Mahasiswa
1 bulan lalu · 81 view · 4 min baca menit baca · Kesehatan 90324_99727.jpg

Sampah dan Penderitaan Manusia

Permasalahan kesehatan lingkungan di Indonesia sengatlah beragam dan dari tahun ke tahun belum dapat terselesaikan dengan baik. Masalah yang terjadi antara lain permasalahan pencermaran, baik pencemaran air, pencemaran udara, maupun pencemaran tanah. Namun yang paling masalah yang paling mendominasi dalam hal ini adalah masalah sampah.

Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setalah berkhirnya suatu proses. Sampah di definisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, dalam proses alam sebenarnya sampah hanya produk, produk yang dihasilkan setelah dan selama proses itu berlangsung.

Bedasarkan sifat organiknya, sampah dibedakan menjadi dua yaitu, sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik merupakan sampah yang dapat diurai oleh mikroorganisme atau yang dapat membusuk, seperti sampah sisa makanan, duan-daunnan, sayuran dan lain-lain. 

Sedangkan sampah anorganik adalah sampah yang membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai, bahkan cenderung terurai oleh mikroorganisme, contohnya sampah plastic, kaca, kaleng, dan lain-lain.

Sampah plastic di Indonesia sendiri adalah yang paling mendominasi, hal ini disebebkan oleh prilaku konsumtif dan prilaku ingin serba cepat sehingga produk instan yang kebanyakan menggunakan pembungkus plastic sehingga kita dapat menemukannya dimana saja, baik di pantai, dijalan raya, selokan, sungai, dan berbagai tempat lainnya.

Indonesia sendiri tercatat menyumbang 10% sampah plastic untuk dunia sehingga di setiap langkah kita, kita akan melihat setidaknya ada satu sampah plastic yang dibuang sembarangan. Bayangkan apabila kita mengurangi penggunaan plastic minimal tiga plastic setiap harinya dan setiap orang di Indonesia melakukan hal yang sama, pasti akan berbeda pemandangan yang kita lihat sekarang ini.


Pada zaman dahulu, ketika para orang tua belum tergantung dengan kegunaan plastic, mereka yang berbelanja akan menggunakan ‘Angkring’ atau tempat yang digunakan untuk membawa barang belanjaan. Itu merupakan salah satu kebiasaan yang mulai hilang sekarang ini dan tergantikan oleh kegunaan plastic yang lebih mudah dan cepat. 

Padahal jika kebiasaan lama itu masih kita ikuti, sampah plastic akan sedikit demi sedikit berkurang. Namun, karena kepraktisan dan kemudahan yang ditawarkan plastic lebih memanjakan kita, maka akan sulit untuk kembali ke kebiasaan lama.

Sampah plastic sendiri tidak bisa diuraikan oleh mikoorganisme dan sangat sukar untuk dirombak di dalam tanah, sehingga sampah plastic yang tidak diolah akan menumpuk terus menerus. Tahukah anda bahwa bumi ini bakalan merintih ketika kita perlakukan demikian setiap harinya ? pencemaran yang dihasilkan plastic tidak hanya pencemaran tanah, namun juga pencemaran udara.

Pencemaran tanah dikarenakan zat-zat kimia dalam plastic yang sukar terurai itu mengahalangi aliran air didalam tanah serta menutupi jalannya mineral dalam tanah yang akan diserap oleh tanaman. Sedangkan pencemaran udara sendiri dikarenakan bau menyengat yang dihasilkan oleh sampah serta biasanya manusia akan menyelesaikan perkara sampah plastic dengan cara membakarnya. Bukankah itu akan semakin membuat efek rumah kaca bertambah?

Untuk menyelesaikan permasalahan mengenai smpah, kita harus melihat ke dalam diri kita terlebih dahulu. Sudahkan kita mengurangi pemakaian sampah untuk diri kita sendiri ? sudahkah kita juga membuang sampah di tempat sampah anorganik dan tidak membuangnya sembarangan terlebih lagi di tanah ? Intropeksi  diri sangatlah penting karena bagaimana kita harus memulai sesuatu dari kita sendiri.

Setelahnya, kita bisa mengingatkan orang-orang disekitar kita untuk mengurangi pemakaian sampah plastic secara perlahan. Bukankah kebiasaan baik dengan dampak yang bisa dirasakan bersama akan lebih mudah disebarkan secara keseluruhan ? dari hal ini pula biasanya orang yang sudah kita ajak untuk lebih mencintai lingkungan akan mengajak orang terdekatnya juga yang terus menerus membuat suatu efek domino bagi semua orang sehingga sedikit demi sedikit sampah plastic akan semakin berkurang.

Cara selanjutnya adalah Recycle. Kita dapat melakukan pengolahan kembali sampah plastic menjadi suatu barang yang bernilai jual. Seperti sebuah tas yang dibuat dengan sampah palstic bekas pembungkus detergen, plastic pembungkus penyedap rasa, plastic pembungkus pelembut pakaian, plastic pembungkus makanan ringan dan lain-lain.


Untuk pengolahan ulang ini sendiri, tidak banyak orang yang memiliki keahlian untuk menciptakan suatu sampah menjadi suatu barang bernilai jual karena perbedaan kreativitas masing-masing individu. Maka dari itu, disinilah peran kita dan pihak-pihak terkait seperti instansi pemerintah atau swasta bisa membantu dalam hal sosialisasi dan pelatihan.

Selain itu, sebelumnya kita harus paham bagaimana cara memisahkan sampah organik dengan anorganik sehingga lebih terstruktur dan lebih cepat. Hal ini tidak hanya mengurangi dampak sampah plastic pada lingkungan, namun juga mamberi pendapatan kepada masyarakat itu sendiri.

Bumi ini merupakan pinjaman dari anak cucu kita yang wajib kita lestarikan dan kita jaga agar dimasa selanjutnya mereka masih bisa menikmati alam yang kita rasakan sekarang ini, terlebih lagi lebih baik dari yang sekarang kita rasakan. Jadi jika kita bisa menyadari bahaya sampah yang mengintai kita, maka kita juga bisa manjaga dengan cara yang sederhana.

Karena perbuatan kecil yang kita lakukan seperti membuang sampah tanpa berpikir panjang, akan menyebabkan kerusakan besar pada bumi kita dan kelangsungan hidup manusia. Dan prilaku kita terhadap lingkungan merupakan awal perubahan untuk langkah yang kita buat ke depannya.

Jadi tanamkanlah jiwa cinta alam dengan prinsip untuk mewujudkan Indonesia yang bersih tanpa sampah. Hal ini tidak hanya untuk kita, namunjuga untuk anak cucu kita di masa yang akan datang agar suatu saat nanti udara masih bersih, tanah masih subur, dan pemandangan yang dapat bukan hanya sampah saja. Semua tergantung pada setiap prilaku dan langkah apa yang kita ambil. Dan mari berubah untuk Indonesia yang bebas dari sampah.

Artikel Terkait