Pagi ini sama cerahnya dengan hari kemarin, tetapi apa yang berbeda ternyata matahari sama sinarnya seperti yang lalu, tetapi apa yang lain, udara sama sejuknya seperti sedia kala tetapi apa yang lebih baru, ternyata ada yang lain hari ini, ketika aku mulai melihat kalender di HP aku ternyata aku tak seperti biasanya bangsaku tak seperti zaman dahulu, ternyata 20 Mei 2017 tepatnya hari ini.

 Tak bisa mata ini menutup kenyataan lagi jika hari ini adalah hari kebangkitan nasional, lagi – lagi salam kebangkitan, wahai kaum yang tak ingin jati diri dan semangat kebangsaanya dari sabang sampai meraoke hilang, mungkin pagi ini semangat juang mereka juga mulai memuncak ada yang mulai, bangkit ada yang mulai merayap, ada juga yang mulai menunduk karena tuanya bangsa ini, dan ada yang mulai membara berapi-apai semangat jiwa-jiwa muda.

Ternyata pemuda STOVIA itu tak mau luntur juga semangatnya pada generasi motor pengerak bangsa selanjunya, lanjutkan! Seru seluruh bumi pertiwi kita untuk bangkit, dan ternyata kaum imperalisme tak mampu menghapus langkah Budi Utomo dulu dan sekarang, karena aku dan banyak orang di negaraku tak mau Sang Saka Merah Putih, tak lagi berkibar di Indonesia.

 Pancasila ternyata masih mengepakkan sayapnya di bumi ku, pertiwi ku jaya, tak mudah juga kekuatan-kekuatan komunis dan liberal menyentuh keprawanan sang UUD 1945 di tanah ku, meskipun negeri masih meradang jika aku tak mau mendengar juga tidak, tapi aku ingin peduli terhadap apa jadinya anak-anak ku kelak jika bertengkar dengan rekan sejawatnya, seperti engkau Ahok dan Para Ulama.

Tak ku bayangkan juga jika hilang namanya dasar negara dan keserakahan yang akan menina bobokan urat nadi sendi-sendi kehidupan bangsa, dan seperti mimpi dan mengigau jika sampai terjadi disintegrasi bangsa, semoga juga tidak.

 Budi Utomo patut kita kenang jasanya untuk usahanya mempersatukan meskipun awalnya hanya jawa, tetapi semangat anak muda tetap berkobar, dan dapat mempersatukan seluruh bumi nusantara, dan jangan sampai juga segala elmen di masyarakat menjadi lemah fungsinya dan peranya, tapi perlu di perkuat semangatnya dengan rasa kebagaan berkebangsaan dan cinta tanah air Indonesia.

Saling menghargai toleransi beragama adalah harapan panjang bangsa ini dan jangan jadikan perpecahan bangsa karena berbeda agama, ya Ahok selamat berjuang untuk mu, dan selamat bangkit pula kaum islam jangan bertengkar karena golongan dan agama. Yang sedang bekerja yang sedang sekolah hari ini ukirlah presatasi kalian dengan gilang gemilang, jangan surut kebangsaan mu.

 Pagi kebangkitan pak Presiden Jokowi, salam kemesraan dan kebangkitan bu menteri pak menteri, salam Romantis dan kebangkitan wahai angota DPR dan MPR, semangat Kebangkitan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Harapan dan munculnya jiwa – jiwa pembaharu, jiwa-jiwa pencinta alam raya, jangan sampai jiwa-jiwa kita kehilangan tempat berpijak untuk menggais rejeki, dan untuk merebahkan tubuh kita ketika lelah dengan ujian yang berkepanjangan terhadap pertiwi. Ayo perbarui hidup dengan cerdas dan tepat guna.

 Ayo peduli dengan aku, aku adalah kemandirin dalam negeri ku, aku adalah kemaslahatan dalam bangsa ku, aku adalah keluarga besar bangsa Indonesia yang wajib kita junjung tinggi, nyanyian petang dan nyanyian esok akan selalu sama yaitu Indonesia Raya.

 Siapa pun yang berpijak ditanah ini adalah dimanusiawikan selama memanusiawikan yang lainya juga, dan menjunjung toleransi dan integritas bangsa, jangan jadikan kami cacian dan makian di mana – mana karena tidak rukun. Satu kandung ibu pertiwi jiwa satu, nusa satu, bangsa satu dan tetap Indonesia.

 Idealis kami untuk kemajuan bangsa kami tak memakan norma-norma bangsa yang luhur, tak bertentangan dengat akar bangsa yaitu dasar negara Pancasila. Tanah kami adalah tempat mengalirnya sumber penghidupan kami dan perlu di jaga dan dilestarikan jangan di eksploitasi tanpa tangung jawab dan terbengkalai karena terluka dan rusak.

 Moral kami perlu untuk di bangkitkan moral-moral luhur, bukan moral-moral yang lemah, rusak dan tergadaikan dengan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, kaum civilized society dan kaum madani layak kah untuk kami jika hari ini kami masih bertemu hari kebangkitan.

 Mungkin bangkitnya esok hari tak seperti bangkitnya sekarang lebih baik untuk tahun berikutnya lebih sejahtera untuk tahun yang akan datang, monopoli, penjajahan, disintegrasi bangsa, dan perpecahan dapat dilibas habis oleh semangat juang dan kebangkitan.

 Ini surat kami untuk Indonesia Kami agar tetap Jaya dan merdeka, karena kami saudara pemersatu, dalam jiwa kami mengalir darah Indonesia, dalam lisan kami mengucap santun berbahasa Indonesia, kami adalah sama tak peduli kami ini WNI dan keturunan, selama berada di tanah Indonesia berhak di lindungi negara Indonesia. 

Bermacam – macam warna kulit kami, bermacam – macam baju kami, dan beraneka ragam budaya kami jika masih berhembus nafas ini di Indonesia kami tetap warga negara Indonesia, dari sabang sampai meraoke, berbeda – beda tetap satu jua, itulah semangat ke Beneka Tungal Ika kami masih melekat dalam jiwa dan raga kami.

Daftar Pustaka

Satriasetiawan, (2015). Gambar Kebangkitan Budi Utomo. Diunduh 20 Mei 2017

Satriasetiawan, (2015). Peringatan 100 Tahun Hari Kebangkitan. Diunduh 20 Mei 2017