2 bulan lalu · 24 view · 3 menit baca · Budaya 92555_59286.jpg
Pixabay

Saling Berbagi Itu Membahagiakan

“The exposition of the ethical signification of transendence and of the Infinite beyond being can be worked out beginning with the proximity of the neighbor and my responsibility for the other.” ~ Emmanuel Levinas

Pada tahun 2015, Wahid Institute membuat laporan mengenai dinamika kebebasan beragama di Indonesia.[1] Dari laporan tersebut, tercatat bahwa ada 147 laporan masuk yang tidak hanya berisi tindak-tindak pelanggaran, tetapi juga peristiwa-peristiwa positif yang patut diapresiasi. 

Dari 147 laporan, sebesar 42,8% (63 laporan) dikategorikan sebagai praktik baik, sedangkan 57,2% (84 laporan) dikategorikan sebagai praktik pelanggaran. 

Dari laporan tersebut, tentu ada banyak hal menarik yang dapat diambil. Saya hanya akan mengambil salah satu saja. 

Apa yang menarik bagi saya untuk ditelaah lebih lanjut adalah bahwa jumlah praktik baik cukup signifikan terjadi. Hal ini berarti bahwa praktik baik terkait kebebasan beragama perlu disyukuri. Masih ada harapan bahwa kebebasan beragama terus dapat ditumbuhkan. 


Dari seluruh praktik positif yang ada dalam laporan, ada satu peristiwa yang memikat hati saya. Peristiwa yang saya maksud adalah peristiwa umat Muslim Malang yang melakukan salat Ied di halaman Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus.[2] Menarik, bukan? 

Pelajaran-pelajaran kehidupan apa yang kiranya bisa diambil dari peristiwa tersebut? Bagi saya, setidaknya ada tiga simpulan makna yang dapat ditarik dari peristiwa tersebut, simpulan-simpulan yang sungguh dapat menjadi harta berharga, terutama bagi hidup umat beragama di Indonesia.

Pertama, saya menilai bahwa peristiwa tersebut tergolong peristiwa sederhana. Akan tetapi, dampaknya begitu luar biasa. 

Peristiwa ini dapat menjadi contoh baik di mana tindakan sederhana dengan cara berbagi tempat kepada yang beragama lain untuk memperlancar proses ibadahnya dapat menjadi bukti bahwa perbedaan justru membuat kehidupan bersama menjadi indah. Tidak ada sekat-sekat yang membuat orang merasa tidak nyaman untuk hidup bersama dalam perbedaan. 

Tidak hanya di Malang, di kota lain, termasuk Kota Jakarta sebagai kota metropolitan, hal serupa juga dapat terjadi.

Kompas daring tanggal 24 Desember 2018 memberitakan bahwa umat Katolik yang merayakan Natal di Katedral Jakarta dapat menggunakan lahan parkir Masjid Istiqlal untuk memarkirkan kendaraannya. Tidak hanya itu, pengurus masjid bahkan mempersilakan juga untuk menggunakan fasilitas kamar mandi. Betapa indah, bukan? 


Menurut saya, preseden-preseden positif demikianlah yang seharusnya terus-menerus ditumbuh-kembangkan serta dibagikan. Dengan demikian, alih-alih merasa takut, masyarakat justru makin disadarkan bahwa ada perjumpaan positif yang terjadi. Preseden-preseden positif inilah yang mampu menjadi kekuatan untuk mematahkan prasangka-prasangka tidak penting yang perlahan tumbuh merambat dalam hati masyarakat.

Kedua, peristiwa ini tentu lebih dari sekadar toleransi. Dalam titik tertentu, menurut saya, toleransi ada dalam arti: menyadari ada pihak “yang lain” dari saya dan memberikan kebebasan kepadanya untuk berkembang. 

Hal ini tentu tidak buruk. Akan tetapi, ada yang kurang. Apabila tidak hati-hati, sikap “menoleransi” berhenti hanya pada sikap “yang penting saya tidak terganggu”. Sikap ini mencerminkan sebuah sikap self-centered yang tinggi. 

Peristiwa berbagi tempat demi lancarnya proses ibadah mereka yang beragama lain menjadi cerminan sikap mau keluar dari diri sendiri untuk berbagi. Hal ini bukan tanpa kesulitan. Sebab untuk dapat keluar dari diri sendiri, dibutuhkan keberanian dengan keterbukaan pikiran dan sikap.

Ketiga, dampak dari sikap saling berbagi ini adalah kebahagiaan. Memang, rasanya tidak mudah untuk mengukur kuantitas kebahagiaan yang dirasakan oleh seseorang. Namun, bukankah kebahagiaan itu dapat dilacak jejaknya dari dampak sesudahnya? 

Dari dua contoh yang saya sebutkan, kebahagiaan dapat tampak dari suasana melihat lancar dan amannya proses ibadah saudari dan saudara yang beragama lain. Lebih dari itu, kebahagiaan tentu juga didapat ketika sadar diri bahwa aku tidak lagi terkungkung dalam diriku sendiri, melainkan telah mau berbagi kepada “yang lain”. 


Fenomena pluralitas adalah sesuatu yang tidak dapat terhindarkan dalam konteks Indonesia. Belajar dari peristiwa-peristiwa sederhana yang saya bagikan, saya menyimpulkan bahwa salah satu kunci untuk membuat kita lebih bahagia sebagai masyarakat yang plural adalah kerelaan hati untuk berbagi dengan mereka “yang lain”. 

Sikap ini tidak lagi membuat kita sibuk dengan diri sendiri, melainkan mau terbuka kepada “yang lain”. Semoga kita makin setia menumbuhkan lebih banyak praktik positif yang nyata, terutama terkait dengan sikap berbagi.

Daftar Pustaka

Levinas, Emmanuel. “God and Philosophy.” Dalam Levinas, Emmanuel. Basic Philosophical Writings. eds Adriaan T. Peperzak, Simon Critchley, dan Robert Bernasconi. Bloomington dan Indianapolis: Indiana University Press, 1996.

Wahid Institute. “Laporan Sementara Dinamika Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) di Indonesia Tahun 2015.” Diakses dari http://www.wahidinstitute.org/wi-id/images/upload/dokumen/laporan_sementara_kbb2015.pdf, tanggal 9/2/2019 pukul 15.20 WIB.

[1] Lih. http://www.wahidinstitute.org/wi-id/images/upload/dokumen/laporan_sementara_kbb2015.pdf, diakses pada tanggal 9 Februari 2019, pukul 15.20 WIB.

[2] Lih. juga https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/07/150717_indonesia_salat_ied, diakses pada tanggal 9 Februari 2019, pukul 16.00 WIB.

Artikel Terkait