Sedikit berbagi cerita kehidupan di sekitar saya dan lingkungan virtual yang saya cermati melalui komunikasi di dunia maya. Tentunya, di tengah pandemi COVID-19 inilah kita perlu punya semangat untuk saling bantu dan saling jaga. Terlebih varian delta konon katanya dengan cepat menyebar.

Cerita ini dimulai dari memori waktu Iduladha hingga beberapa waktu ke belakang. Sebagaimana kita ketahui bahwa Iduladha tahun2021 ini kembali masih dalam situasi pandemi dan penerapan PPKM Darurat saat itu.

Imbauan untuk ibadah salat Iduladha di rumah pun kembali digaungkan sama seperti Idulfitri dan tahun sebelumnya. Kesempatan berangkat haji pun terpaksa diurungkan. Pemerintah menyarankan ibadah Iduladha ini menjadi ajang berlindung diri di rumah dari marabahaya COVID-19.

Namun, anjuran tak serta merta dituruti atau ditaati, masih terdapat sejumlah warga melaksanakan salat berjamaah dengan berupaya mematuhi protokol kesehatan ketat. Salah satunya, masjid di tempat saya tinggal masih menggelar salat berjamaah.

Persyaratan untuk warga yang akan ikut salat pun cukup ketat dan tentunya dikembalikan ke kesadaran serta kedisiplinan warga. Bagi warga yang dalam kondisi kurang sehat, bahkan jikalau pun dia sehat namun terdapat keluarga satu rumahnya ada yang sakit, maka diharapkan untuk ibadah di rumah.

Kemudian, membawa perangkat salat masing-masing dan langsung pulang atau tidak berkerumun pasca ibadah telah usai.Selesai salat iduladha, kegiatan penyembelihan hewan kurban hanya diikuti oleh panitia dan sukarelawan warga yang telah didata sebelumnya.

Swab antigen mandiri pun telah dilakukan oleh relawan warga yang telah memiliki bekal untuk melakukan swab.Kesiapan itu tidak datang dengan sendirinya, sejumlah warga yang bergabung dalam Relawan Peduli Warga.

Berkat dukungan dan donasi warga tim relawan tersebut telah memiliki 1 unit tabung oksigen, trolley, regulator dan flow meter, nebulizer, nassal dewasa dan anak/bayi, oximeter, hazmat, dan alat swab antigen.

Keberadaan sejumlah peralatan dan perangkat di atas terbentuk karena sebagian besar warga menyadari bahwa kebutuhan pokok manusia di era pandemi. Selain kebutuhan papan, sandang, pangan, terdapat dua tambahan kebutuhan yaitu edukasi dan kesehatan.

Upaya menjaga kesehatan seluruh warga perumahan inilah membangkitkan munculnya Relawan Peduli Warga. Kepedulian akan cepatnya penyebaran pandemi dan sejumlah kasus positif yang sempat dialami warga menyadarkan perlunya perkakas tadi, tak lagi sekedar adanya alat P3K.

Lalu, dari sisi edukasi, maka Relawan Peduli Warga tersebut tak henti-henti dan tak bosan juga untuk mengingatkan warga agar senantiasa menggunakan masker. Membagikan informasi terkini mengenai kegiatan vaksinasi massal yang digelar oleh berbagai dinas pemerintah daerah, hingga melawan sejumlah hoaks yang muncul di grup komunikasi warga.

Tentunya, kesukarelaan mereka yang tergabung dalam Relawan Peduli Warga patut diacungi jempol karena di tengah kesibukannya bekerja dan berkeluarga, masih menyempatkan waktunya untuk warga.

Bahkan, mereka layaknya supporting system bagi warga yang menjalankan isolasi mandiri maupun karantina, dan diperkuat dukungan tetangga satu rukun tetangga dari warga yang menjalankan isolasi mandiri atau karantina.

Nah, keberadaan tim relawan ini mengingatkan saya saat bertemu salah satu Kepala Seksi Ekonomi Pembangunan (Ekbang), di salah satu Kecamatan di Kabupaten Serang. Pesan dan cerita tentang kepedulian dan kesadaran warga serupa juga diutarakan oleh Beliau.

Kolaborasi warga dan pemerintah daerah itu penting untuk bangun kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat, terutama edukasi pandemi dan menjaga kesehatan warga.

"Jadi gini mas, kebutuhan pokok manusia itu tidak lagi hanya ada 3, pangan, sandang, papan. Tapi, ada 2 lagi kebutuhan pokok kita yaitu edukasi dan kesehatan", tambah Kepala Seksi.

Kepala Seksi Ekbang pun menjabarkan bahwa sejumlah wilayah telah menginisiasi konsep saling bantu antar warga.Kegiatan saling bantu itu pun ternyata mendapat dukungan kuat dari Pemerintah Daerah setempat.

"Peran pemerintah daerah dapat berupa memberikan materi edukasi pandemi dan dukungan perangkat pemenuhan kesehatan warga, misalnya masker, vitamin, hand sanitizer, dan sebagainya", ujar Kepala Seksi

"Satu lagi yaitu mengajarkan warga hidup sehat dan bersih melalui contoh nyata seperti kegiatan jumat bersih", tambah Kepala Seksi.

Cerita dan semangat serupa juga disampaikan oleh saudara-saudara kami yang tinggal di wilayah perkampungan di Jawa Tengah dan D.I.Yogyakarta.

Saling bantu antar warga telah bangkit semenjak tahun 2020, kini pun masih terus berlangsung dan semakin meningkat. Terutama, tatkala COVID-19 ini menyerang ke lingkaran terdekat.

Status WhatsApp (WA) dan berbagai grup WA dengan cepat merilis kabar kebutuhan terkait donor darah plasma konvalesen (donor darah dari penyintas COVID-19) dan juga lokasi pengisian oksigen.

Bahkan, beberapa kawan alumni SMA pun mulai menggerakkan donasi untuk saling bantu bagi kawan-kawan yang melakukan isolasi mandiri. Berbagai upaya saling bantu dan gotong royong tersebut semoga senantiasa terjaga.

Apreasi terdalam saya untuk para Relawan Peduli Warga maupun gerakan serupa seperti Warga Bantu Warga, dan upaya donasi atau bentuk guyub rukun lainnya.

Merekalah gerbong penguat dan pengingat bagi Pemerintah dalam menjaga teredukasinya warga dan berjalannya kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Mulai dari unit terkecil, rukun warga, tetangga, hingga keluarga dan kesadaran diri kita sendiri.

Demikian cerita singkat situasi yang terjadi di sekitar saya, saya yakin tiap kita punya cerita yang serupa dan semoga tetap dapat jadi penguat kita hadapi pandemi COVID-19.