Kalau Anda bisa menerawang isi hati saya sekarang, Anda akan tahu bahwa saya adalah seorang muslim yang tidak memercayai keberadaan agama yang benar kecuali agama Islam. Agama yang paling diridai oleh Allah itu—dalam keyakinan saya—hanyalah Islam. 

Apa itu Islam? Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh utusan Tuhan. Dia adalah agama yang dibawa oleh Musa, Isa, Muhammad, dan nabi-nabi lainnya. Semua utusan Tuhan pada dasarnya hanya membawa agama yang satu, yaitu agama Islam. 

Tidak ada agama yang benar kecuali agama Islam itu. Karena itulah satu-satunya agama yang berasal dari Tuhan. Yahudi, Kristen, Buddha, Hindu, Konghucu, Sikh, dan agama-agama lain di luar Islam, betapapun besarnya, saya pandang sebagai agama yang sesat, menyimpang, dan tidak diridai oleh Tuhan. 

Kitab suci mereka adalah kitab suci yang batil—meskipun tidak semuanya batil. Soal kelak mereka masuk neraka atau tidak, itu bukan urusan saya. Yang jelas, dari kitab suci Alquran yang saya baca, agama yang benar itu hanyalah Islam. Di luar Islam, semuanya salah. Titik. Dan tidak ada tawar-menawar soal itu. Inilah keyakinan yang ada di dalam hati saya.

Saya sudah menduga bahwa Anda akan menilai saya sebagai kaum beragama yang berpikiran dangkal dan egois. Anda mungkin akan mengira saya sebagai seorang muslim intoleran yang tidak mampu menghargai perbedaan, muslim yang beku, yang tak mampu berpikir secara maju. 

Anda juga mungkin akan memandang bahwa cara berpikir seperti ini dapat menyuburkan intoleransi, kekerasan, dan konflik berkepanjangan dalam kehidupan beragama. Saya sendiri tidak keberatan jika Anda berpandangan seperti itu.  

Namun, perlu Anda catat baik-baik bahwa dengan keyakinan seperti itu, saya sangat bisa, dan dengan senang hati, bersahabat dengan orang-orang yang saya pandang sesat itu. Saya bisa bersahabat dengan orang Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, bahkan orang Ateis sekalipun. 

Tanpa harus mengumbar keyakinan tersebut di hadapan mereka. Selama mereka mau hidup berdamai, saya juga akan menunjukkan sikap serupa. Karena agama saya mengajarkan itu.  

Agama yang saya anut tidak memperbolehkan saya untuk membenci dan memusuhi mereka hanya karena soal perbedaan keyakinan. Penolakan keyakinan itu satu hal, membenci penganut keyakinan itu hal yang lain lagi. 

Cukuplah penolakan itu terwujud di dalam hati. Tidak perlu diikuti dengan caci maki dan rasa benci. Kalau orang Kristen natalan, saya bisa mengucapkan selamat natal. Kalau ada orang Hindu mengucapkan salam, saya juga akan mengucapkan salam.

Kalau ada orang non-muslim meminta bantuan, dan saya mampu, maka saya juga akan memberikan uluran tangan. Kalau di antara mereka ada yang mencalonkan diri untuk jadi gubernur, walikota, bupati, dan jabatan-jabatan serupa lainnya, dan mereka dipandang lebih mampu untuk itu ketimbang saudara-saudara saya yang seagama, saya pun tak akan ragu untuk mencoblos mereka. 

Tidak ada masalah dengan itu semua. Dalam konteks kehidupan sosial, kita semua bisa hidup secara damai meskipun kita tersekat oleh perbedaan keyakinan.  

Keyakinan saya akan kebatilan agama mereka tidak serta-merta menjadikan saya sebagai seorang teroris yang memandang murah nyawa orang-orang yang berbeda agama. Saya memandang orang-orang di luar agama saya itu sebagai makhluk Allah yang juga tetap harus kita muliakan sisi kemanusiaannya. 

Mereka tidak boleh disakiti, dibenci, dijauhi, dikucilkan, didiskriminasi, diintimidasi, apalagi dipenggal dan dibunuh hanya karena soal perbedaan keyakinan.

Bahwa mereka menganut agama yang saya pandang sesat, iya. Sampai hari kiamat pun, saya akan teguh meyakini itu. 

