Jurnalis
1 bulan lalu · 972 view · 6 min baca · Media 81042_72587.jpg
Photo: Getty Images

Salmafina dan Media Pencatat Dosa

Sebetulnya saya bukan orang yang cukup tertarik menghafal nama-nama seleb. Maklum, jangankan nama seleb, nama-nama mantan pacar saja tidak selalu berhasil saya ingat dengan lengkap. 

Jangan pusingkan pembuka artikel yang berbau "maksa" menyisipkan kenangan atas mantan itu. Namun, memang, nama Salmafina Sunan menjadi salah satu nama seleb yang berhasil bercokol di pikiran saya.

Saya pikir, itu juga terjadi pada diri Anda yang "tersesat" di dunia maya, dan artikel ini nongol di depan Anda. 

Bisa jadi nama Salmafina sekarang sedang bertahan cukup kuat di pikiran Anda, melebihi nama pacar atau istri Anda. Jika saya keliru, ya sudah, ikhlaskan saja. Anda dapat pahala, dan Anda bisa terlihat makin saleh. Percaya saya, deh!

Sebab konon orang-orang ikhlas adalah orang-orang yang punya potensi meraup pahala dibandingkan orang yang sulit untuk ikhlas. Sebab saat pikiran mereka yang ikhlas tetap tenang, berdada lapang, sebaliknya justru terjadi pada mereka yang sulit untuk ikhlas.

Mereka yang sulit ikhlas, maka pikiran mereka terusik, dada mereka akan merasa sesak, dan tidur pun tidak akan nyenyak.

Sudah tercium, ya, kemampuan saya mengisi kuliah tujuh menit alias kultum bakda salat apa saja? 

Jadi bisa, tidak, kita membawa cerita hingga retorika seputar keikhlasan itu ke dalam konteks Salmafina? 


Berat! Sangat berat. 

Buktinya, jangankan ayah dan ibu seleb tersebut, pemilik kuota terbatas di media sosial pun sangat sulit untuk ikhlas. Keputusan Salmafina untuk berpindah agama direspons dengan hawa penuh ketidakikhlasan. 

Kontras dengan kedatangan Deddy Corbuzier, yang memilih menanggalkan kepercayaan lamanya, dan memilih agama baru yang justru ditinggalkan putri pengacara kondang tadi.

Bukan cuma mereka yang sekadar gandrung dengan media sosial, namun mereka yang bekerja di media arus utama pun turut latah. Bahkan ada beberapa media menayangkan reportase tentang Salmafina yang keluar dari gereja, setelah misa baru-baru ini.

Tidak cukup dengan itu, judul-judul berita pun dibuat sarat sensasi. Dari menggunakan kata "terciduk" hingga menggambarkan sosok baru di barisan Kristiani "lari terbirit-birit" lantaran bertemu kalangan media. 

Tanpa perasaan berdosa, para insan pers itu mengunggah berita dengan hawa semacam itu. Sebab, tampaknya, mereka pun hanya meyakini bahwa yang berdosa hanyalah mereka yang berpindah agama saja. Sedangkan yang bertahan di satu agama, meskipun mereka belum membawa manfaat apa-apa untuk manusia, tak perlu dipusingkan urusan dosa. 

Mereka lebih memilih memusingkan dosa orang lain daripada dosa sendiri. Dan, kegandrungan ini pun, belakangan, memang hinggap sampai ke kepala orang-orang yang membesarkan dan memuliakan diri dengan gelas sebagai insan pers. 

Jadi teringat pengalaman saya pribadi ketika jadi sasaran perundungan sekelompok orang karena keputusan saya mengecam satu figur publik yang—sialnya—telanjur dianggap ulama besar. Saat itu, salah satu yang turut membesarkan "dosa" saya adalah orang yang saya tahu pasti lebih pengalaman dalam urusan zina, minuman keras, hingga makan babi.

