Sudah tidak asing lagi bukan kita mendengar kata LGBT, dimanapun kita berada kata LGBT sering di gaung-gaungkan. LGBT merupakan sebuah dampak dari globalisasi yang terjadi di dunia. Gaya hidup seorang LGBT adalah pesta dengan sesama mereka.

Padahal Tuhan sudah menciptakan kita sesempurna mungkin dan memberikan kita sebuah hak tetapi manusia tidak pernah puas terhadap apa yang mereka miliki, seakan-akan kebahagiaan pribadi dan dunia abadi dalam hidupnya.

Miris bukan jika kita bertemu atau mendengar percakapan seseorang yang mengatakan bahwa dirinya seorang Gay, Lesbian, atau dirinya Transgender. Seakan-akan dalam diri mereka tidak ditemukan jati diri atau kehilangan. Salahkah mereka?

Pasti seseorang yang dirinya LGBT mengalami masa lalu yang kelam dalam hidupnya. Di masa lalu mereka (seorang Gay dan Lesbian) mengalami trauma yang membuat mereka kapok untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis sehingga mereka memilih untuk menjalin hubungan dengan sesama jenis.

Bukan itu saja, mereka di bully, mengalami broken home di lingkungan keluarga atau tidak dituntun dalam mencari jati diri mereka sehingga memutuskan untuk menjadi seorang Transgender. Apakah anda menentang atau mendukung adanya LGBT di Indonesia?

Dalam posisi seperti ini, mungkin ada beberapa masyarakat yang mendukung dan menentangnya. Dengan alasan itu hak yang dimiliki seorang LGBT dalam memilih kehidupannya masyarakat pro otomatis membela LGBT.

Sedangkan masyarakat kontra mengatakan bahwa itu tidak sesuai dengan dasar negara kita, budaya tradisional pun menentang, dan dalam agama di larang adanya LGBT karena manusia diciptakan dengan gender masing-masing dan diberi lawan jenis jika ingin menjalin hubungan.

Menurut data dari Wikipedia, pada Februari 2016, Human Rights Watch mendesak Pemerintah Indonesia untuk membela hak-hak orang-orang LGBT dan secara terbuka mengutuk komentar-komentar pejabat yang dianggap diskriminatif. Pada 2017, dua pria gay muda (usia 20 dan 23) dijatuhi hukuman dicambuk di depan publik di provinsi Aceh.

Tidak bisa disalahkan bila seseorang memilih untuk menjadi seorang LGBT, karena mereka memiliki hak untuk memutuskan masa depan dan jati diri mereka. Dan juga akan menjadi hubungan mereka dengan Tuhan nantinya jika mereka kembali ke Sang Pencipta.

Menurut saya, seseorang memutuskan untuk menjadi seorang LGBT karena sebuah alasan. Contohnya, pasangan LGBT digrebek di Kota Padang baru-baru ini. Mereka mempunyai alasan mengapa sampai akhirnya mereka memilih untuk menjadi seorang lesbian.

DF dan NS ( pasangan LGBT ) mengatakan mereka mempunyai masa lalu yang buruk sehingga memutuskan untuk menjadi seorang Lesbian. NS mengaku trauma terhadap laki-laki, Ia sudah 3 kali menikah tetapi Ia sering di sakiti pasangannya, bahkan Ia stress karena keguguran 2 kali akibat mantan suaminya mengonsumsi narkoba.

NS mendapatkan kasih sayang dan perlakuan lembut dari DF sehingga memutuskan menjadi seorang Lesbian. Sedangkan DF mengaku bahwa Ia sering kali dianiaya mantan pacarnya sehingga Ia memutuskan menjalin hubungan dengan NS.

See, dari berita diatas dapat disimpulkan seorang LGBT memutuskan langkah tersebut dengan alasan masa lalu yang tidak mengenakan dalam hidupnya. Dianiaya, disakiti, stress atau depresi terhadap pasangan, dan masih banyak lagi.

Masyarakat seharusnya dapat memakluminya, karena keberadaan mereka tidak teralu menganggu aktivitas masyarakat dan juga keberadaan mereka dapat dikontrol. Keberadaan mereka juga dapat dijadikan media pembelajaran bagi orangtua.

Yaitu, pentingnya orangtua menuntun anak-anak dan mengajarkan agama agar prinsip mereka benar dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Orangtua juga dapat lebih intens dalam melihat perkembangan dan pertumbuhan sang anak.

Sekali lagi seseorang memutuskan untuk menjadi LGBT pasti mempunyai alasan tertentu. Dan jika mereka sudah memutuskan keinginan mereka itu urusan mereka dengan Tuhan, kita tidak perlu mengurusi dan campur tangan dalam masalah ini.

I know hal tersebut menentang nilai-nilai yang ada sejak dahulu, tapi kembali lagi mereka manusia, yang mempunyai hak dalam memutuskan jati diri mereka. Entah itu baik atau buruk jika dilihat dari kacamata masyarakat.

Data terakhir menyebutkan bahwa jumlah Gay di Indonesia mencapai 3 persen, sungguh mengejutkan bukan. Belum termasuk lesbian, biseksual, dan trangender. Data tersebut didapat dari Kemenkes pada tahun 2012.

Mungkin di tahun 2018 semakin bertambah banyak jumlahnya, tetapi masyarakat yang LGBT mempunyai lembaga sendiri dalam mengalami kasus-kasus penolakan masyarakat dan aniaya. Lembaga tersebut membantu keberedaan seorang LGBT yang tidak disukai masyarakat.

Seperti bertoleransi beragama, hendaknya kita juga menghargai hak dan kewajiban masyarakat yang LGBT dalam lingkungan kita. Mereka juga mahluk ciptaan Tuhan sama seperti kita. Toh mereka tidak mengganggu aktivitas sehari-hari kita.