Siapa yang tak mengenal Kudus? Kota kecil di provinsi Jawa Tengah yang terkenal akan industri rokoknya. Kota yang memiliki ikon menara ini letaknya berbatasan dengan kota Pati di sebelah timur, kota Demak di sebelah selatan, dan kota Jepara di sebelah barat. 

Selain terkenal akan industri rokoknya, Kudus juga terkenal akan ciri khas budayanya, di mana masyarakat di kota Kudus tidak diperkenankan menyembelih hewan sapi untuk menghormati umat agama Hindu.

Siapa sangka, di balik predikatnya sebagai kota terkecil di pulau Jawa, kota Kudus memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam menyambut datangnya bulan Ramadan, kota Kudus memiliki serangkaian tradisi yang berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia. 

Rangkaian tradisi tersebut dilaksanakan pada bulan Ruwah. Ruwah merupakan bulan ke delapan dalam kalender Jawa, yang merupakan bulan sebelum puasa Ramadan dilaksanakan.

Rangkaian tradisi sebelum bulan Ramadan diawali dengan bodo puli  (lebaran puli) pada malam ke 15 bulan Ruwah. Puli adalah jajanan tradisional yang terbuat dari nasi yang ditumbuk dan diberi pewarna, garam, dan bleng (berbentuk seperti minyak) hingga bentuknya memadat. Kemudian dipotong kecil-kecil dan disajikan dengan parutan kelapa di atasnya.

Puli sendiri memiliki makna ngumpulno sing do lali, yang berarti mengumpulkan orang-orang yang saling melupakan satu sama lain karena kesibukannya agar dapat bertemu, berkumpul, dan mengingat satu sama lain. Bodo puli dilakukan dengan masing-masing keluarga membuat puli, kemudian dibawa ke masjid atau musholla untuk saling ditukarkan dengan puli dari orang lain. Biasanya, para perempuan-lah yang membuat puli di rumah, kemudian para lelaki yang membawanya ke masjid atau musholla.

Setelah bodo puli selesai, pada tanggal 15 Ruwah ke atas, masing-masing keluarga secara suka rela (tidak bersifat wajib, karena takut memberatkan yang tidak mampu) mengadakan ruwahan/besik kubur di rumahnya. Ruwah berarti arwah. Jadi, dalam bulan Ruwah, masyarakat meyakini bahwa arwah nenek moyang atau anggota keluarga yang telah meninggal akan pulang ke rumah masing-masing. 

Maka, anggota keluarga yang masih hidup mengadakan ruwahan untuk menyambut kedatangan mereka. Ruwahan dilakukan dengan pembacaan Yasin, Tahlil dan doa yang dikhususkan kepada orang yang telah meninggal.

Bagi sebagian masyarakat yang masih mempercayai adat kuno, ruwahan tidak lengkap rasanya jika tidak menyajikan among-among (sesaji) berupa makanan atau minuman kesukaan nenek moyang beserta buceng (nasi yang dibentuk kerucut dengan bawang dan cabai merah yang masih utuh diatasnya). 

Among-among tersebut diletakkan di tempat tersembunyi di bagian kiri. Tujuannya untuk menyenangkan arwah nenek moyang yang pulang ke rumah. Dalam tradisi ruwahan, ada beberapa hal yang tak pernah ketinggalan yaitu ikan petek yang digoreng, kacang panjang mentah, dan seiris terong mentah yang dibungkus dengan plastik kecil. 

Tak lupa, jajanan yang selalu ada yaitu kue apem dan pisang. Untuk lauk sendiri tidak diwajibkan harus daging ayam, tapi sebagian masyarakat menggunakan daging ayam sebagai lauk dalam acara ruwahan tersebut. Selain ruwahan yang diadakan di rumah, diadakan juga tahlil massal yang dilaksanakan di masjid atau musholla dengan mengirimkan nama-nama ahli kubur yang nantinya akan dibacakan oleh orang yang memimpin tahlil tersebut.

Dengan adanya tradisi bodo puli dan ruwahan, masyarakat yang mulanya sibuk dengan urusan masing-masing dapat berkumpul dan saling berbincang dalam suatu tempat. Sehingga, tali silaturahmi dapat terjalin kembali. "Selain itu, tradisi yang diwariskan nenek moyang dapat terus dilestarikan, tidak hilang tertelan zaman begitu saja," tutur Usman, salah satu warga Kudus yang turut menjalankan tradisi tersebut.

Puncak dari rangkaian tradisi dalam menyambut bulan Ramadan yaitu diadakannya tradisi dandangan. Di mana para penjual makanan, minuman, pakaian, mainan, dan lain-lain akan berjejer di pinggir jalan dari alun-alun kota Kudus hingga Jember untuk menjajakan dagangannya. Tak ketinggalan berbagai wahana permainan yang turut meramaikan tradisi dandangan di kota Kudus. 

Selama seminggu, suasana dandangan begitu ramai dengan gemerlap lampu yang menghiasi setiap lapak dagangan. Suara penjual makanan yang bersemangat menjajakan dagangannya serta pengunjung yang berlalu-lalang semakin melengkapi keramaian dandangan.

Jika Anda ingin berlibur ke luar kota, cobalah untuk mengunjungi kota Kudus seminggu sebelum bulan Ramadan. Di sana, Anda akan merasakan sensasi liburan yang berbeda. Selain untuk berwisata religi, jangan lupa untuk menyempatkan diri berkunjung ke dandangan

Ketika mengunjungi dandangan, Anda seperti berada di festival yang berkolaborasi dengan kearifan lokal. Dandangan akan lebih ramai di sore dan malam hari. Jadi, jangan lewatkan kesempatan ini. karena tidak setiap kota memilki tradisi unik seperti kota Kudus. Jangan lupa untuk mengajak seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak. Karena dandangan adalah surga bagi anak-anak. Tapi, siapkan ilmu tawar-menawar Anda. Karena bisa jadi, harga barang yang ditawarkan lebih tinggi dari harga pasaran.