Tapi apakah keyakinan seperti itu dengan serta-merta harus mendorong saya untuk bermusuhan dengan mereka? Sama sekali tidak. Dan apakah saya juga harus terang-terangan menyesatkan agama mereka di hadapan muka? Juga tidak. 

Agama yang saya peluk juga tidak mengajarkan itu. Dengan orang Ateis saja kita bisa hidup bersahabat, apalagi dengan para penganut agama lain yang sama-sama masih percaya kepada Tuhan.

Artinya, untuk bertoleransi, Anda sebenarnya tidak perlu meyakini kebenaran agama orang lain. Toleransi itu meniscayakan adanya penghargaan, bukan pengakuan. Saya tidak mengakui kebenaran agama Anda. 

Tapi, meski begitu, saya bisa memperlakukan Anda seperti halnya saya memperlakukan orang-orang yang seagama dengan saya. Keyakinan Anda saya tolak, tapi Anda bisa saya pandang sebagai sahabat. Adakah yang sulit dengan sikap seperti itu? Tidak ada. Buktinya, saya bisa.  

Lalu apakah salah kalau kita meyakini agama kita sebagai agama yang paling benar? Saya ingin dengan tegas berkata tidak. 

Yang salah itu kalau Anda memperlakukan umat agama lain dengan cara-cara yang tidak benar hanya karena soal keyakinan yang tidak Anda anggap benar. Selama Anda mampu bersikap dengan benar, memperlakukan mereka dengan cara-cara yang benar, berkata kepada mereka dengan kata-kata yang benar, tentu tidak ada yang salah.

Bahkan, sebagai seorang muslim Anda harus meyakini itu. Sebagai seorang muslim, Anda harus percaya bahwa agama Anda adalah agama yang benar, dan di luar Islam adalah agama yang salah. Tapi, sekali lagi, dengan keyakinan seperti itu, Anda dituntut untuk hidup berdamai dengan mereka. 

Tidak memandang mereka sebagai musuh, juga tidak memastikan mereka sebagai calon ahli neraka. Karena hidayah Tuhan bukan ada di tangan kita. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang juga punya kesempatan yang sama untuk memperoleh hidayah dari Tuhan.

Melalui uraian ini, saya hanya ingin menegaskan dengan setegas-tegasnya bahwa keyakinan dan hubungan sosial itu merupakan dua hal yang berbeda. Tidak usah dicampuradukkan. Anda bisa saja meyakini agama seseorang itu sesat dan menyimpang, tapi dalam saat yang sama, Anda bisa bersahabat baik dengan orang itu, sesuai dengan tuntunan agama yang Anda peluk.

Menjenguk dia ketika dia sakit, memberinya hadiah ketika dia sedih, mengucapkan hari selamat ketika dia merayakan hari raya, memberinya makanan ketika dia dalam keadaan lapar, membantu dia ketika dia sedang membutuhkan bantuan, dan lain sebagainya. Itu semua bisa Anda lakukan dengan keyakinan bahwa agama Anda adalah agama yang paling benar, dan agama dia adalah agama yang salah.

Jika Anda seorang non-muslim, Anda juga punya hak untuk memandang agama saya sebagai agama yang salah. Dan pandangan seperti itu sama sekali tidak akan menodai persahabatan yang terajut di antara kita. Kalaupun Anda memandang saya sebagai orang kafir, saya tidak keberatan. 

Karena memang faktanya saya kafir dengan agama Anda. Sebagaimana Anda juga kafir dengan agama saya. Apa yang salah dengan itu? Tidak ada. Orang bebas berkeyakinan apa saja selama keyakinan itu tidak diekspresikan dengan kata-kata dan tindakan yang bisa membuat orang lain terluka.

Anda tidak perlu memandang benar agama saya sebagaimana saya juga tidak akan memandang benar agama Anda. Tapi mari kita hidup bersaudara. Mari kita rajut kemesraan sebagai sesama hamba Tuhan. Dan kalaulah kita harus terlibat dalam perdebatan soal keyakinan, marilah kita diskusikan perbedaan keyakinan itu dengan spirit persahabatan. 

Tidak perlu ada amarah. Tidak perlu ada rasa benci. Karena kita semua pada hakikatnya diciptakan oleh Tuhan yang sama. Dan kita semua terajut oleh ikatan persaudaraan yang sama, sebagai anak-cucu Adam, dan sebagai hamba Allah.