastik. Dampak langsungnya adalah volume sampah pun akan meningkat sebagai dampak dari bungkus-bukus tersebut. Hal ini diperparah lagi dari masih banyak masyarakat yang belum sadar akan pengelolaan sampah, setidaknya memilah terlebih dahulu.

Prilaku konsumtif menjadi suatu masalah serius yang perlu diperhatikan oleh kita semua, mengingat hal ini tidak bisa lagi dihindarkan karena konsumsi manusia juga tidak dapat dihentikan. Di tiap kota di Indonesia, akibat prilaku konsumtif ini sampah yang ditimbulkan juga kian menambah persoalan menjadi rumit. Meskipun sudah beragam solusi dan inovasi yang ditawarkan, namun sampai saat ini belum ada yang betul-betul efektif untuk menangani permasalahan ini.

Perlu diketahui, Indonesia adalah salah satu Negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Sampah yang dihasilkan dari wilayah daratan terutama kota-kota besar. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016, produksi sampah per hari tertinggi berada di Pulau Jawa, khususnya Surabaya. Pada 2015, produksi sampah di Surabaya sebesar 9.475,21 meter kubik dan meningkat 9.710,61 meter kubik di 2016. Wilayah lain di luar Pulau Jawa yang angka produksi tinggi sampah adalah Kota Mamuju, yakni 7.383 meter kubik dan Kota Makassar sebesar 5.931,4 meter kubik pada 2016.

Selain menggunungnya sampah di Indonesia, rupanya sampah juga menyimpan masalah yang cukup serius bagi kesehatan. Perlu diketahui, penggunaan plastik dalam industri  makanan adalah kontaminasi zat warna plastik dalam makanan. Sebagai contoh adalah penggunaan kantong plastik (kresek) untuk membungkus makanan seperti gorengan dan lain sebagainya.

Menurut Made Arcana, ahli Kimia Institut Teknologi Bandung yang dikutip Gatra Edisi Juli 2003, zat pewarna hitam kalau terkena panas (misalnya berasal dari gorengan), bisa terturai dan terdegradasi menjadi bentuk radikal. Zat racun itu bisa bereaksi dengan cepat, seperti oksigen dan makanan. 

Kalaupun tak beracun, senyawa tadi bisa berubah jadi racun bila terkena panas. Bentuk radikal ini karena memilki satu electron tak berpasangan menjadi sangat reaktif dan tidak stabil sehingga dapat berbahaya bagi kesehatan terutama dapat menyebabkan sel tubuh berkembang tidak terkontrol seperti pada penyakit kanker.

Belum lagi sampah plastik yang dibuang ke laut. Sampah plastik menjadi salah satu sumber pencemaran laut di Indonesia. Seperti diketahui bahwa kondisi pencemaran laut di Indonesia cukup memprihatinkan. Sebanyak 75 persen berkategori Sangat Tercemar, 20 persen Tercemar Sedang dan 5 persen Tercemar Ringan. Sebagian sumber pencemaran adalah sampah plastik yang dibawah oleh rumah tangga diperkotaan dan pemukiman.

Hasil riset Jenna Jambeck, peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, yang dipublikasikan pada tahun 2015 menyebutkan Indonesia menyumbang sampah plastik terbanyak nomor dua di dunia. Pada saat itu, berat sampah plastik yang disumbang mencapai 187,2 juta ton.

Angka itu di bawah China dengan volume sampah mencapai 262,9 juta ton yang disusul negara-negara Asia lain, seperti Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka. Selain itu, empat sungai di Indonesia, yakni Brantas, Bengawan Solo, Serayu, dan Progo, termasuk 20 sungai terkotor sedunia. Fakta itu berdasarkan hitungan metrik ton sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik.

Ini menjadikan Indonesia pengotor laut dari sampah plastik terbesar kedua di dunia sesudah China. Artikel ilmiah Nature pada tahun 2017 memperkirakan 1,15 hingga 1,41 juta ton plastik dari sungai memasuki lautan tiap tahun. Dari jumlah ini, Indonesia diperkirakan membuang sekitar 200.000 ton plastik dari sungai-sungai dan kali, terutama di Jawa dan Sumatera.

