Menyusuri jalur jogging di sisi selatan lapangan Blang Padang Banda Aceh, pandangan saya tertuju ke seberang jalan Sultan Iskandar Muda di sekitar Halte Transkoetaradja Blang Padang. 

Tumpukan kemasan berisi salak yang tertata di depan warung becak menarik perhatian saya. “Asyik juga berkeliling Blang Padang seraya menikmati cemilan,” gumam saya dalam hati. Saya pun bermaksud melipir ke sana dulu sebelum menjelajahi Blang Padang lebih jauh. 

Saya dan istri baru saja melangkahkan kaki usai memarkirkan kendaraan di sebelah dalam pintu selatan. Saya mengajak istri ke seberang. Kami berbalik dan keluar lewat pintu selatan, menyisir zebra cross hingga sampai di seberang. 

Kami berjalan di depan SMPN 17 tempat penjual olahan salak menggelar lapaknya. Mereka berdagang di atas becak motor yang dirancang menyerupai warung. 

Kami singgah di sebuah warung dekat gerbang sekolah. Di depan warung ditawarkan banyak pilihan salak yang sudah dikemas. Ada yang telah dipotong kecil-kecil, ada pula buah salak yang masih utuh serta tersedia juga potongan salak tanpa biji. 

Kami menanyakan harga sebungkus. “Lima ribu rupiah saja,” sahut kakak penjual bernama Kak Ana. Sontak kami berdua saling tatap tanda terkejut. “Murah sekali,” demikian pikir kami. Kami mulai memilih ragam salak yang tersedia. 

Karena ini pembelian perdana, kami mencoba semua bentuk potongan salak. Istri saya menyerahkan empat bungkus salak kepada Kak Ana. Ia meminta kami untuk mengambil satu bungkus salak lagi. Kami kembali terkejut. Ternyata membeli 4 bungkus salak seharga 20 ribu dikasih gratis sebungkus salak lagi. 

Kami merasa malu, Kak Ana beserta suami murah hati sekali. Seakan-akan mereka telah bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Tidak jarang, dari orang-orang seperti ini kita menemukan sumber inspirasi kehidupan. 

Dari orang-orang seperti ini pula kita belajar makna saling berbagi dalam kehidupan. Mudah-mudahan mereka sehat selalu dan diberi kemudahan rezeki oleh Allah SWT. 

Salak dalam wadah bundar kecil dan plastik persegi ada yang telah ditaburi pliek u dan sunti. “Sebungkus lagi pakai sunti atau pliek? langsung dicampur atau dibungkus terpisah?”, sambung Kak Ana sembari bertanya. 

Pliek U adalah ampas hasil perahan kelapa tua yang telah diambil minyaknya sedangkan sunti berbahan belimbing wuluh kering hasil penjemuran setelah diberi garam. 

“Ini salak biasa bukan salak pondoh”, terang Kak Ana saat saya menanyakan jenis salak yang digunakan. “Salak berasal dari Sumatera Utara dan dibeli dari agen,” ucap Kak Ana. Setelah dikupas kulitnya, salak dibelah menjadi dua bagian. 

Bijinya dicopot. Potongan salak dicuci kemudian direndam dengan air garam. Hal ini bermanfaat untuk menghilangkan pestisida yang melekat serta memberi sensasi asin pada salak. Selanjutnya, salak dipotong kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam wadah plastik. 

Sunti untuk bumbu salak mereka buat sendiri. Sunti kering diulek halus lalu dicampur air berikut bumbu resep racikan Kak Ana. Di atas warung tersedia toples plastik besar berisi kuah sunti dan pliek u. 

Saban hari Kak Ana dan suami meracik sendiri salak jajanannya. Mereka berjualan dari pukul 11 hingga sore. Keduanya berasal dari Sigli, sebuah kota di sebelah tenggara Banda Aceh. 

Sehari mereka memproduksi lebih 50 bungkus. Warung-warung becak penjaja rujak salak ini ramai dikunjungi siswa dan guru usai sekolah. Selain itu, pembeli datang dari pengunjung kedai kopi di dekat sini serta orang-orang yang mampir dari jalan raya. Biasanya pembeli ramai di Sabtu dan Minggu sore. 

Selain pelancong domestik maupun mancanegara Blang Padang, pada jam-jam ini orang-orang yang berplesiran ke pantai Ulee Lheue mampir membeli asinan salak. 

Kembali ke Blang Padang, penasaran dengan salak kuah sunti kami pun langsung mencari tempat duduk dan mencobanya. Saya mencicipi kuah sunti terlebih dahulu. “Nikmat!,” pekik saya di bawah pohon trembesi rimbun. 

Ada rasa asam, manis, asin serta rasa pedas yang dominan. Kami mengaduknya dan mulai menyantap potongan salak dicocol kuah sunti. “Enak ya,” ujar istri saya. 

Dari kejauhan tampak pesawat RI-001 Seulawah bersebelahan dengan tugu Tsunami di pojok barat daya.  

Di sebelah barat tampak tembok bercat biru putih berbentuk ombak Tsunami. Itu adalah monumen Aceh thanks to the world. Kami menuju ke sana. Usai melihat-lihat, kami membuka kemasan salak berbumbu pliek u. “Sedap,” seru saya. 

Sambil ngemil, saya kembali memandang ke sekeliling Blang Padang. Di bahu jalur jogging tersusun 53 prasasti berbentuk kapal karam, tertulis ucapan terima kasih dalam bahasa negara-negara yang membantu Aceh kala musibah Tsunami. 

Lapangan Blang Padang yang luas dengan aneka monumen dan ragam aktivitas warga di dalamnya mengingatkan saya dengan suasana alun-alun kota Bandung dan Yogyakarta. Boleh jadi Blang Padang adalah alun-alunnya kota Banda Aceh. 

Setiap mengunjungi pusat kota, kami kembali membeli salak Kak Ana. Terkadang kami juga membelinya dari pedagang lain di sekitar. Masing-masing memiliki karakteristik rasa yang berbeda. Jika di tempat Kak Ana, rasa pedas mendominasi pada kuah suntinya sementara di tempat satunya terasa manis dengan rasa pedas yang tipis. Semuanya nikmat. 

Untuk bumbu pliek u terasa gurih yang khas bercampur pedas dan asin. Setelah membeli, kami mencari tempat bersantai. 

Berbagai bentuk wisata ditawarkan di sekitar Blang Padang, misalnya wisata sejarah di komplek pemakaman tentara Hindia-Belanda di Kerkhof Peucut, Taman Putroe Phang, Pinto Khop, Gunongan dan Museum Cagar Budaya di Seutui. 

Gedung Juang berikut makam Sultan Iskandar Muda serta Museum Aceh dengan Rumoh Aceh dan lonceng Cakradonya berlokasi di timur laut Meuligoe (pendopo) Gubernur Aceh. 

Wisata religi ditampilkan di Museum Tsunami. Jika ingin menikmati ruang terbuka hijau, kita bisa mengunjungi Taman Bustanussalatin di Taman Sari. Kala waktu shalat tiba kita bisa beribadah di Mesjid Raya Baiturrahman. Selalu patuhi protokol kesehatan ya. 

Tersedia busway Transkoetaradja untuk sampai ke Blang Padang. Layanan kekinian mulai menggunakan armada listrik. Jadi ayo naik Transkoetaradja untuk menghindari kemacetan dan polusi udara. Serta jangan lupa cobai rujak salak khas Aceh sambil berkeliling Kota Banda Aceh.