Penikmat kopi
1 bulan lalu · 1248 view · 4 min baca · Budaya 96556_20649.jpg
IG

Salmafina Kini Menemukan Kedamaian

Pada masa kampanye pileg 2019, seorang teman yang mencalonkan diri dalam kontestasi itu menyediakan mobil pindahan bagi masyarakat. Rutenya sekitar dapilnya. 

Melalui mobil gratis itu, setidaknya masyarakat dapat menghemat biaya yang harus dikeluarkan. Bagi teman saya, itu kesempatan untuk mengenalkan dirinya sekaligus penyampaian visi dan misi pada konstituen.

Hubungan simbiosis mutualisme itu berjalan dengan baik. Setiap hari ada saja yang pindah rumah. "Tak peduli mereka akhirnya memilih atau tidak, yang terpenting sudah memberi bukti bukan janji," begitu katanya.

Memiliki rumah permanen memang impian setiap orang. Namun tidak semua orang mampu memiliki rumah permanen di Jakarta. Apalagi para perantau dengan gaji pas-pasan.

Sewa rumah maupun kamar menjadi alternatif jika ingin hidup di Jakarta. Ada pula yang menumpang pada sanak saudara maupun teman sekampung. Selama belum punya kemampuan keuangan, hal-hal di atas harus dilakukan, menjadi pilihan sementara.

Keputusan Salmafina berpindah agama tak jauh beda dengan ilustrasi di atas. Barangkali ia ingin mendapatkan tempat yang baru, tempat yang lebih nyaman. Itu artinya tidak tertutup kemungkinan akan berpindah lagi. Toh perjalanan spiritual setiap orang pastilah berbeda-beda.

Pernahkah Anda telanjang ketika mandi di kamar mandi? Ketika sedang asik mandi telanjang tiba-tiba ada perasaan malu karena serasa ada yang mengintip. Perasaan malu itulah yang dirasakan Salmafina ketika ia masih beragama Islam. Seolah ada yang mengintip setiap gerak-geriknya, ia merasa tak nyaman.


Kehilangan kebebasan bertelanjang itulah yang menurut saya melatarbelakangi perpindahan keyakinannya. Salmafina merasa tidak bebas mengekspresikan hasratnya.

Naluri alamiah Salmafina mendorong untuk membuat keputusan yang sulit. Keputusan yang dibenci dan dipuji. Masing-masing mengajukan dalil, argumen, hingga bentuk cacian yang gak penting. 

Tentu saja cacian itu gak penting karena tidak akan mengubah pilihan Salmafina. Sebuah cara yang tidak diakui semua agama bahkan oleh kaum religius moderat (ateis). Karena soal agama menjadi sila pertama dari Pancasila, pindah agama tentu lebih heboh daripada pindah rumah.

Meski demikian esensinya mirip, 'rumah' baru pilihan Salmafina dalam imajinasinya bakal membuatnya nyaman. Meski dalam pandangan saya, Anda, maupun mereka, 'rumah' baru itu tak sebesar sebelumnya, namun bagi Salmafina lebih luas.

Di rumah barunya, Salmafina kemungkinan lebih bisa berkreasi. Memaksimalkan potensinya yang sebelumnya dihalangi pemahaman orang lain. Sebuah pemahaman yang harus diikutinya meski pemahaman tekstual setiap orang pada dasarnya berbeda.

Cara meluruskan yang terlalu keras bukanlah dengan mengurangi kebengkokan, namun yang terjadi malah patah. Pengembaraan Salmafina mengantarnya pada pilihan yang dianggapnya terbaik. Tentu saja kita hargai pilihannya itu sembari bertanya pada diri sendiri, sudah benarkah rumah yang didiami sekarang?

Makin sering kita bertanya pada diri sendiri maupun orang lain untuk menemukan kebenaran, makin besar peluang menemukan kebenaran. Kita perlu mengevaluasi apa-apa yang selama ini kita anggap benar. 

Kita sebaiknya belajar bagaimana menyampaikan yang benar dengan cara yang benar pula. Jangan sampai kebenaran menjadi tak bernilai karena cara yang digunakan salah. Pada titik itu kita butuh seni penyampaian agar kepuasan diraih penyampai dan pendengar.

Sekarang, mari kita ngopi dengan Salmafina. Kita tanyakan mengapa ia berpindah keyakinan. Apakah keyakinan yang sebelumnya salah atau orang yang menyampaikan yang salah cara. Saya cenderung memilih opsi kedua, hal itu terkait dengan pemahaman orang dalam memahami teks agama. 

Polarisasi keyakinan bukan hanya terjadi antaragama, namun di internal agama pun terjadi. Polarisasi terjadi setelah teks agama dipahami berbeda oleh setiap manusia. Bukan hanya di Islam, di agama lain pun terjadi.


Katolik dan protestan maupun sunni dan syiah merupakan contoh pemahaman teks yang berbeda. Bahkan di internal sunni dan syiah, polarisasi terjadi lagi. Barangkali yang pernah berinteraksi dengan sejarah Islam bakal paham bagaimana teks agama menjadi sebab konflik karena manusia berbeda memahami teks tersebut.

Bagi saya dan barangkali Anda, perpindahan Salmafina bukanlah hal yang harus dianggap luar biasa. Salmafina hanya satu dari sekian banyak orang yang berpindah keyakinan. Jihad pemikiran dilakukan Salmafina setelah ia berinteraksi dengan agama barunya. 

Meski faktor eksternal tak bisa dimungkiri memiliki pengaruh. Barangkali Salmafina menolak pendapat itu, namun tetap saja faktor eksternal punya pengaruh. Misalkan seseorang yang baru belajar Islam langsung berinteraksi dengan kelompok Wahabi. Kita bisa bayangkan bagaimana orang itu menilai tentang Islam nantinya.

Saya tidak tahu pasti dengan pemahaman Islam bagaimana Salmafina sebelumnya berinteraksi. Menurut saya, Salmafina berinteraksi dengan Islam yang jumud dalam pemikiran, kita tidak menyalahkan pemikiran itu. Setidaknya kita sudah dapati output dari pemikiran itu.

Bisa jadi pendapat saya salah, bisa jadi Salmafina memang tak sepaham dengan pemahaman mereka. Salmafina tak sendiri, masih ingat dengan orang-orang Khawarij yang ingin membunuh Ali, Mu'awiyah, dan Amru bin Ash? 

Pemahaman teks yang berbeda yang melatarbelakangi rencana jahat mereka. Dari 3 orang target mereka, hanya Ali yang berhasil mereka bunuh. Di Indonesia, meski belum bunuh-bunuhan, namun gejala konflik karena pemahaman teks agama yang berbeda kian terasa. 

Pengusiran para pendakwah makin sering terjadi. Salmafina barangkali tidak diusir, namun ia bisa jadi merasa terusir. Ketika saya ngopi bersamanya, saya tidak akan memaksa pemahaman teks Islam saya kepadanya. Ia pun tak akan mampu memaksa pemahamannya kepada saya. 

Karena kami sama-sama paham bahwa pemahaman kami berbeda. Melalui ngopi, kami merayakan perbedaan pemahaman.  

Salmafina menemukan kedamaian dan kenyamanan dalam pengembaraan keyakinan barunya. Ikhlaskan saja ia mengembara dan berdialektika dengan pemahamannya.

Artikel Terkait