Melihat fenomena yang ditumbulkan oleh budaya konsumtif yang kian hari makin menjadi-jadi, maka sudah sepatutnyalah kita sadar dan menyikapi budaya konsumtif agar tak lagi menjadi salah satu supplier sampah. Tentunya, selain dari berbagai terobosan dan inovasi baru yang diciptakan, maka itu harus dibarengi pulalah dari dalam diri. 

Mengutamakan kebutuhan daripada keinginan dan menanamkan sikap tanggung jawab terhadap keberadaan sampah adalah salah satu langkah konkrit untuk mengurangi lajur angka sampah yang kian hari menjadi tumpukan dan ‘pemandangan’ yang seolah tak bisa dilepaskan dari kota-kota besar di Indonesia.

Langah untuk menekan laju angka sampah di Indonesia sebenarnya sudah banyak. Pada bulan Februari 2016 pemerintah mencoba mengurangi penggunaan plastik melalui program kantong plastik berbayar seharga Rp. 200,- bekerja sama dengan peritel modern. 

Namun, pemerhati lingkungan menyayangkan kecilnya harga plastik tersebut. Dan pada tahun yang sama, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memutuskan menghentikan program dengan alasan ketiadaan payung hukum untuk pelaksanaan di lapangan.

Cara lain, mungkin kita bisa meniru dengan apa yang diterapkan di Belanda. Adalah Proyek yang disebut Plastic Road. Sebuah jalanan untuk sepeda di kota Zwolle yang terbuat dari hasil daur ulang plastik. Ini merupakan salah satu cara untuk menggunakan kembali botol, gelas, dan bungkus plastik alih-alih membakarnya atau menumpuknya di TPA.

Saat ini jalanan tersebut menggunakan 70 persen plastik daur ulang, tapi rencananya di masa depan akan digunakan 100 persen plastik daur ulang. Jalanan plastik pertama di Zwolle panjangnya 30m dan mengandung plastik daur ulang yang setara dengan 218.000 gelas plastik atau 500.000 tutup botol plastik.

Selain ide dan langkah nyata, dibutuhkan pula regulasi yang diterapkan untuk mengatasi masalah sampah plastik ini. Seperti larangan bagi toko modern dan ritel untuk menyediakan kantong plastik. Terobosan ini diterapkan di Kota Seribu Sungai atau Banjarmasin melalui Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 18 Tahun 2016 tentang Larangan Penggunaan Kantong Plastik bagi Ritel dan Toko Modern yang disahkan pada 1 Juni 2016.

Contoh konrit diatas adalah salah satu terobosan dan inovasi yang bisa diterapkan di beberapa bahkan semua kota di Indonesia yang angka sampahnya sangat membengkak. Dengan melibatkan semua pihak terlebih lagi pemerintah, maka bukan tidak mungkin angka sampah di Indonesia bisa ditekan.

Namun, bukan berarti dengan diterapkannya larangan penggunaan kantong plastik bagi ritel dan toko modern maka masyarakat sudah bisa seenaknya untuk berprilaku konsumtif. Tentu jawabnya tidak, perubahan akan prilaku konsumtif haruslah dimulai dari diri sendiri lebih dahulu. 

Mulai memahami bahwa kebutuhan dan keinginan adalah suatu hal yang sangat jauh berbeda. Kebutuhan memiliki derajat yang lebih tinggi daripada keinginan. Selain itu, mengubah pola pikir dengan tidak menjadikan barang sebagai suatu hal untuk menambah gengsi.

Dengan memulai diri untuk tidak terbiasa berprilaku konsumtif, adalah suatu tindakan yang nyata untuk menekan angka sampah di Indonesia karena salah satu dampak dari prilaku konsumtif itu sendiri adalah menciptakan tumpukan sampah di Indonesia.

Perubahan besar selalu dimulai dari tindakan sederhana. Pengendalian sampah bukan hanya melalui kegiatan daur ulang atau pembuatan produk hukum tapi lebih pada menyikapi budaya konsumtif agar tak lagi menjadi salah satu supplier sampah. 

Mengurangi timbulan sampah plastik juga menjadi salah satu cara untuk mengatasinya. Sudah sepatutnya kita untuk memikirkan keberlanjutan lingkungan dengan memperhatikan dan mengendalikan sampah yang kita hasilkan.