Saat itu, senior dalam urusan zina, miras, dan makan babi ini seketika merasa lebih suci daripada orang yang mengkritik seorang "ulama". Walaupun agama "memvonis" kebiasaan-kebiasaan itu sebagai dosa-dosa besar, sikap yang ditampilkannya justru menunjukkan bahwa sayalah yang menjadi pemilik dosa besar. 

Ia merasa suci karena dosa orang lain. Tampaknya ini juga yang membuat sebagian pekerja media, insan pers, tak mau ketinggalan. Kapan lagi bisa membuat diri sendiri terlihat bak nabi tanpa dosa, kecuali ketika mampu menemukan dosa orang lain, dan mengangkatnya habis-habisan?

Pemandangan mirip tampaknya juga dialami Salmafina. Seketika ia diposisikan oleh banyak orang sebagai manusia pemilik segala dosa. Di luarnya, seolah bersih tanpa dosa. 

Kalangan pers yang semestinya peka mana urusan publik dan mana urusan privasi terlihat tak terlalu menggubris soal itu. Bagi mereka, ada pemandangan yang punya nilai berita, saling berkabar lewat WhatsApp Group, dan sebarisan insan pers menjadikan Salmafina bak buruan.


Dari sisi pers dan fenomena yang melingkarinya ini mengingatkan saya pada satu "cubitan" Sirikit Syah dalam salah satu artikel penggawa pers nasional tersebut. Bahwa ketika suatu media sudah dalam genggaman para kapitalis, jangan terlalu berharap pada berita yang informatif sekaligus edukatif.

Ya, kalangan media cenderung memberhalakan keterbacaan, view, dan bagaimana membuat reportasenya terbaca oleh banyak orang. Urusan pantas atau tidak pantas, dan bagaimana dampak terhadap sosok yang diangkat dalam reportase mereka, seakan bukanlah suatu beban. Jadilah mereka bekerja, memburu berita, hingga memberitakannya, sepenuhnya tanpa perasaan terbeban. 

Terpikir, tampaknya kenapa para pengguna media sosial acap ribut, bertikai, pun tidak lepas dari "jasa" kalangan media yang gemar pada hal-hal berisikan sensasi. Sebab mereka paham, sekadar bisa membuat judul yang mampu memantik perhatian banyak orang, maka itu sudah dirasakan sebagai sebuah prestasi.

Sejauh mana sebuah pemberitaan bermanfaat, membawa kebaikan, bukanlah hal yang perlu dipusingkan. 

Ada, memang, pandangan dari "nabi"-nya kalangan pers, Arthur Hays Sulzberger. Ia pernah berujar bagaimana para jurnalis bekerja: We journalists tell the public which way the cat is jumping. The public will take care of the cat.

Namun, wasiat dedengkotnya The New York Times tersebut, bagi saya, tidak berarti membenarkan segalanya. Tidak lantas semuanya betul-betul diserahkan kepada pembaca. Sebab Sulzberger berbicara dari sebuah keadaan masyarakat yang sudah memiliki kualitas dan daya kritis jauh lebih baik.

New York bukanlah Tanah Abang, Pasar Senen, Terminal Blok M, atau Saritem dan Sarkem! Bukan, bukan maksud saya melebih-lebihkan kota besar di "Negeri Paman Sam" itu. Namun untuk menegaskan bahwa ada kondisi yang memang benar-benar tak bisa disamakan.

Sebab ini adalah cerita antara masyarakat yang sudah akrab dengan literasi berkualitas dengan masyarakat yang, maaf, kemampuan membaca dan memahami bacaan saja masih asal-asalan. 

Bahwa Sulzberger sendiri mati menjelang era 1970-an, namun di tahun-tahun itu, Amerika Serikat (AS) memang sudah memiliki status sebagai masyarakat yang sudah diakui dunia. Kualitas masyarakat yang jadi kata kunci. Ketika satu masyarakat sudah memiliki kualitas jelas, maka, di hadapan berita-berita sampah, mereka sudah paham sendiri ke mana setiap sampah mesti ditempatkan. 

