Imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengenai pejabat publik agar menghindari pengucapan salam semua agama dalam setiap pidato sambutan pada acara resmi beredar luas di masyarakat melalui surat edaran yang telah ditandatangani oleh ketua MUI Jawa Timur, KH Abdusshomad Buchori dan Sekretaris Ummu Ainul Yaqin pada 8 November 2019.

Imbauan ini cukup membuat geger publik dan membuat beritanya berkembang hingga kini. Banyak masyarakat yang menilai bahwa imbauan MUI ini salah interpretasi dan berpotensi memicu konflik antarumat beragama, bahkan sebagian kalangan menganggap bahwa MUI Jawa Timur telah terpapar isu radikalisme sebab berani mengeluarkan fatwa yang berbeda dari MUI daerah lainnya.

Menanggapi berita tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat melalui Sekretaris Jenderal  MUI, Anwar Abbas dalam siaran pers di Jakarta menyatakan bahwa pengucapan salam yang disampaikan oleh pemeluk agama tertentu kepada semua agama hendaklah tidak dilakukan sebab hal tersebut dapat mengganggu keharmonisan dan ketentraman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Alih-alih mempermasalahkan ucapan salam beda agama, Anwar mengimbau masyarakat agar lebih fokus memajukan negeri. Namun jika memang hendak mengucapkan salam antar-sesama umat beragama, beliau menganjurkan untuk menyampaikan salam yang tidak mengandung makna teologis, tetapi ucapan salam yang bersifat netral saja, seperti selamat pagi, selamat siang, dsb.

Secara etimologi, salam berasal dari Bahasa Arab yang artinya selamat atau keselamatan. Namun dalam kehidupan sehari-hari, salam dapat dimaknai sebagai salah satu cara berkomunikasi baik itu secara ucapan maupun gerakan yang ditunjukkan sebagai suatu bentuk penghormatan kepada lawan bicara.

Penggunaannya pun tidak lagi sebatas dalam acara formal saja, melainkan sudah mengakar kuat dalam keseharian masyarakat kita walau diucapkan hanya untuk sekadar bertegur sapa saja.

Sebelum menjadi polemik, ucapan salam lintas agama pada awalnya dipopulerkan oleh Presiden Joko Widodo. Salam lintas agama itu terdiri dari ucapan salam enam agama resmi yang diakui di Indonesia, yakni Assalamu’alaikum warahmatullaah wabarakatuh yang biasa diucapkan oleh orang Islam, Salam Sejahtera Bagi Kita Semua (Kristen), Shalom (Katolik), Om Swastiastu (Hindu), Namo Buddhaya (Buddha), dan Salam Kebajikan (Konghucu).

Lalu bagaimana Islam memandang itu semua? Apakah hal tersebut masih dapat dikategorikan dalam batas toleransi yang wajar? Apakah itu tidak merusak akidah seseorang? 

Opini ini ditulis murni hanya ingin mengulas hukum pengucapan salam lintas agama jika dilihat dari kacamata akidah Islam serta bertujuan untuk meluruskan pemahaman akidah umat Islam .

Mengenai pengucapan salam lintas agama, ada tiga pernyataan yang menunjukkan redaksi dari kalimat ucapan salam lintas agama itu sendiri, yakni orang Islam yang mengucapkan kalimat Assalamualaikum kepada non-muslim, non-muslim yang mengucapkan kalimat Assalamualaikum kepada orang islam, atau orang Islam yang menggunakan ucapan salam agama lain.

Hukum mengucapkan salam lintas agama terdapat perbedaan pendapat di kalangan masyarakat. Banyak yang masih awam terhadap masalah ini. Namun jika kita melihat dari penjelasan hadits yang bersumber dari Kitab Durrotun Nasiheen (Mutiara Nasihat), jelas ada penegasan yang mengarah kepada larangan untuk tidak mengucapkan salam lintas agama.

Sabda Rasulullaah SAW dalam kitab tersebut menyatakan bahwa tidak boleh mendahului mengucapkan salam kepada yahudi dan nasrani, bahkan ketika menemui mereka dan menyapanya di jalan. Dalam Islam, mendahului pengucapan salam adalah memuliakan, sedangkan menurut hadits tersebut memuliakan orang kafir adalah hal yang tidak diperbolehkan.

Lebih jauh lagi, dalam kitab itu pula terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Daud “tidak akan masuk surga kalian semua (yahudi dan nasrani) sampai beriman dengan iman yang sempurna, dan tidak beriman hingga saling mencintai terhadap petunjuk segala sesuatu, hingga kalian mengetahui bahwa saling mencintai itu dengan memasyhurkan salam.”

Berdasarkan konteks hadits tersebut, maka mengucapkan salam lintas agama adalah hal yang tidak diperbolehkan. Mengingat makna salam dalam Islam adalah keselamatan, sedang keselamatan tidak akan bisa diraih tanpa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan iman yang sempurna.

Tentu hukum yang menurut hadits tersebut adalah hukum yang qath’i (mutlak), absolut, dan tak bisa diubah, apalagi diperdebatkan, mengingat hadits adalah sumber rujukan hukum terkuat kedua umat Islam setelah Alquran. Sudah cukup menjadi landasan bagi ummat Islam.

Karenanya, konsep mengenai ucapan salam dalam Islam sebenarnya adalah hal yang amat prinsipil dan berkaitan langsung dengan aqidah. Sama halnya dengan mengucapkan selamat kepada hari raya keagamaan agama lain, hukumnya haram karena dapat merusak tauhid rububiyah.

Namun bukan berarti Islam melarang kita untuk berinteraksi dan bertoleransi dengan non-muslim. Batasan berinteraksi dan bertoleransi terhadap non-muslim hanya sebatas urusan sosial saja, misalnya hubungan bertetangga, berbisnis, bermasyarakat, dan lain sebagainya, namun tidak dengan urusan prinsipil yang dapat merusak ketauhidan dalam diri.