Seiring dengan berlalunya waktu ke waktu, generasi ke generasi, dan karena sebab-sebab serta faktor-faktor yang bermacam-macam, ada karakter atau tabiat tertentu yang telah terbentuk pada sebagian besar kaum laki-laki.

Sekiranya setiap orang yang berafiliasi kepada masyarakat laki-laki, maka akan menyandang berbagai kekhususan ini. Laki-laki selalu menghargai kekuatan, kecakapan, dan kemampuan untuk bekerja dan berpretasi. Biasanya, ia selalu berusaha untuk mengerjakan pekerjaan yang bermacam-macam.

Untuk memantapkan kemampuan dan kompetensinya serta mengembangkannya, laki-laki akan memperhatikan dirinya melalui kemampuannya untuk mewujudkan sejumlah hasil dan prestasi. Dan dia akan mengukuhkan eksistensinya melalui kesuksesan dan pemberian.

Tidakkah kita melihat bagaimana masyarakat laki-laki menaruh perhatian terhadap berbagai manifestasi kekuatan?

Seperti yang terlihat melalui penampilan para tentara, polisi, dan businessman, kita dapatkan para laki-laki sangat menaruh perhatian pada berita-berita aktual, politik, olahraga, dan otomotif, dan hampir tidak pernah kita menemukan bahwa mereka akan menaruh perhatian pada cerita-cerita atau kisah-kisah imajinatif.

Kita dapatkan juga kaum laki-laki menaruh perhatian pada hal-hal yang bersifat materi jauh lebih besar daripada perhatiannya terhadap beragam perasaan serta tabiat humanisme pada manusia. 

Merealisasikan berbagai tujuan dianggap sebagai masalah vital bagi laki-laki. Karena hal ini akan membuatnya dapat merasakan kemampuan dan kekuatan. Dan, supaya dia bisa memiliki berbagai perasaan positif tentang dirinya, maka ia perlu mewujudkan berbagai tujuan ini dengan sendirinya secara mandiri dan tak rela apabila ada orang lain mewujudkan sebagai ganti darinya.

Mayoritas laki-laki akan bangga dengan kemampuan mereka menuntaskan sejumlah pekerjaan sendirian dengan mengandalkan kemampuan diri mereka sendiri. Kemandirian bagi laki-laki melambangkan berbagai potensi dirinya, kekuatannya dan kecakapannya. 

Berhubung laki-laki lebih suka memecahkan berbagai persoalan sendiri, maka ia tidak mau berbicara tentangnya kecuali apabila ia ingin meminta saran seseorang pakar tentang tabiat permasalahan yang dihadapinya. Karena alasan inilah ia memberikan pembenaran bagi dirinya yang tidak mau membicarakan berbagai permasalahan pribadinya melalui ucapannya pada dirinya. 

“Kenapa saya mesti melibatkan orang lain dalam urusan ini selama saya bisa mencari solusinya sendiri?”

Menurut penilaiannya, meminta bantuan, ketika mampu untuk mengatasi persoalan, merupakan tanda kelemahan dan ketidakmampuan. Apabila dia benar-benar butuh bantuan, biasanya dia melihat dalam permintaan itu tentu ada hikmah dan masukan.

Ketika itu, maka dia akan pergi menemani orang yang diyakininya memiliki kemampuan untuk memberikan bantuan, bukan kepada setiap orang di hadapannya. 

Dan seperti juga yang lainnya dari kaum laki-laki, orang tersebut akan menjadi tempatnya meminta pendapat untuk mengutarakan nasihat dan solusi yang ditanyakannya kepadanya. Dari karakter ini, kita mengerti kenapa tatkala dihadapkan suatu permasalahan kepada laki-laki, maka ia langsung buru-buru melontarkan pemecahannya.

Bahkan pada kondisi di mana wanita tidak memerlukan solusi tetapi hanya sekadar berbicara kepadanya tentang berbagai persoalan dan perasaan dirinya. Namun dia mengira bahwa wanita itu akan meminta nasihat atau solusi sebagaimana yang dia lakukan saat tidak mampu melakukan pekerjaan tertentu dan ia akan pergi meminta nasehat dan saran.

Maksud laki-laki ketika menyampaikan solusi dan nasihat kepada wanita adalah untuk membantunya. Maka ia merasa berharga dan berhak terhadap cintanya saat ia bisa memberikan solusi untuk permasalahannya.

Hanya saja ketika ia melihat wanita tetap gelisah sekalipun telah ia sampaikan solusi kepadanya, dia mendapatkan kesulitan besar untuk mendengarkannya, karena merasa bahwa solusi yang ditawarkannya ditolak. Selanjutnya ia merasa bertambah tidak mampu dan merasa tidak berguna.

Padahal ia tidak tahu bahwa sekadar mendengarkan istrinya dengan penuh perhatian dan simpati. Posisinya sebenarnya telah memberikan bantuan dan dukungan kepadanya.

Begitu pula ia tidak tahu bahwa sekadar membicarakan berbagai perasaan dan persoalannya tidak berarti secara mendesak wanita meminta pemecahan dan berbagai usulan.

Karakter Wanita dan Pembahasan Problem

Sedangkan wanita, ia memiliki karakter yang berbeda. Dia sangat menghargai sekali arti cinta sentimental, obrolan, kecantikan, dan berbagai hubungan kemanusiaan, yang jauh lebih besar dari pada pria. Dia sanggup menghabiskan waktu yang lama untuk menyatakan dukungan, pembicaraan, dan bantuan kepada wanita-wanita lain. 

Dia merasakan identitas pribadi dan harga dirinya melalui berbagai perasaannya serta kualitas hubungannya dengan orang lain. Dia juga merasa telah memantapkan jati dirinya melalui keikutsertaannya dan hubungannya dengan wanita-wanita lain.

Oleh karena itu, kita mendapatkan bahwa kaum wanita lebih besar perhatiannya terhadap kehidupan bersama dalam keharmonisan, kasih sayang, dan saling tolong-menolong.

Hubungan lebih penting bagi mereka daripada pekerjaan dan prestasi, seakan-akan dunia mereka hampir berbalik seratus delapan puluh derajat dengan dunia kaum laki-laki.

Wanita suka sekali mengungkapkan berbagai perasaan dan sensasinya di sebagaian besar waktunya dengan beragam cara. Sampai kepada cara mengubah pakaiannya dengan mode yang sesuai dengan perasaannya.

Dia banyak perhatian terhadap berbagai kebutuhan orang lain. Berbincang dan berbicara bersama mereka tentang perasaan dan sensasinya dan dia merasakan kebahagiaan yang sangat besar sekali melalui persinggungannya dengan wanita yang lain.

Sementara pria cenderung untuk membiarkan berbagai urusan sebagaimana adanya asalkan terus berjalan pada jalan yang bisa diterima.

Tidak perlu untuk meningkatkan perbaikan dan pengembangan. Biasanya ia tidak suka untuk memperbaiki suatu urusan kecuali kalau sudah tidak berfungsi lagi atau rusak total.

Pada saat wanita ingin melakukan perbaikan terhadap pria, maka pria tersebut merasa bahwa wanita itu hendak mengatur dirinya karena telah gagal atau tidak becus. Padahal wanita tersebut tidak sadar bahwa usahanya untuk memberikan bantuan itu telah membuat pria merasakan penghinaan dan pelecehan.

Bahkan ia tidak merasa kecuali bahwa dia telah mempersembahkan bantuan dan pertolongan.