Di sini, di negara kita sendiri, meskipun sudah lima dekade lebih sejak kematian Sulzberger, namun kualitas literasi bahkan belum bisa dikatakan setara dengan "Negeri Paman Sam" era 1970-an. 

Nah, di tengah situasi dan realitas ini, lantas kalangan media tetap bersikap layaknya kucing yang bisa melompat ke mana saja, saya kira, belum tepat. Sebab, sebagai manusia "dunia ketiga", bagaimana saling menopang untuk bisa mendapatkan bacaan-bacaan baik, karena akan bersentuhan langsung dengan pikiran pembaca, masih sangat dibutuhkan. 

Jika insan pers sudah semena-mena kepada pembaca yang belum punya kualitas literasi yang baik, maka apa bedanya mereka dengan penjajah yang menindas? Sebab kesemena-menaan dalam pemberitaan pun bisa dikatakan sebagai penindasan terhadap pikiran. Merasa bahwa pikiran pembaca mereka lebih lemah, lantas mereka manfaatkan untuk menjejali dengan berita-berita sampah, sama saja dengan membunuh mereka yang lemah.


Dalam kasus Salmafina, tidak sepantasnya kalangan pers menjadikan isu tentangnya dan keyakinan barunya sebagai bahan berita yang dinarasikan bak cerita kriminal. Tidak semestinya orang ke gereja diposisikan ibarat penjahat. 

Benar, berita-berita sensasional itu menarik perhatian orang. Sekilas, mirip pelajaran lama dalam dunia pers; anjing menggigit orang bukan berita, tetapi orang menggigit anjing adalah berita. 

Namun, sekali lagi, di hadapan kebutuhan menghidupkan budaya literasi yang baik, semestinya ada sudut pandang yang lebih memanusiakan manusia. Ada persepektif-perspektif yang lebih membantu membuka pikiran. Bukan yang membuat makin banyak pikiran terpenjara oleh keinginan membenci, melempar sumpah serapah, dan menebar hawa negatif ke mana-mana. 

Terlebih ketika berurusan dengan persoalan keyakinan. Semestinya kalangan pers pun memiliki kepekaan membaca kembali betapa banyak kezaliman yang lahir karena narasi-narasi bermuatan kebencian. Bukan lagi kezaliman vertikal antara penguasa dengan rakyat, tetapi justru antara rakyat dengan rakyat.

Kita ingat, sampai saat ini, kalangan Kristiani bahkan belum leluasa untuk bisa membangun gereja. Mereka belum bisa beribadah sesukanya sebagaimana umat Islam yang di hampir setiap meter dengan mudah menemukan masjid untuk salat. 

Kita juga belum lupa bagaimana kalangan Ahmadiyah hingga dengan Syiah pernah dan masih menjadi sasaran kebencian sekelompok orang yang merasa diri sebagai "wakil Tuhan" hingga menghukum mereka suka-suka. 

Nah, kapan lagi bisa berharap pemandangan diskriminatif itu dapat dikurangi dan dihilangkan jika insan pers yang konon sebagai "dewa" di tiang keempat demokrasi tak merasa bertanggung jawab terkait itu? Sementara demokrasi itu sendiri juga memuat sisi demos (rakyat). Di sana adalah manusia. Dan, manusialah yang semestinya dijaga, dan kemanusiaan tidak terbiarkan sirna.

Sudah. Jangan larutkan diri dalam "dosa" Salmafina. Sebab Yang Mahatahu punya skenario yang takkan pernah kita tahu. Kita yang bergelut di dunia media, saya kira, akan lebih baik menyibukkan dengan dosa-dosa sendiri, terutama dosa mengkhianati demokrasi, mengkhianati demos, dan ini adalah mengkhianati kemanusiaan.

Artikel Terkait