Akibat sebuah protokoler sambutan pada acara-acara tertentu, salampun dianggap bermasalah. Tersebutlah larangan mencampuradukkan redaksi-redaksi salam lintas agama dalam sebuah pembukaan acara-acara formal ataupun nonformal.  

Lebih tepatnya, fatwa tersebut adalah larangan untuk mengoplos berbagai salam pembuka dalam sebuah komunikasi interpersonal dan transaksional dalam sebuah forum yang mempunyai nilai heterogenitas pemirsa yang tinggi. 

Menurutku, pelarangan tersebut merupakan tindakan yang tak tepat dan cenderung kurang waras.

Sebuah kesia-siaan saja ketika mempermasalah atau membuat pelarangan terhadap penyebutan berbagai macam salam pembuka dalam satu acara.

Hal itu menunjukkan kurang menyadari arti penting sebuah sirkumferensi dan ambience sebuah ruang publik heterogen. 

Namanya juga ruang publik dengan massa heterogen dari sebuah lingkungan yang mengakomodasi perbedaan, tentunya salam juga akan ditempatkan secara tepat dan wajar pada tataran nilai toleransi yang tinggi.

Sejarah salam sudah tua umurnya. Salam juga lahir dari heterogenitas pemirsa yang tinggi. Bentuknya  juga beragam, mulai dari tingkat ujaran verbal hingga tingkat gestur yang motorik.

Salam yang terlahir dari komunikasi interpersonal ataupun transaksional, dapat diartikan sebagai salah satu bentuk komunikasi antarpribadi yang mempunyai transaksi-transaksi.

Artinya, ada yang dipertukarkan, atau ada timbal-balik. Termasuk pula adanya pertukaran ide dan gagasan.

Salam sejatinya adalah doa-doa dan harapan yang disampaikan secara singkat sebagai cerminan prilaku bermoral dan berlandaskan rasa kemanusiaan dalam menjunjung tinggi rasa hormat antara satu dengan lainnya. 

Salam juga merupakan proses -proses pengiriman dan penerimaan pesan damai yang bersifat kooperatif.

Pengirim dan penerima sama-sama bertanggungjawab atas dampak dan efektivitas komunikasi yang telah terjadi.

Atau, dengan kata lain, telah tercipta atau terjadinya kesamaan (komunis/communis) dalam sebuah lingkup yang komunal.

Dengan menempatkan posisi salam seperti di atas, maka konteksnya dapat dipahami sebagai hubungan (relationship) antara dua orang atau lebih yang komunis (terjadi adanya kesamaan)

Pandangan hakiki seperti itu akan mendorong terciptanya keselarasan antara salam dan perilaku. Sekali lagi, salam itu bersifat komunikatif. Tidak ada satupun bentuk redaksi salam yang tidak dapat dikomunikasikan.

Semua bentuk redaksi salam mempunyai satu tujuan esensial yaitu tercapainya kesamaan makna dengan bentuk ucapan atau redaksi yang berbeda-beda.

Inilah yang kurang dipahami oleh pihak-pihak terkait. Teritama yang berurusan dengan kewenangan mengeluarkan fatwa.

Seharusnya, yang namanya “ulama” harus belajar lebih. Terutama ditingkat epistemologisnya untuk mengakomodasi keragaman yang ada. Sebab, kita tidak hidup sendirian secara egois di sini.

Menggali secara mendalam sisi filosofis tentang asal, struktur, dan tujuan salam adalah hal penting agar salam yang diucapkan di mulut tidak keluar hanya sebagai ujaran yang sia-sia belaka.

Yang namanya Istinbath atau kegiatan para pakar fikih atau hukum untuk mengungkapkan suatu dalil yang dijadikan dasar dalam menarik sebuah kesimpulan, haruslah mempertimbangkan sisi manfaat dan sasarannya. 

Dengan begitu, kesimpulan yang didaoat dalam sebuah istinbath ini, dapat menjawab persoalan atau menyelesaikan permasalahan yang ada dengan bijak dan damai.

Istinbath yang dilakukan, tentunya harus banyak mempertimbangkan kaidah ushul yang mengakomodasi adanya perbedaan. Terutama model-model istinbath maknawiyah, jika istinbath ladzfiyah-nya tak cukup tajam untuk menyelesaikan masalah. 

Sebarkan salam”, hadis ini cukup kuat untuk memberi ruang toleransi dari sebuah keberagaman redaksi salam. Lebih jauh lagi, makna salam ada pada praktiknya, yaitu membuat aman dan nyaman orang lain.

Tebaran “rahmatan lil alamin” akan semakin terasa jika memberi ruang luas pada misi hadis “sebarkan salam” kepada siapapun, terutama praktik nyatanya. 

Beragamnya redaksi salam di kalangan muslim sendiri sudah menunjukkan adanya ruang luas tentang sebuah maknawiyah-nya ketimbang ladzfiyah-nya. Atau dengan kata lain, redaksi itu secukupnya saja dan perbanyaklah makna dan praktiknya.

Aplikasi salam yang berupa usaha nyata dalam menciptakan kesejahteraan dan keselamatan hidup bagi yang diberi ucapan salam, adalah hal yang lebih penting ketimbang meruncingkan diskursus salam yang lintas agama itu. 

Tidak ada satu hadispun yang melarang pengucapan salam dalam berbagai redaksi kepada objek yang berbeda kepercayaan.  Adalah sangat efektif jika salam tersebut dimengerti sesuai dengan kepercayaannya masing-masing.

Seefektif kertika kita memberi ucapan salam terhadap orang yang akan bepergian dengan ujaran “selamat jalan”. Ataupun saat memberi salam kepada pasangan yang baru menikah dengan ujaran “selamat menempuh hidup baru.”

Islam tidak memaksa untuk menerjemakan selamat jalan dengan ujaran “bi amanillah” misalnya. Ataupun, dengan doa panjang ala redaksi hadis untuk mempelai berdua. Tidak mungkin juga menghantam semua ucapan salam dengan ujaran “asalamualaikum”.

Dengan melihat tingkat fleksibelitas ini, maka sangat boleh dan halal untuk memberikan ucapan salam dalam berbagai redaksi dan bahasa yang mudah dimengerti pemirsa.  Untuk kasus ini, sisi “habluminanas” yang menjadi prioritas utama.

Hal ini disebabkan oleh faktor efektivitas dan ketercakupan fungsi komunikasi interpersonal dan transaksional. 

Inilah yang disebut dengan salam yang komunis, di mana fungsi komunikasinya bersifat similiar, linear atau mempunyai satu kesamaan yang global, yaitu terciptanya tanggungjawab bersama sebuah komunikasi publik.

Salam yang komunis adalah salam kebersamaan yang dapat menipiskan distingsi-distingsi yang tak perlu. Salam yang komunis dapat memberikan arti lebih sebuah ketercapaian komunikasi publik.