“Memaksa anak belajar dua bahasa atau lebih terlalu dini tidak baik loh." Inilah pendapat yang diberikan oleh kebanyakan dokter spesialis anak kepada orangtua yang ingin mengajari anaknya lebih dari satu bahasa sedini mungkin. 

Pendapat ini tidak hanya diungkapkan oleh para dokter, tapi juga para orangtua dan bahkan pendidik. Ini dikarenakan banyaknya kekhawatiran yang kedengarannya masuk akal, namun sebetulnya para ahli bilingualisme dan pemerolehan bahasa kedua telah membuktikan bahwa pendapat tersebut hanyalah mitos.

Ada setidaknya empat mitos seputar mengajar anak dua bahasa sejak kecil yang populer di masyarakat awam. Saya akan mengupas mitos-mitos tersebut di tulisan ini berdasarkan temuan-temuan penelitian dalam bidang bilingualisme dan pemerolehan bahasa kedua.

Mitos pertama: Bilingual menjadi salah satu faktor terjadinya speech delay pada anak

Benarkah bilingual adalah faktor terjadinya speech delay? Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh dua ahli bilingualisme (Genesee and Nicoladis, 2007), speech delay bukanlah akibat dari menjadi bilingual sejak kecil. 

Mereka memang menemukan adanya delay pada anak-anak bilingual, namun delay yang dimaksud adalah delay dalam membedakan dua bunyi fonetik yang mirip dari dua bahasa yang dipelajari.

Dengan kata lain, delay dalam membedakan bunyi fonetik baru akan terjadi jika bahasa yang diajarkan memiliki bunyi-bunyi fonetik yang hampir mirip. Kecenderungan ini akan semakin menguat jika frekuensi kehadiran bunyi-bunyi fonetik yang mirip itu sangat rendah.

Namun apakah delay berarti failure atau kegagalan? Tentu tidak. Adakah penelitian yang membuktikan terjadinya speech delay pada anak? Alison Mackey, ahli pembelajaran bahasa kedua dan Kendall King, ahli bilingualism, mengatakan bahwa belum ada penelitian yang cukup kredibel yang bisa menunjukkan hal ini. 

Malah, menurut mereka, anak kecil memiliki kemampuan menakjubkan untuk belajar membedakan bunyi fonetik dan memprosesnya, karena otak dan sistem suara mereka masih cukup lentur untuk belajar bahasa.

Mitos kedua: “Akan lebih baik jika anak diajari satu bahasa saja terlebih dahulu.”

Masuk akal, tentunya. Jika kita takut anak kita menderita speech delay, kita akan menahan diri mengajari anak dua bahasa sekaligus. Namun, jika kita tidak mendapati bukti bahwa anak akan mengalami speech delay karena menjadi bilingual sedini mungkin, saran ini jadi tidak bermanfaat.

Kembali ke penelitian Genesee dan Nicoladis, memang ada perbedaan yang ditemukan dari bilingual dan monolingual (yaitu, delay dalam membedakan bunyi yang mirip dan perbedaan penguasaan kosakata). 

Namun, penelitian juga membuktikan bahwa anak-anak bilingual tetap mencapai tahapan-tahapan perkembangan bahasa yang sama dengan anak-anak monolingual dalam rentang usia yang sama.

Maka, menjadi monolingual terlebih dahulu tidak berarti menjadi lebih baik daripada bilingual.

Mitos ketiga: “Lebih baik anak diajari bahasa ibu saja terlebih dahulu. Nanti setelah bahasa itu dikuasai dengan baik, yaitu anak sudah bisa berkomunikasi dengan baik pada lawan bicaranya, baru anak diajari bahasa lain.”

Tentu tidak ada yang salah dengan mengajari anak bahasa ibu. Namun, mengajarkan bahasa kedua setelah si anak sudah dianggap menguasai bahasa ibunya, memilik dampak negatif tersendiri. Kemampuan monolingual membedakan satuan bunyi (fonem) hilang lebih cepat daripada bilingual. 

Pengaruh bahasa pertama pun akan semakin kuat jika kita menunda pembelajaran bahasa kedua. Dengan kata lain, mengajari anak bahasa kedua setelah dia menguasai bahasa pertamanya bukanlah solusi tanpa biaya.

Mitos keempat: “Kalau anak yang belum bisa bicara diperdengarkan bahasa campur-campur, dia akan kebingungan.”

Kehawatiran subyektif dari para orangtua ini, meski masuk akal, sesungguhnya tidak dapat dibuktikan. Mungkin ada asumsi bahwa masa kanak-kanak adalah masa terbaik belajar bahasa, maka jika masa ini tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya atau disalahgunakan, anak akan gagal atau setidaknya kurang maksimal dalam menggunakan bahasa apapun yang diajari.

Ini tentu tidak tepat. Baik anak monolingual maupun bilingual, sejak lahir memang akan membuat berbagai macam kesalahan dan mencampuraduk bahasa ketika dia masih berusia tiga atau empat tahun. 

Namun, bukan berarti ini akan terjadi selamanya. Kesalahan penggunaan bahasa akan berkurang seturut dengan berkembangnya kemampuan literasi dia. Dan seiring pertumbuhannya, dia akan belajar dan tahu kapan dan di mana bisa memakai masing-masing bahasa tersebut.

Secara singkat, tanggapan saya terhadap mitos ini adalah tidak ada kata 'terlalu awal' bagi seorang anak untuk belajar bahasa kedua. Belajar dua bahasa bersamaan sejak anak, masih bayi atau balita, tidak akan berujung pada kebingungan dan penundaan dalam berbicara (speech delay). 

Perkembangan bahasa seorang anak bilingual tidak berbeda dari perkembangan bahasa anak monolingual. Jadi, kapan waktu yang tepat untuk mengajar anak bahasa kedua? Sekarang, tentunya, jika Anda siap.